![]()
![]()

2.1. KEADAAN GEOGRAFIS PROPINSI JAWA TENGAH
Jawa Tengah merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang letaknya cukup strategis karena berada di daratan padat Pulau Jawa, diapit oleh dua propinsi besar Jawa Barat dan Jawa Timur, dan satu daerah istimewa Yogyakarta. Sepanjang bagian utara dan selatan terbentang pantai yang cukup panjang.
Dengan luas wilayah kurang lebih 3.254.412 Ha Propinsi Jawa Tengah terbagi dalam 29 kabupaten dan 6 kota dengan 553 kecamatan 8.550 desa/kelurahan. Daerah yang terluas adalah Kabupaten Cilacap dengan luas 213.851 Ha atau sekitar 6,57 persen dari luas total Propinsi Jawa Tengah. Sedangkan Kota Magelang merupakan daerah yang memiliki wilayah paling kecil yaitu hanya seluas 1.812 Ha. Topografi Propinsi Jawa Tengah terdiri dari wilayah daratan sebagai berikut :
· ketinggian antara 0-100 m dari permukaan laut yang memanjang di sepanjang Pantai Utara dan Selatan seluas 53,3 %,
· ketinggian 100-500 m dari permukaan laut yang memanjang pada bagian tengah pulau seluas 27,4 %,
· ketinggian 500-1.000 m dari permukaan laut seluas 14,7 %
· ketinggian di atas 1.000 m dari permukaan laut seluas 4,6 %.
Luas Penggunaan Lahan di Jawa Tengah dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2001 dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel Penggunaan Lahan di Jawa Tengah Tahun 1997 - 2001
|
Tahun |
Lahan Sawah (Ha)
|
Bukan Lahan Sawah (Ha) |
|
1997 |
999. 897 |
2 .254. 515 |
|
1998 |
1. 000. 385 |
2 .254. 027 |
|
1999 |
1. 002. 306 |
2 .252. 106 |
|
2000 |
998.008 |
2 .256. 404 |
|
2001 |
999.136 |
2. 255. 276 |
Luas lahan sawah di Propinsi Jawa Tengah sebesar 999 ribu hektar (30,70 persen) dan lahan bukan sawah 2,26 juta hektar (69,30). Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, luas lahan sawah tahun 2001 berkembang sebesar 0,11 persen, sebaliknya luas bukan lahan sawah menurun sebesar 0,05 persen. Menurut penggunaannya sebagian besar lahan sawah digunakan sebagai lahan sawah berpengairan teknis (38,48 persen), selainnya berpengairan setengah teknis, sederhana, tadah hujan dan lain-lain.
Adapun luas penggunaan lahan bukan sawah dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
|
Pemanfaatan Tanah |
Th.1997 (ha) |
Th.1998 (ha) |
Th. 1999 (ha) |
Th. 2000 (ha) |
Th.2001 (ha) |
|
Bangunan/ Pekarangan |
571.354 |
572.327 |
571.421 |
580.079 |
581.491 |
|
Tegal/Kebun |
776.038 |
769.840 |
766.599 |
755.394 |
760.180 |
|
Ladang/Huma |
5.638 |
5.120 |
7.251 |
5.889 |
5.769 |
|
Padang rumput |
2. 680 |
2.297 |
2.699 |
6.322 |
3.699 |
|
Sementara tidak diusahakan |
2.056 |
6.656 |
2.938 |
2.844 |
2.686 |
Tanah pekarangan/ bangunan dari tahun 1997 hingga tahun 2001 cenderung meningkat. Tanah pekarangan ini cenderung menjadi pengguna air, karena akan menjadi tempat pemukiman manusia yang selalu membutuhkan air dalam kehidupannya. Penambahan tanah tadi diambil dari lahan-lahan yang merupakan produsen pangan (lahan pertanian) selain merupakan reservoir air (hutan dan perkebunan) yang justru akan menurun. Untuk itu maka perlu diwaspadai akan rasio kebutuhan air dan air yang tersedia dibumi Jawa Tengah ini, manajemen pemakaian air harus lebih ditingkatkan. Perumahan dengan sistem bertingkat merupakan salah satu pilihan alternatif yang memadai, karena system ini lebih sedikit menggunakan lahan yang potensial bagi reservoir air dan pangan.
Grafik Penggunaan Lahan Bukan Sawah 
di Propinsi Jawa Tengah Tahun 1997 - 2001
Sumber : BPS Propinsi Jawa Tengah Tahun 2001
2.2. KEPENDUDUKAN
2.2.1. Pertumbuhan, Kepadatan dan Sex Ratio Penduduk
2.2.1.1. Pertumbuhan Penduduk
Berdasarkan data dari BPS Propinsi Jawa Tengah tahun 2001, jumlah penduduk di Jawa Tengah tahun 2001 adalah 31.063.818 jiwa. Dibanding tahun 2000 terjadi penambahan jumlah penduduk sebesar 0,94 persen. Sedangkan jumlah penduduk tahun 1999 menggunakan data dari hasil registrasi penduduk sehingga tidak bisa dibandingkan. Seiring dengan naiknya jumlah penduduk, maka jumlah rumah tangga juga mengalami kenaikan dari sebesar 7,80 juta pada tahun 2000 menjadi 7,99 juta pada tahun 2001 atau naik sekitar 2,44 persen. Jumlah penduduk tahun 2001 yang tertinggi di Kabupaten Brebes dan terendah di Kota Magelang, jumlah penduduk tahun 2001 untuk Kabupaten Brebes sebanyak 1.613.964 jiwa dan Kota Magelang sebanyak 116.800 jiwa.
Grafik Pertumbuhan Penduduk
Propinsi Jawa Tengah Tahun 1999 –2001
di Jateng yang telah konfirmasikan dengan Kantor Statistik Prov. Jateng untuk tahun sebelumnya
Laju pertumbuhan penduduk di Jawa Tengah secara umum relatif kecil yaitu dibawah 1 persen atau dibawah angka nasional yang mencapai 1,35 persen. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, pertumbuhan penduduk Jawa Tangah tahun 2001 sebesar 0,94 persen mengalami penurunan. Kondisi tersebut memberi arti bahwa pembangunan kependudukan di Jawa Tengah khususnya usaha menurunkan jumlah kelahiran memberi hasil nyata, yaitu melalui program Keluarga Berencana.
2.2.1.2. Kepadatan Penduduk
Penduduk Jawa Tengah belum menyebar secara merata di seluruh wilayah Propinsi Jawa Tengah. Pada umumnya penduduk banyak menumpuk didaerah kota dibandingkan kabupaten. Secara rata-rata kepadatan penduduk Jawa Tengah tercatat sebesar 955 jiwa setiap kilometer persegi, dan wilayah terpadat adalah Kota Surakarta dengan tingkat kepadatan sebesar 11.127 setiap kilometer persegi, sedangkan wilayah terjarang penduduknya adalah Kabupaten Blora yaitu sebesar 453 jiwa per kilometer persegi. Data rinci mengenai kepadatan penduduk menurut kabupaten/kota dapat dilihat pada tabel 2A.
2.2.1.3. Sex Ratio Penduduk
Perkembangan penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat dari perkembangan ratio jenis kelamin, yaitu perbandingan penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan. Rata-rata ratio jenis kelamin penduduk Jawa Tengah tahun 2001 sebesar 99, hal ini menggambarkan bahwa jumlah penduduk perempuan lebih besar dibandingkan jumlah penduduk laki-laki. Data rinci mengenai sex ratio menurut kabupaten/kota dapat dilihat pada tabel 1B.
2.2.2. Struktur Penduduk Menurut Golongan Umur
Struktur penduduk Jawa Tengah menurut golongan umur dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel Struktur Penduduk Jawa Tengah
menurut Golongan Umur Tahun 1999-2001
|
Golongan Umur (Th) |
Tahun 1999 |
Tahun 2000 |
Tahun 2001 |
|
<1 |
532.700 |
470.099 |
528.153 |
|
1 - 4 |
2.307.254 |
2.007.584 |
2.148.007 |
|
5 - 14 |
6.676.701 |
6.219.667 |
6.279.900 |
|
15 - 44 |
14.712.326 |
14.914.066 |
14.791.458 |
|
45 – 64 |
5.036.816 |
5.269.237 |
5.353.495 |
|
65 ke atas |
2.052.056 |
1.894.293 |
1.962.805 |
|
Total |
31.317.853 |
30.774.946 |
31.063.818 |
Sumber : BPS Propinsi Jawa Tengah, Hasil Pengolahan Susenas 2001 dan Data Profil Kesehatan Kab/Kota di Jateng yang telah konfirmasikan dengan BPS Propinsi Jawa Tengah untuk tahun sebelumnya (tahun 1999 hasil registrasi penduduk)
Penduduk berumur kurang dari 1 tahun di Jawa Tengah tahun 2001 terlihat bertambah sekitar 12 persen bila dibandingkan dengan penduduk umur yang sama pada tahun 2000. Adapun perbandingan komposisi proporsional penduduk Propinsi Jawa Tengah menurut usia produktif pada tahun 1999 sampai 2001 dapat dilihat pada tabel berikut :
|
Kelompok Usia (tahun) |
Tahun 1999 |
Tahun 2000 |
Tahun 2001 |
|
0 – 14 |
30,4 % |
28,26 % |
28,83 % |
|
15 – 64 |
63,1 % |
65,58 % |
64,85 % |
|
65 keatas |
6.5 % |
6,15 % |
6,32 % |
Sumber : BPS Propinsi Jawa Tengah Tahun 2000 dan Data Profil Kesehatan Kab/Kota di
Jateng yang telah konfirmasikan dengan BPS Propinsi Jawa Tengah untuk tahun sebelumnya
Dari tabel tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk menurut kelompok umur dibawah 15 tahun bertambah bila dibanding tahun 2000 yaitu sebesar 28,83 persen dari tahun sebelumnya tahun 2000 sebesar 28,26 persen. Demikian pula untuk penduduk usia lanjut (kelompok umur diatas 65 tahun) dari 6,15 persen menjadi 6,32 persen.

2.3. ANGKA KELAHIRAN KASAR (CBR)
Hingga saat ini masih belum didapat angka resmi mengenai tingkat kelahiran kasar per tahun di Jawa Tengah. Berdasarkan perkiraan/estimasi dari Badan Pusat Statistik Jawa Tengah tahun 1999 adalah 17,983 per 1000 penduduk. Angka tersebut lebih kecil dibandingkan dengan tahun 1995 (sebesar 21,226 per 1000 penduduk).
2.4. KEADAAN SOSIAL EKONOMI
2.4.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi biasanya dilihat dari pertumbuhan angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) baik atas dasar harga berlaku maupun berdasarkan atas dasar harga konstan. Dari data sementara BPS, angka PDRB Jawa Tengah tahun 2001 atas dasar harga berlaku tercatat sekitar 136,13 trilyun rupiah sedangkan atas dasar harga konstan (tahun 1993 sebagai tahun dasar) tercatat sebesar 42,31 trilyun rupiah. PDRB menurut lapangan usaha atas dasar harga konstan tahun 1993 yaitu dari 39,013 triliun rupiah

menjadi 43,129 triliun pada tahun 1997, dan turun menjadi 37.953 trilyun pada tahun 1998 akibat dari krisis ekonomi. Berikut ini disajikan grafik perkembangan PDRB Jateng (dalam milyar) dari tahun 1997 – 2001 seperti berikut :
Berdasarkan harga konstan tahun 1993, dari data sementara laju pertumbuhan PDRB tahun 2001 sudah menunjukkan kenaikan dari tahun 2000 yaitu sebesar 3,35 persen setelah tahun 1998 mengalami penurunan sebesar 12,37 persen.
Apabila dihitung menurut harga yang berlaku, PDRB Jawa Tengah pada tahun 2001 mencapai 136,13 trilyun meningkat dari tahun 2000 sebesar 117,75 trilyun.
Seiring dengan pesatnya pembangunan di berbagai sektor, baik sektor industri, perumahan dan lain-lain[DJ1] menyebabkan permintaan produk listrik, gas dan air minum meningkat pesat. Secara persentase kenaikan sektor listrik, gas dan air minum mengalami kenaikan yang paling tinggi bila dibandingkan dengan sektor lainnya. Dilihat dari kenaikan Produk Domestik Regional Bruto di atas diharapkan peningkatan pertumbuhan ekonomi tersebut dapat pula meningkatkan taraf hidup atau kesejahteraan masyarakat. Demikian pula dengan meningkatnya kemampuan pembiayaan oleh masyarakat diharapkan dapat lebih mengembangkan dana sehat dan asuransi kesehatan, disamping tetap dikembangkan upaya pelayanan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
2.4.2. Angka Beban Tanggungan
Dibandingkan dengan tahun 2000 angka beban tanggungan (dependency ratio) penduduk Propinsi Jawa Tengah tahun 2001 terjadi kenaikan yaitu dari 52 menjadi 54. Angka ini bermakna bahwa pada tahun 2001, 100 penduduk usia produktif menanggung 54 penduduk usia tidak produktif. Angka beban tanggungan terendah Kota Semarang yaitu sebesar 43 dan tertinggi di Kabupaten Kebumen sebesar 64. Dengan melihat angka-angka tersebut dan kelompok penduduk produktif dapat diketahui bahwa pada tahun 2001 ini jumlah beban tanggungan dari angkatan kerja cenderung naik, sehingga dapat digambarkan bahwa jumlah penduduk yang tergantung makin tinggi . Data secara rinci dapat dilihat pada tabel 1B.
2.4.3. Tingkat Pendidikan
Pada tahun 2001 jumlah penduduk laki-laki dan perempuan berusia 10 tahun keatas yang buta huruf sebesar 3.724.330 orang, tidak/belum pernah sekolah sebesar 3.354.161 orang, tidak tamat/belum tamat SD/MI sebesar 6.244.206 orang, tamat SD/MI sebesar 8.827.623 orang, tamat SLTP sebesar 3.508.102, tamat SLTA sebesar 2.761.190 orang dan tamat Akademi/Perguruan Tinggi sebesar 697.247 orang.
Secara terpisah jumlah penduduk perempuan berusia 10 tahun ke atas tahun 2001 yang buta huruf sebesar 2.584.670 orang, tidak/belum pernah sekolah 2.363.949 orang, tidak tamat/belum tamat SD/MI sebesar 3.121.124 orang, tamat SD/MI sebesar 4.334.495 orang, SLTP sebesar 1.623.408, SLTA sebesar 1.158.416 orang dan tamat Akademi / Perguruan Tinggi sebesar 297.398 orang. Dibandingkan dengan tahun 2000 jumlah penduduk perempuan yang tamat SD, SLTP, SLTA dan AK/PT mengalami sedikit peningkatan.
Berikut ini disajikan grafik jumlah penduduk perempuan berusia 10 tahun ke atas menurut tingkat pendidikan di Propinsi Jawa Tengah tahun 1997 - 2001 :

Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa tahun 2001 terjadi sedikit peningkatan pada tingkat pendidikan akademi/perguruan tinggi. Hal ini merupakan kecenderungan yang semakin membaik.
2.5. KEADAAN LINGKUNGAN MASYARAKAT
Kondisi lingkungan mempunyai peranan yang cukup besar dalam mempengaruhi derajat kesehatan disamping perilaku masyarakat itu sendiri. Dan sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan lingkungan termasuk pula higiene dan sanitasi sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan cara hidup masyarakat. Sarana kesehatan lingkungan dalam 2 (dua) tahun terakhir kondisinya meningkat, meskipun peningkatan terjadi dengan sangat lamban.
Beberapa indikator penting kesehatan lingkungan dapat dikemukakan sebagai berikut :
2.5.1. Penyediaan Air Bersih
Cakupan air bersih tahun 2001 sebesar 75,18 % mengalami kenaikan 1,01 % dibanding dengan cakupan air bersih tahun 2000. Peningkatan cakupan air bersih agak lamban karena peningkatan cakupan masih tergantung sektor lain, laju perkembangan sarana air bersih lamban dan swadaya masyarakat masih rendah.
Hasil uji petik kualitas air bersih dari segi fisik, kimia dan bakteriologis yang dilakukan terhadap 9.247 sarana air bersih adalah yang memenuhi syarat fisik 85,76 %, kimia 93,32 % dan bakteriologis 56,03 %. Data terperinci dapat dilihat pada tabel 4 C.
Hasil inspeksi sanitasi yang dilakukan terhadap 161.153 sarana air bersih (SAB) diketahui 7,43 % SAB mempunyai tingkat resiko pencemaran amat tinggi, 10,97 % tinggi, 39,36 % sedang dan 41,43 % rendah. Data terperinci dapat dilihat pada tabel 4D.
Keadaan penyediaan air bersih seperti di atas sebagian besar sudah berada di atas target nasional, yaitu target nasional rata – rata cakupan air bersih sebesar 75 %, target uji petik kualitas air bersih 80 % SAB memenuhi syarat fisik dan 70 % memenuhi syarat kimia, target 80 % SAB mempunyai tingkat resiko pencemaran sedang dan rendah. Sedangkan target 50 % SAB memenuhi syarat bakteriologis masih belum terpenuhi. Berikut disajikan grafik prosentase penggunaan Sarana Air Bersih oleh penduduk Jawa Tengah dari tahun 1999 – 2001 :

Sumber : Hasil Kompilasi Data Profil Kesehatan Kabupaten/kota se- Jawa Tengah Tahun 2001
2.5.2. Tempat Buang Air Besar (BAB), SPAL dan Rumah Sehat
Pembuangan kotoran baik air limbah dan tinja yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menyebabkan rendahnya kualitas air, serta dapat menimbulkan penyakit menular di masyarakat. Tempat buang air besar (BAB), SPAL dan rumah sehat merupakan sarana penyehatan lingkungan pemukiman (PLP).
Kondisi sarana penyehatan lingkungan pemukiman di Jawa Tengah tahun 2001 dibanding dengan tahun 2000 ada kenaikan, sebagai berikut :
- Jumlah KK yang telah memanfaatkan jamban untuk tempat Buang Air Besar (BAB) yang memenuhi syarat 64,24 %, ada kenaikan sebesar 2,12 %.
- Jumlah KK dengan kondisi SPAL yang memenuhi syarat 39,25 %, ada kenaikan sebesar 0,08 %.
- Jumlah KK dengan kondisi rumah memenuhi syarat 60,98 %, ada kenaikan sebesar 2,76 %.
Kondisi penyehatan lingkungan pemukiman seperti di atas masih dibawah target nasional. Adapun target nasional rata – rata cakupan jamban keluarga adalah 67,5 %. Target rata – rata cakupan SPAL adalah 67,5 % dan target rata – rata cakupan rumah sehat adalah 62,5 %.
2.5.3. Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
Tempat pembuangan sampah sementara di Jawa Tengah tahun 2001 yang memenuhi syarat 78,84 %, ada kenaikan sebesar 6,63 %. Sedangkan pengelolaan sampah pada tempat pembuangan akhir secara berurutan berdasarkan besarnya prosentase adalah sebagai berikut yaitu control landfill 93,82 %, incenerasi (pembakaran) 79,66 %, dan open dumping 61,26 %. Data terperinci pada tabel 5B.
2.5.4. Tempat Pengelolaan Makanan (TPM), Tempat-Tempat Umum (TTU) dan Tempat Pengelolaan Pestisida (TP. Pestisida), Kawasan Industri dan Industri Kecil
Peranan TPM, TTU dan TP. Pestisida cukup besar dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Banyak kasus penyakit dan gangguan kesehatan lain terjadi erat hubungannya dengan pengelolaan tempat – tempat tersebut. Beberapa penyakit / gangguan kesehatan yang berkaitan dengan pengelolaan TPM, TTU dan TP. Pestisida, antara lain : keracunan makanan, keracunan pestisida, infeksi nosocomial, oleh karena itu perlu dijaga dan ditingkatkan kualitas sanitasi pada tempat – tempat tersebut.
Pada tahun 2001, jumlah TPM di Jawa Tengah sebanyak 51.342 tempat dan terjadi penambahan sebanyak 3.059 tempat dibanding tahun 2000 (49.283 tempat). Dari jumlah tersebut yang diperiksa sebanyak 34.781 tempat. Sedang yang memenuhi syarat kesehatan 22.964 (66,02 %). Adapun macam tempat pengelolaan makanan (TPM) adalah jasa boga, restoran/rumah makan, makanan jajanan dan industri makanan rakyat.
Untuk jasa boga sampai tahun 2001 kategori terdaftar golongan B = 286 perusahaan, kategori tak terdaftar (tidak diketahui) > 1.000 perusahaan, yang memiliki ijin golongan B dan C = 1 perusahaan.
Disamping pemeriksaan TPM, selama tahun 2001 telah dilakukan uji petik pemeriksaan bakteriologis terhadap air bersih, air minum, makanan, rectal swab, usap kuku, usap alat pada jasa boga di 8 (delapan) kabupaten/kota, terhadap 144 sampel, hasil pemeriksaan 32 sampel (22,22 %) tidak memenuhi syarat, yang antara lain menunjukkan adanya kontaminan oleh staphylococcus, streptococcus, vibrio sp, salmonella dan Escherichia coli.
Jumlah TTU di Jawa Tengah Tahun 2001 sebanyak 84.162 buah. Jumlah TTU yang diperiksa sebanyak 49.368 buah. Adapun hasil pemeriksaan adalah 74,81 % memenuhi syarat kesehatan, itu berarti secara kualitas keadaan kesehatan TTU mengalami kenaikan, karena pada tahun 2000 TTU yang memenuhi syarat mencapai 68,26 %.
Selanjutnya Tempat Pengelolaan (TP) Pestisida di Jawa Tengah Tahun 2001 sebanyak 4.516 buah. Jumlah TP. Pestisida yang diperiksa sebanyak 3.867 buah. Adapun hasil pemeriksaan adalah 72,34 % memenuhi syarat kesehatan, itu berarti secara kualitas keadaan TP. Pestisida mengalami kenaikan, karena pada tahun 2000 TP. Pestisida yang memenuhi syarat mencapai 71,99 %.
Untuk kawasan industri / lingkungan industri tahun 2001 terdaftar 6.264, jumlah yang diperiksa 2.845 (45,42 %) dengan keadaan kesehatan lingkungan industri 2.110 (74,17 %) memenuhi syarat. Sedangkan untuk industri kecil / rumah tangga tahun 2001 di Jawa Tengah terdaftar 16.976, diperiksa 10.876 (64,07 %) dan yang mempunyai IPAL 4.907 (45,12 %).
Jumlah dan prosentase TPM, TTU, TP. Pestisida, kawasan industri dan industri kecil yang memenuhi syarat kesehatan diperinci menurut Kabupaten/ Kota dapat dilihat pada tabel 5C dan 5D. Berikut ini disajikan grafik prosentase jumlah TPM, TTU, TP. Pestisida yang memenuhi syarat kesehatan di Jawa Tengah tahun 1999 - 2001 :

Sumber : Hasil Kompilasi Data Profil Kesehatan Kabupaten/Kota se- Jawa Tengah Tahun 2001
<<<<
Daftar Isi
Kembali ke
Atas