![]()
Untuk memberikan gambaran tentang situasi derajat kesehatan masyarakat di Jawa Tengah, berikut ini diuraikan tentang Umur Harapan Hidup, Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate), serta keadaan beberapa penyakit yang banyak ditemukan di masyarakat. Keadaan tersebut meliputi angka kesakitan, pola penyakit dari penderita yang rawat jalan di puskesmas, penderita rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit, serta frekuensi Kejadian Luar Biasa (KLB) yang terjadi.
1. Umur Harapan Hidup (EO)
Berdasarkan estimasi yang dilakukan BPS Propinsi Jawa Tengah, Umur Harapan Hidup Waktu Lahir penduduk Jawa Tengah Tahun 1999 adalah 67,97 tahun, menjadi 68,20 pada tahun 2000 . Dengan demikian, dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, umur harapan hidup waktu lahir penduduk Jawa Tengah telah meningkat sebesar 0,88 tahun, yaitu dari 67,32 tahun (1995) menjadi 68,20 tahun (2000)
2. Angka Kematian
Salah satu alat untuk menilai keerhasilan program pembangunan kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini adalah dengan melihat perkembangan angka kematian dari tahun ke tahun. Besarnya tingkat kematian dan penyakit yang terjadi pada periode terakhir dapat dilihat dari berbagai uraian berikut ini.
Angka Kematian Bayi
Angka Kematian Bayi merupakan banyaknya kematian bayi umur < 1 tahun per 1.000 kelahiran hidup pada waktu tertentu. Menurut data dari Laporan Pembangunan Manusia Indonesia tahun 1996 (BPS dan UNDP), angka kematian bayi di Jawa Tengah pada tahun 1990 sebanyak 40 per 1.000 kelahiran hidup. Tahun 1996, angka tersebut turun menjadi 29 per 1.000 kelahiran hidup.
Berdasarkan data umum daerah (BPS Propinsi Jawa Tengah, 1999), estimasi Angka Kematian Bayi di Jawa Tengah Tahun 1995 sebesar 39,31 per 1.000 kelahiran hidup dan pada tahun 1999 sebesar 36,67 per1.000 kelahiran hidup. Berdasarkan estimasi tersebut maka selama kurun waktu tersebut telah terjadi penurunan angka kematian bayi sebesar 2,64 per 1.000 kelahiran hidup.
Berdasarkan laporan rutin dari kab/kota (Dinas kesehatan) angka kematian bayi tahun 2000 sebesar 7,87 per 1.000 kelahiran hidup. Berdasarkan laporan kegiatan perinatologi di RSU dan RSB (tabel 13D) angka kematian perinatal sebesar 3,17 per 1.000 kelairan hidup, penyebab kematian tebesar adalah BBLR sebesar 32, 50 %
Angka kematian Bayi cendrung menurun, sebagai akibat dari hasil pelaksanaan pembangunan di segela bidang, termasuk intervensi program kesehatan yang sangat intensif dilaksanakan.
Angka Kematian Ibu Bersalin
Angka Kematian Ibu Bersalin menggambarkan status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan dan tingkat pelayanan kesehatan terutama ibu hamil, ibu melahirkan dan ibu nifas. Berdasarkan SKRT tahun 1995 Angka Kematian IBU adalah 3.73 per 1.000 kelahiran hidup, sementara menurut Hasil Survei Demografi Kesehatan tahun 1994 adalah 3,90 per1.000 kelahiran hidup.
Berdasarkan laporan rutin KIA yang diterima Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, angka kematian ibu tahun 2000 sebesar 1,25 per 1.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian ibu bersalin di RSU dan RSB sebesar 0,76 per 1.000 kelahiran idup.
Angka Kematian Kasar
Berdasarkan estimasi BPS Propinsi Jawa Tengah, angka Kematian Kasar penduduk Jawa Tengah Tahun 1999 adalah 4,037 per 1.000 penduduk. Dibandingkan Tahun 1995, yakni 6,314 per 1.000 penduduk, maka dalam 4 tahun terakhir telah terjadi penurunan angka kematian kasar di Jawa Tengah sebesar 2,277 per 1.000 penduduk. Apabila estimasi tersebut akurat, maka penurunan yang terjadi sangat significant.
3. Angka Kesakitan dan Keadaan Penyakit
Campak
Tabel Penderita Penyakit Campak rawat jalan Puskesmas menurut Kelompok Umur di Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2001
|
No |
Nama Penyakit |
Kelompok Umur |
Rwt Jln Pusk |
Proporsi |
Urutan ke |
|
1. |
Campak |
0 - < 28 Hri |
14 |
0,05 |
34 |
|
|
|
28 - < 1 Th |
425 |
0,06 |
42 |
|
|
|
1 – 4 Th |
785 |
0,05 |
46 |
|
|
|
5 - < 60 Th |
130 |
0,00 |
63 |
|
|
|
>= 60 Th |
138 |
0,01 |
64 |
|
JUMLAH |
797 |
|
|
Penyakit Campak pada Penderita Rawat Jalan di Puskesmas untuk Kelompok Umur 0 - < 28 hari pada tahun 2001 menempati urutan ke-34 dengan penderita sebanyak 14 (0,05%). Sedangkan untuk Kelompok Umur 28 hari - < 1 tahun menempati urutan ke-42 dengan penderita sebanyak 425 kasus (0.06%), untuk KelompokUmur 1 – 4 Tahun menempati urutan ke-46 dengan penderita sebanyak 785 kasus (0,05%), untuk Kelompok Umur 5 - < 60 tahun menempati urutan ke-63 dengan penderita sebanyak 130 kasus, selanjutnya untuk KelompokUmur > = 60 tahun menempati urutan ke-64 dengan jumlah penderita sebanyak 138 kasus (0,01%). Sedangkan menurut data Tabel 10A jumlah penderita baru rawat jalan menurut 28 Jenis Penyakit Yang diamati Di Puskesmas ditemukan penderita penyakit Campak untuk semua Kelompok Umur sebanyak 5.108 penderita. Jumlah penderita terbanyak adalah pada Kelompok Umur 5 – 14 tahun sebanyak 1.752 orang (34,29%), diikuti oleh Kelompok Umur 1 – 4 tahun sebanyak 1.735 orang (33.97%) dan Kelompok Umur 15 - 44 tahun sebanyak 783 orang (15.33%). Kejadian tersebut dapat terjadi kemungkinan anak belum optimalnya pelaksanaan imunisasi Campak, karena Cakupan Imunisasi Campak di Provinsi Jawa Tengah belum mencapai 100 % (baru mencapai 90.14 %).
Tabel Penderita Penyakit Campak di Provinsi Jawa Tengah
Menurut Kelompok Umur dan Tempat Perawatan, Tahun 2001
|
|
|
|
Tempat Perawatan |
||
|
No |
Nama Penyakit |
Kelompok Umur |
Rwt Jln Pusk |
Rwt Jln R S |
Rwt Inap RS |
|
1. |
Campak |
0 - < 28 Hri |
14 |
4 |
0 |
|
|
|
28 - < 1 Th |
425 |
134 |
35 |
|
|
|
1 – 4 Th |
785 |
168 |
119 |
|
|
|
5 - < 60 Th |
130 |
0 |
18 |
|
|
|
>= 60 Th |
138 |
0 |
0 |
|
JUMLAH |
1492 |
276 |
172 |
||
Penyakit Campak pada penderita rawat jalan di Rumah Sakit, untuk Kelompok Umur 0 – < 28 Hari menempati urutan ke-37 dengan penderita sebanyak 4 orang (0.04%), Kelompok Umur 28 Hari - < 1 Tahun menempati urutan ke-24 dengan penderita sebanyak 134 orang (0.29 %), dan untuk Kelompok Umur 1 – 4 Tahun menempati urutan ke-32 dengan penderita sebanyak 138 kasus (0.17%), sedang pada Kelompok Umur 5 - < 60 Tahun dan > = 60 Tahun tidak terdapat kasus campak.
Bagi penderita rawat inap di Rumah Sakit, Kelompok Umur 0 - < 28 Hari, tidak ditemukan penderita Campak, untuk Kelompok Umur 28 Hari - < 1 Tahun menempati urutan ke-25 dengan penderita sebanyak 35 kasus (0.15%), untuk Kelompok Umur 1 – 4 Tahun menempati urutan ke-21 dengan penderita sebanyak 119 orang (0,41%), dan untuk Kelompok Umur 5 - < 60 Tahun menempati urutan ke-60 dengan penderita sebanyak 18 orang (0.02%), dan untuk Kelompok Umur > = 60 Tahun tidak ditemukan kasus campak.
Tuberculosis
Berdasarkan tabel 10 A,B dan C Jumlah penderita TB Paru baru di Jawa Tengah yang ditemukan sebanyak 66.209, terdiri dari 10.975 (16.58%) penderita TB Paru BTA (+) dan 55.234 (83,24%) penderita TB Paru Klinis. Sedang jumlah penderita baru TB Paru rawat jalan di Rumah Sakit di Jawa Tengah yang ditemukan sebanyak 21.127, terdiri dari 5.060 (23.95%) penderita TB Paru BTA (+) dan 16.067 (76,05%) penderita TB Paru Klinis. Penderita TB Paru yang menjalani rawat jalan inap di Rumah Sakit sebanyak 8.091, terdiri dari 1.440 (17,79%) penderita TB Paru BTA (+) dan 6.651 (82,2%) penderita TB Paru Klinis, dengan jumlah keatian sebanyak 504 (6,235).
Walaupun proporsi penderita TB Paru BTA (+) jauh lebih kecil dibanding dengan penderita TB Paru Klinis, namun hal ini perlu diwaspadai karena penderita TB Paru BTA (+) merupakan sumber penularan disekitarnya.
Dalam hal pengobatan, sebagian besar penderita TB Paru tercatat sebagai penderita rawat jalan di Puskesmas. Pada penderita TB Paru BTA (+), yang merupakan penderita rawat jalan di puskesmas sebanyak 62,80%, sedangkan yang rawat jalan di Rumah sakit hanya 28,95% dan yang rawat inap sebanyak 8,24%. Pada penderita Klinis, yang rawat jalan di puskesmas 70,88%, rawat jalan Rumah sakit 20,60%, dan yang rawat inap di Rumah sakit sebanyak 8,53%.
Tabel Penderita Penyakit TBC di Provinsi Jawa Tengah
Menurut Kelompok Umur dan Tempat Perawatan, Tahun 2000
|
|
|
|
Tempat Perawatan |
||
|
No |
Nama Penyakit |
Kelompok Umur |
Rwt Jln Pusk |
Rwt Jln R S |
Rwt Inap RS |
|
1. |
TBC Paru |
< 1 th |
|
|
|
|
|
BTA (+) |
1 - 4 Th |
|
|
|
|
|
|
5 – 14 Th |
|
|
|
|
|
|
15 – 44 Th |
4.740 |
2.689 |
617 |
|
|
|
>= 45 Th |
6.235 |
2.371 |
823 |
|
JUMLAH |
10.975 |
5.060 |
1.440 |
||
|
2. |
TBC Paru |
< 1 th |
689 |
1.852 |
60 |
|
|
Klinis |
1 - 4 Th |
3.545 |
3.164 |
275 |
|
|
|
5 – 14 Th |
10.284 |
2.469 |
219 |
|
|
|
15 – 44 Th |
18.693 |
5.284 |
2.819 |
|
|
|
>= 45 Th |
22.077 |
3.298 |
3.278 |
|
|
|
JUMLAH |
55.288 |
16.067 |
6.651 |
Sumber : Data Profil Kesehatan Kabupaten / Kota Provinsi Jawa Tengah, 2001
Dalam hal umur penderita, sebagian besar penderita TB Paru BTA (+) berumur diatas 45 tahun, yaitu sebanyak 9.429 penderita (53.96%). Demikian juga halnya dengan penderita TB Paru, yaitu sebanyak 28.653 penderita (36,73%).
Difteri
Jumlah penderita baru difteri di Jawa Tengah yang dirawat di sarana pelayanan kesehatan sebanyak 111 penderita. Sebanyak 48 penderita (43.24%) menjalani rawat jalan di rumah sakit, 38 penderita (34,23%) menjalani rawat jalan di Puskesmas, dan 25 penderita (22,52%) adalah rawat inap di rumah sakit, dengan kematian sebanyak 3 kasus (2,70%).
Pada penderita yang berobat ke puskesmas, sebagian besar berumur 1- 4 tahun, yaitu sebanyak 16 penderita (42,11%). Selanjutnya adalah penderita yang berumur 15-44 tahun sebanyak 15 (39,47%), dan selebihnya berumur 1-4 tahun sebanyak 4 penderita (2,63%). Sedangkan dari 48 penderita yang mengalami rawat jalan di rumah sakit, 25 penderita (52,08%) berumur 15-44 tahun, 13 penderita (27,08%) berumur > 45 tahun, 5 penderita (10,42%) berumur 5-14 tahun, 4 penderita (8,33%) 1 – 4 tahun, dan 1 penderita (2,08%) berumur < 1 tahun.
Tabel Penderita Penyakit Difteri
di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2001
|
|
|
Tempat Perawatan |
||
|
Nama Penyakit |
Kelompok Umur |
Rwt Jln Puskesmas |
Rwt Jln RS |
Rwt Inap RS |
|
|
< 1 tahun |
1 |
1 |
2 |
|
|
1 – 4 tahun |
5 |
4 |
9 |
|
Difteri |
5 – 14 tahun |
16 |
5 |
7 |
|
|
15– 44 tahun |
15 |
25 |
5 |
|
|
> 45 tahun |
1 |
13 |
2 |
|
|
JUMLAH |
38 |
48 |
25 |
Sumber : Data Profil Kesehatan Kabupaten / Kota Provinsi Jawa Tengah, 2001
Tetanus Neonatorum
Penyakit Tetanus Neonatorum ditemukan pada Kelompok Umur 0 - < 28 hari pada tahun 2001, pada pasien rawat jalan di puskesmas ditemukan 5 kasus,pada pasien rawat jalan rumah sakit ditemukan 1 kasus,dan pada pasien rawat inap di rumah sakit ditemukan 15 kasus. Sedang berdasarkan tabel 10, jumlah penderita baru rawat jalan di puskesmas sebanyak 21 kasus, umlah penderita baru rawat jalan di rumah sakit sebanyak 25 kasus, dan jumlah pasien yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit sebanyak 56 kasus dengan kematian sebanyak 7 kasus. Berdasarkan Tabel 13D megenai laporan kegiatan perinatologi di RSU dan RSB, jumlah kematian karena Tetanus Neonatorum sebanyak 26 kasus .
Berdasarkan data di atas masih terdapat perbedaan dalam jumlah kasus dan kematian karena Tetanus Neonatorum yang kemungkinan terjadi karena kelemahan dalam sistem pencatatan dan pelaporan. Sehingga kebenaran data tersebut masih perlu dikonfirmasikan lebih lanjut.
Batuk rejan
Jumlah penderita Batuk rejan yang berobat ke sarana pelayanan kesehatan sebanyak 9.325. Dari jumlah tersebut yang merupakan penderita baru rawat jalan di puskesmas sebanyak 7569 penderita (81,17%), penderita baru rawat jalan di Rumah Sakit sebanyak 1697 penderita (18,19%), dan rawat inap di Rumah Sakit sebanyak 59 penderita (0,63%). Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa ada perbedaan yang sangat signifikan pada masyarakat dalam memilih sarana pelayanan bagi penderita Batuk Rejan.
Tabel Penderita Penyakit Batuk Rejan
di Provinsi Jawa Tengah Tahun 1999
|
|
|
Tempat Perawatan |
||
|
Nama Penyakit |
Kelompok Umur |
Rawat Jalan Puskesmas |
Rawat Jalan Rumah Sakit |
Rawat Inap Rumah Sakit |
|
|
< 1 tahun |
238 |
179 |
10 |
|
|
1-4 tahun |
828 |
256 |
12 |
|
Batuk Rejan |
5-14 tahun |
552 |
231 |
8 |
|
|
15-44 tahun |
1976 |
721 |
12 |
|
|
> 45 tahun |
3975 |
310 |
17 |
|
|
JUMLAH |
7569 |
1697 |
59 |
Sumber : Data Profil Kesehatan Kabupaten / Kota Provinsi Jawa Tengah, 2001
Malaria
Di Jawa tengah malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Selain berpotensi menimbulkan KLB, terdapat 13 Kabupaten yang endemis Malaria, Yaitu Cilacap, Banyumas, Kebumen, Purbalingga, Banjarnegara, Magelang, Purworejo, Jepara, Pekalongan, Wonosobo, Pati, Rembang, Boyolali.
Seperti ditunjukkan Tabel 14 a, dari 534.113 sediaan darah yang diperiksa di 35 kabupaten dan kota, yang positif ditemukan adanya plasmodium sebanyak 46.357 slide. Dengan demikian slide positip rate (SPR) = 8,68% dan API = 0,15. Dibandingkan SPR dan API tahun 2000, terjadi penurunan 1.14% untuk SPR dan 0,02% untuk API. Terjadinya penurunan SPR dan API menunjukkan terjadinya penurunan insiden.
Demam Berdarah Dengue (DBD)
DBD masih merupakan penyakit yang sering menimbulkan keresahan dan kepanikan masyarakat, karena selain sering menimbulkan KLB, tingkat kematiannya cukup tinggi, terutama apabila pengobatan terhadap penderita terlambat dilakukan dan penderita sudah dalam keadaan shock.
Berdasarkan tabel 10c, jumlah penderita DBD yang menjalani rawat inap di rumah sakit sebanyak 7.292, dengan kematian sebanyak 126 (CFR = 1,72%) . Sebanyak 2.931 (40,19%0 penderita berumur 5-14 tahun, 1293 (17.73%) penderita berumur 1-4 tahun, 299 (4,10%)penderita berumur > 45 tahun, dan 275 (3,77%) penderita < 1 tahun. Dengan demikian semua kelompok umur memiliki resiko untuk terserang DBD, meskipun anak yang berumur < 15 tahun merupakan kelompok umur yang memiliki resiko paling tinggi.
4. Pola Penyakit
Pola penyakit penderita rawat jalan di Puskesmas
Seperti ditunjukan tabel 10.A, secara keseluruhan, sebagian besar penderita baru rawat jalan di puskesmas merupakan penderita Diare. Dari 1.150.274 penderita baru rawat jalan puskesmas 596.706 (51,87%) diantaranya merupakan penderita Diare. Urutan kedua adalah disentri, yaitu sebanyak 147.078 penderita (12,79%). Hal ini menunjukkan bahwa insidensi penyakit saluran pencernaan (abdominalis) masih tinggi. Hal ini dapat digunakan sebagai indikator bahwa :
- Dimasyarakat masih banyak ditemukan adanya sumber penularan penyakit, yang terjadi sebagai akibat tidak sempurnanya pengobatan yang dilakukan terhadap penderita dan carrier.
- Kualitas lingkungan, terutama lingkungan permukiman penduduk di Jawa Tengah belum memadai, terutama yang berkaitan dengan penyediaan air bersih, sanitasi makanan, pembuangan tinja, dan pembuangan sampah.
- Masyarakat belum menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama dalam hal kebiasaan mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan pada saat akan makan atau menyentuh makanan.
Selain penyakit saluran pencernaan, penyakit lain yang kasusnya cukup banyak adalah Malaria 135.018 penderita (11,91%), dimana sebagian besar, 107957 (9,39%) dari keseluruhan kasus malaria adalah malaria tanpa pemeriksaan laboratorium (malaria klinis), 15.100 (11,02%) malaria falsiparum, 13.567 (9,90%) malaria vivax, dan 394 (0.36%) malaria mix. Kasus Pnemoni sebanyak 96.680 (8,58%), dan Tifoid sebanyak 79.234 (6,89%). Pada kelompok Penyakit malaria, yang perlu mendapat perhatian adalah Malaria falsiparum, karena penyakit tersebut dapat berkembang pada keadaan yang lebih buruk seperti terjadinya meningitis dan kematian. Sedangkan pada pnemonia, sebagian besar penderitanya adalah bayi dan anak balita. Dengan menderita pnemoni, bayi dan anak balita lebih mudah terkena penyakit lain yang kemudian akan memperburuk keadaan kesehatannya, bahkan sering menimbulkan kematian. Berdasarkan kelompok umur penderita, lima penyakit yang paling banyak ditemukan pada penderita rawat jalan di puskesmas adalah :
- Kelompok umur < 1 tahun ; Diare (67,12%), Pneumoni (16,35%), Desentri (10,57%), malaria klinis (2,36%) dan malaria klinis (1,74%).
- Kelompok umur 1 – 4 tahun ; diare (59,25%), Pnemonia (15,84%), Desentri (12,49%), Malaria klinis (4,73%), dan tifoid (3,80%)
- Kelompok umur 5 – 14 tahun ;Diare (51,04%), Desentri (13,96%), Malaria klinis (10,88%), Tifoid (8,93%), dan TB Paru klinis (4,86%)
- Kelompok umur 15 – 44 tahun ; Diare (42,65%), Malaria klinis (13,34%), Desentri (13,01%), Tifoid (8,89%) dan pneuemia (8,59%)
- Kelompok umur > 45 tahun ; Diare (50,84%), TB Paru klinis (7,92%), Malaria klinis (11,05%), Desentri (12,79%), dan Tifoid (7,53%)
Berdasarkan data diatas, meskipun angkanya sangat bervariasi, namun proporsi penderita diare pada semua kelompok umur selalu menempati urutan teratas. Disentri menempati urutan kedua pada semua kelompok umur kecuali pada kelompok umur < 1 tahun menempati urutan ketiga setelah pnemoni. Pneumoni, pada bayi dan anak balita menempati urutan kedua, namun pada kelompok umur 5 – 14 tahun dan > 45 tahun tidak menempati urutan kelima. Keadaan sebaliknya terjadi pada TB Paru klinis yang proporsinya semakin meningkat seiring dengan meningkatnya umur. Penyakit yang polanya hampir sama denga TB Paru klinis adalah Tifoid dimana proporsinya juga meningkat dengan semakin meningkatnya umur.
Seperti halnya Diare, Desentri dan Malaria klinis juga selalu masuk dalam 5 besar. Namun berbeda dengan diare yang selalu menempati urutan pertama, urutan kedua penyakit tersebut berubah –upah pada masing – masing kelompok umur.
Pola penyakit penderita rawat jalan di Rumah Sakit.
Berdasarkan data penderita baru rawat jalan di Rumah sakit, jumlah dari penderita 28 penyakit yang diamati adalah 117.957, yang berdasarkan kelompok umur distribusi penderita adalah : 17.295 berumur < 1 tahun, 21.326 berumur 1 – 4 tahun , 14.773 berumur 5 – 14 tahun, 43.552 berumur 15 – 44 tahun, dan 21.041 berumur > 45 tahun. Dari keseluruhan penderita tersebut yang paling banyak adalah penderita Diare dengan 53.727 kasus (45,55 %) diikuti oleh TB Paru Klinis dengan 19.852 kasus ( 16,83%), Tifoid 14.774 kasus ( 12.,2%), Pnemoni 8.472 kasus ( 7,18%), dan TB Paru BTA (+) 6.146 kasus (5,21%). Adapun 5 penyakit yang paling banyak per kelompok umur, adalah :
- Kelompok umur < 1 tahun ; Diare 9.738 penderita (56,30%), Pnemoni 1.516 (8,76%), Tifoid 528 penderita (3,05%), Batuk Rejan 179 penderita (1,03%) dan TB Paru Klinis 4.476 penderita (25,88%).
- Kelompok umur 1 – 4 tahun ; Diare 12.083 penderita (56,66%), TB Paru Klinis 3.344 penderita (15.68%), Tifoid 1.580 penderita (7,41%), Pnemonia 1.804 penderita (846%), dan DBD (DHF) 769 penderita (3,61%)
- Kelompok umur 5 – 14 tahun ;Diare 5.279 penderita (35,73%), Tifoid 2.304 penderita (15,60%), DBD 1.910 penderita( 12,93%), TB Paru Klinis 2.041 penderita(13.81%), dan Pneumoni 1.412 penderita (9,56%)
- Kelompok umur 15 – 44 tahun ; Diare 17.915 penderita (41,16%), Tifoid 8.133 penderita (18,69%), TB Paru klinis 6.319 penderita (14,52%%), TB Paru BTA (+) 2678 penderita (6,15%), dan Pnemoni 2.090 penderita (4,80%).
- Kelompok umur > 45 tahun ; Diare 8.712 penderita (41,40%), TB Paru klinis 3.672 penderita (17,45%), TB Paru BTA (+) 2.363 penderita (11,23%), Pneumonia 1.650 penderita (7,84%), dan Tifoid 2.229 penderita (10.59%)
Pola penyakit penderita inap di Rumah Sakit
Seperti yamg ditunjukkan Tabel 10.C jumlah penderta 28 jenis penyakit yang diamati yang menjalani rawat inap di Rumah sakit sebanyak 82.009. Distribusi penderita berdasarkan kelompok umur adalah : 14.755 berumur < 1 tahun, 15.171 berumur 1 – 4 tahun , 10.168 berumur 5 – 14 tahun, 23.849 berumur 15 – 44 tahun, dan 18.066 berumur > 45 tahun.
Dari keseluruhan kasus tersebut yang paling banyak adalah penderita Diare dengan 39.876 kasus (48,62%) diikuti oleh Tifoid dengan 15.771 kasus ( 19,23%), DBD 7.292 kasus (8,89%), Pnemonia 4.819 kasus (5,88%), TB Paru Klinis 5.922 kasus (7,31%), dan Disentri 2.311 kasus (2,82%). Adapun 5 penyakit yang paling banyak per kelompok umur, adalah :
- Kelompok umur < 1 tahun ; Diare (81.09%), Pnemoni (11,30%), Tifoid (1.96%), Disentri (2.01%), DBD (1.86%)
- Kelompok umur 1 – 4 tahun ; Diare (69.51%), Tifoid (8.89%), DBD (8.52%), Disentri (3.02%), Pnemoni (6.14%).
- Kelompok umur 5 – 14 tahun ; Tifoid (34.45%), DBD (28.83%), Diare (25,21%), Pnemoni (3.11%), dan Disentri, Campak dan Hepatitis masing-masing 1,61%.
- Kelompok umur 15 – 44 tahun ; Tifoid (33,69%), Diare (28.81%), DBD (10.45%), TB Paru klinis (10.79%) dan Hepatitis (3.97%).
- Kelompok umur > 45 tahun ; Diare (43,89%), Tifoid (14,36%), TB Paru klinis (16,69%), Pnemonia (6,82%), dan TB Paru BTA (+) (4,55%).
5. Kejadian Luar Biasa (KLB).
KLB merupakan fenomena yang sering menimbulkan kepanikan yang luas di masyarakat. Jenis KLB yang terjadi di Jawa Tengah, yang dilaporkan Ke Dinas Kesehatan Propinsi selama Tahun 2000 adalah Keracunan, Campak, Diare, Malaria, Hepatitis, Kwashiorkor, AFP, Tetanus Neonatorum, Meningitis, Antrax, DBD, Difteri dan Scabies.
Diantara jenis KLB tersebut, KLB Malaria merupakan KLB dengan jumlah kasus terbanyak yaitu 6.160 CFR sebesar 0,1/1.000 penduduk. Sedang KLB DBD merpakan KLB dengan wilayah paling banyak yaitu 170 desa di 56 kecamatan dari 5 kabupaten/kota, dengan penderita sebanyak 446 dan CFR sebesar 5,16/1.000 penduduk.
Dalam hal tingkat kematian yang terjadi, Tetanus menempati urutan teratas. Dari 12 penderita yang tersebar di 11 desa dari 9 kecamatan 4 dintaranya meninggal dunia. Dengan demikian Case Fatalitu Rate (CFR) nya adalah 333,3/1.000 penduduk atau dapat dikatakan penderita Tetanus 30% meninggal. Ururtan kedua adalah Difteri dengan CFR 108,1/1.000 penduduk (dari 37 kasus, 4 orang meninggal).