Gambaran
masyarakat Provinsi Jawa Tengah masa depan yang ingin dicapai oleh segenap
komponen masyarakat melalui pembangunan kesehatan Provinsi Jawa Tengah adalah
Jawa Tengah Sehat 2010 yang mandiri dan bertumpu pada potensi daerah. Untuk
mewujudkan visi tersebut ada empat misi yang diemban oleh seluruh jajaran
petugas kesehatan di masing-masing jenjang administrasi pemerintahan, yaitu
menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan, mendorong kemandirian masyarakat
untuk hidup sehat dengan bertumpu pada potensi daerah, memelihara dan
meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau bagi
seluruh masyarakat Jawa Tengah, dan mendorong pemeliharaan dan peningkatan
kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya.
Guna
mempertegas rumusan Visi Jawa Tengah Sehat itu, telah ditetapkan
indikator-indikatornya secara lebih terinci yang mengacu pada Indikator
Indonesia Sehat 2010, yang terdiri atas indikator derajat kesehatan sebagai
hasil akhir yang terdiri atas indikator-indikator untuk mortalitas, morbiditas,
dan status gizi; indikator hasil antara, yang terdiri atas indikator-indikator
untuk keadaaan lingkungan, perilaku hidup, akses dan mutu pelayanan kesehatan;
serta indikator proses dan masukan yang terdiri atas indikator-indikator untuk
pelayanan kesehatan, sumber daya kesehatan, manajemen kesehatan, dan kontribusi
sektor terkait.
Hasil
pencapaian indikator-indikator tersebut di Provinsi Jawa Tengah tahun 2004
adalah sebagai berikut :
I.
DERAJAT KESEHATAN
A. Angka Kesakitan
a.
Penyakit
Bersumber Binatang
1). Pemberantasan Penyakit
Malaria
a).
Keadaan kasus
Di
Jawa Tengah kasus klinis malaria berjumlah 305.739, yang tersebar di 30 kab/kota.
Kasus klinis paling banyak terdapat di Banjarnegara
(76.365 kasus) dan paling sedikit di Blora (4 kasus). Kab/kota yang tidak
terdapat kasus klinis adalah Kota Magelang, Kota Tegal, Kota Surakarta, Boyolali,
dan Demak.
Berdasarkan
hasil pemeriksaan mikroskop terhadap sediaan darah seluruh penderita klinis
malaria tersebut, yang positip sebagai penderita malaria (ditemukan plasmodium)
sebanyak 5.308 (1,74%). Kasus positif malaria tersebut tersebar di 23 kab/kota
seperti pada gambar 1. Kasus terbanyak terdapat di Wonosobo (1.051) dan paling
sedikit di Kota Pekalongan, Pati, Karanganyar, dan Batang, masing-masing 2 kasus.
Gambar 1
Grafik Sebaran Kasus
Malaria di Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2004
b). Pelayanan
terhadap penderita
Bentuk
pelayanan yang diberikan terhadap penderita malaria adalah pemeriksaan darah dan
pengobatan. Pemeriksaan darah dilakukan terhadap penderita klinis, sedangkan
pengobatan dilakukan terhadap baik penderita klinis maupun yang positif malaria.
Pemeriksaan
darah dilakukan untuk menegakkan diagnosa. Seorang penderita klinis baru
dinyatakan positif malaria apabila sediaan darah yang diperiksa terdapat
plasmodium. Selain dilakukan pemeriksaan darah, semua penderita klinis
memperoleh pengobatan klinis. Sedangkan untuk yang positif malaria diberikan
pengobatan radikal. Dengan demikian semua penderita malaria yang ditemukan di
semua kabupaten/kota diberikan pengobatan. Oleh karena itu cakupan pengobatan
penderita malaria di Jawa Tengah selalu mencapai 100%.
2). Pemberantasan Penyakit Demam
Berdarah Dengue (DBD)
a). Angka Kesakitan (Incidence Rate).
Tahun
2004 Kasus DBD di Jawa Tengah berjumlah 9.742
yang tersebar di semua kabupaten/kota yang ada di Jawa Tengah. Jumlah kasus
di masing-masing kabupaten/kota sangat bervariasi. Jumlah
kasus paling banyak terjadi di Kota Semarang (1.621 kasus) dan yang paling
sedikit di Banjarnegara (4 kasus). Dengan kasus seperti diatas maka Incidence Rate (IR) DBD di Jawa Tengah sebesar 3 kasus per 10.000
penduduk. Dengan demikian target SPM DBD Jawa Tengah untuk indikator IR < 2 per 10.000 penduduk belum tercapai.
Kabupaten yang IRnya masih di atas 2 per 10.000 peduduk adalah Kota Semarang,
Kabupaten Semarang, Kendal, Pati, Kudus, Rembang, Kota Tegal, Kabupaten
Pekalongan, Pemalang, Kabupaten Tegal, Brebes, Kota Magelang, Kota Surakarta,
Sukoharjo, Karanganyar dan Sragen.
Gambar 2
Kasus DBD di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004
b). Angka Kematian
(Case Fatality Rate)
Dari
9.742 kasus DBD di Jawa Tengah, 169 penderita
diantaranya meninggal dunia (CFR=1,7%). Kematian terbanyak terjadi di Jepara (20
penderita) sedangkan yang tidak dilaporkan adanya kematian adalah Salatiga,
Purbalingga, Cilacap, Banjarnegara, Kab.Magelang, Temanggung, Wonosobo,
Purworejo, dan Kab.Semarang.
Walaupun
CFR DBD Jawa Tengah sudah dibawah target SPM tahun 2005 dan 2010, yaitu tidak
lebih 2%, namun masih banyak kab/kota
yang CFR nya >
2%. Kab/kota dimaksud adalah Kota Pekalongan (7,41%), Kab.Tegal (3,49%),
Kab.Pekalongan (4,9%), Brebes (3,93%), Demak (9,64%), Grobogan (4,1%), Rembang
(3,51%), Blora (5,56%), Boyolali (5,49%), Sukoharjo (3,21%), dan Batang (3,72%)
Gambar 3
Case Fatality Rate (CFR) DBD Di Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2004
c). Pelayanan terhadap
penderita.
Dari
aspek cakupan, seluruh penderita DBD di Jawa Tengah yang berobat ke sarana
pelayanan kesehatan, sudah mendapatkan pelayanan. Dengan kata lain cakupan
pelayanan penderita DBD di Jawa Tengah sudah 100%, sehingga target yang
ditetapkan dalam SPM sudah tercapai. Walaupun demikian, dengan masih adanya
penderita yang meninggal menunjukkan, kualitas penanganannya masih perlu
ditingkatkan.
Penanganan penderita DBD memerlukan kecepatan dan
ketepatan. Tidak terpenuhinya kedua hal tersebut dapat berakibat fatal bagi
penderita karena akan mempertinggi risiko terjadinya kematian. Dalam hal
kecepatan penanganan, semua sarana pelayanan kesehatan di Jawa Tengah telah
menempatkan penderita DBD sebagai prioritas, sedangkan dalam hal ketepatan
penanganan, upaya peningkatan kemampuan tenaga kesehatan selalu dilakukan antara
lain melalui ceramah klinik. Oleh karena itu apabila terjadi keterlambatan
penanganan, hal tersebut disebabkan oleh keterlambatan penderita dibawa ke
sarana pelayanan kesehatan.
3). Pemberantasan Penyakit
Filaria (P2 Filariasis)
Filariasis
atau Penyakit Kaki Gajah, merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan
oleh cacing filaria. Penularan penyakit tersebut terjadi melalui gigitan nyamuk sebagai vektor. Hampir semua
genus nyamuk, baik Mansonia, Anopheles, Culek, dan Aedes, memiliki spesies yang
dapat berperan sebagai vektor filariasis.
Walaupun prevalensi filariasis sangat rendah dan bukan
merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kematian, namun kecacatan menetap yang
terjadi pada penderita filariasis berdampak sangat besar besar pada penderita
dan keluarganya. Selain menurunkan produktivitas, filariasis mengakibatkan
stigma sosial serta beban ekonomi keluarga akibat pengeluaran pembiayaan untuk
perawatan dan pengobatan.
Peran pemerintah dalam pencegahan dan pemberantasan
filariasis adalah memutuskan rantai penularan serta memberikan pelayanan berupa
pengobatan dan perawatan penderita untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder
dan menekan frekuensi serangan akut.
Dalam upaya penemuan penderita filariasis di Jawa Tengah,
tahun 2004 dilakukan rapid mapping.
Dari kegiatan tersebut ditemukan 103 penderita filariasis kronis yang tersebar
di 10 Kabupaten/kota., yaitu Kota Pekalongan (4 penderita), Surakarta (2),
Banyumas (34), Cilacap (9), Temanggung (3), Pekalongan (39), Brebes (1), Blora
(3), Klaten (4), dan Boyolali (4).
Gambar
4
Peta
penyebaran
Penyakit Filaria di Jawa Tengah Tahun 2004
Karakteristik dari penderita filariasis tersebut adalah sebagai berikut:
Ø
Umur
dan jenis kelamin.
Berdasarkan jenis kelamin, dari 103 penderita filariasis kronis yang
ditemukan, 58 (56,1%) wanita dan 45 (43,9%) laki-laki. Umur penderita bervariasi
antara 18 tahun sampai 61 tahun. Apabila umur penderita dikelompokkan dengan
interval 10 tahun, penderita terbanyak berumur 48-58 tahun (40,77%).
Ø
Bagian
tubuh yang mengalami pembengkakan.
Sebagian besar pembengkakan terjadi pada kaki, yaitu pada kaki kanan
(46,6%), kaki kiri (39,8%), pada kedua kaki (7,77%). Selebihnya berupa hidrokel.
Ø
Keadaan
sosial ekonomi.
Sebagian besar penderita merupakan masyarakat yang kemampuan ekonominya
rendah (88,35%). Mereka tinggal di rumah yang sangat sederhana yang keadaan
sanitasinya tidak memenuhi syarat
kesehatan. Selain itu akses sebagian besar penderita (72,7%) ke sarana pelayanan
kesehatan relatif rendah karena mereka tinggal di desa yang jauh ( lebih dari 10
KM) dari ibu kota kecamatan.
Ø
Perkiraan
tempat tertular.
Diperkirakan, sebagian besar penderita tertular di wilayah tempat tinggalnya,
karena 83,2% penderita menyatakan tidak pernah bermukim di daerah lain yang
endemis filariasis, terutama daerah di luar Jawa. Disamping itu, berdasarkan
hasil darah jari yang dilakukan di 4 kab/kota, 2 kab/kota terbukti endemis
filariasis (Mf Rate > 1%), yaitu Kab. Pekalongan dan Kota Pekalongan.
Walaupun secara kuantitas pelayanan terhadap penderita
filariasis di Jawa Tengah tahun 2005 sudah mencapai 100%, namun kualitas
pelayanan yang diberikan dapat dikatakan belum memadai. Pelayanan
yang diberikan baru berupa pengobatan untuk mengatasi serangan akut yang lebih
bersifat symptomatis. Padahal, untuk mencegah terjadinya keadaan yang lebih
buruk diperlukan perawatan dan peningkatan personal
hygiene setiap hari terhadap bagian tubuh yang bengkak untuk mencegah
terjadinya infeksi sekunder.
b.
Penyakit Menular Langsung
1). Pemberantasan Penyakit
Tuberkulosis Paru (P2 TB Paru)
a).
Penemuan penderita baru (CDR)
·
Penemuan
tersangka TBC (klinis) dari tahun 2003 ke 2004 terjadi kanaikan yang cukup
tinggi (57 %) berarti jangkaun
pelayanan TBC di UPK (Puskesmas, BP4 dan Rumah Sakit) sudah ada peningkatan,
begitu juga pada penemuan penderita BTA positif.
·
Angka penemuan
penderita (CDR) di Jawa Tengah tahun 2003 dan tahun 2004 terjadi peningkatan
penemuan penderita BTA positif walaupun angka tersebut masih jauh dibawah target
< 70 %, namun ada beberapa Kabupaten/Kota yang pencapaian penemuan penderita
diatas 60 % karena target tahun 2004 adalah 60 % yaitu Kota Pekalongan 94,44 %
Kabupaten Pekalongan 77,18 %, Kabupaten Tegal 66,52 %, Kota Tegal 63,87 % dan
Kota Surakarta 60,07 %. Hal tersebut dikarenakan belum semua UPK (Unit Pelayanan
Kesehatan) khususnya di Rumah Sakit belum semua mengikuti program TBC dengan
strategi DOTS sehingga belum teregistrasi.
b).
Angka Kesembuhan (Cure Rate)
Tabel
4.1. Angka Kesembuhan (Cure Rate)
Penyakit TBC
|
Indikator
|
Tahun 2003
|
Tahun 2004
(tw. 1-2)
|
|
Cure rate
|
74,3 %
|
81,18 %
|
Dari
tabel diatas bahwa angka kesembuhan (cure
rate) di Jawa Tengah masih
dibawah target < 85 %, namun angka kesembuhan dari tahun 2003 ke tahun 2004
(s/d tri wulan
ke 2) terjadi peningkatan, bila dilihat dalam satu tahun 2004 belum bisa
diketahui karena system kohort sehingga evaluasinya setiap tribulan.
Di Jawa Tengah angka kesembuhan penderita yang diobati di Puskesmas dan
BP4 tahun 2004 (sampai dengan TW 2) sebesar 81,18% (target nasional 85% dan
target Jawa Tengah 83%).
Terdapat
14 Kabupaten/Kota yang telah berhasil mencapai angka kesembuhan ³
83% (target Jawa Tengah pada tahun 2004) adalah : Kota Surakarta (94,94 %), Kab.
Sragen (94,50%), Kab. Wonogiri (92,79%), Kab. Jepara (92,55%), Kab. Pekalongan
(92,14%), Kab. Karanganyar (89,92%), Kab. Batang (88,89%), Kab. Sukoharjo
(88,51%), Kab. Grobogan (88,31%),
Kab. Purworejo (88,04%), Kab. Wonosobo (86,52 %) dan Kab. Tegal (86,11%).
2). Pemberantasan Penyakit Diare
Cakupan penemuan penderita diare di sarana kesehatan dari tahun ke tahun
masih sangat kurang rata rata 30.56% sedangkan cakupan yang diharapkan adalah
80%. Kurangnya cakupan ini disebabkan banyak hal, diantaranya kurangnya peran
serta masyarakat sebagai kader dalam penemuan kasus diare terutama pada balita
dan kelengkapan data kasus diare di kabupaten/ kota.
Rendahnya cakupan penemuan ini ada beberapa sebab diantaranya kurangnya
penemuan penderita diare oleh kader, tidak tercovernya penderita diare di klinik
swasta. Peningkatan cakupan penemuan penting adanya karena dengan meningkatnya
cakupan penemuan berarti semakin banyak kasus diare ditemukan dan diharapkan
mengurangi kasus kematian akibat terlambatnya pertolongan pada kasus diare.
Kasus
diare pada balita masih tetap tinggi dibanding golongan umur yang lainnya. Pada
hasil penelitian episode diare balita sebesar 1,3 berarti setiap tahunnya balita
terkena diare lebih dari sekali.
3).
Pemberantasan Penyakit ISPA
Sampai saat ini salah satu penyebab utama kematian bayi dan balita
menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) adalah penyakit Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA), yaitu sebesar 29,5% dimana dari seluruh kematian ISPA
sekitar 80 – 90% adalah karena Pneumonia.
Bila mengacu pada renstra yang ada maka angka kematian pneumonia balita
turun menjadi 3 per 1000 balita pada akhir tahun 2004, untuk mencapai hal
tersebut maka angka penemuan pneumonia balita yang mendapatkan penanganan
standar minimal 86 % dari perkiraan pneumonia balita yang ada di masyarakat
yaitu 10 % dari jumlah balita.
Gambar
5
Dari grafik di atas dapat dilihat ada kecenderungan
(Trend) peningkatan pada penemuan dan penanganan kasus pneumonia Balita untuk
setiap tahunnya, pada tahun 2004 terlihat ada peningkatan dua kali lipat bila
dibandingkan dengan tahun 2003, namun demikian belum semua Kab. / Kota bisa
mencapai dari target yang telah ditetapkan yaitu sebesar 86 %.
4).
Pemberantasan Penyakit HIV/AIDS (P2 HIV/AIDS)
Jumlah
pengidap HIV yang dilaporkan tahun 2004 (130 kasus) sebagian besar didapat dari
hasil serosurvei pada kelompok risiko tinggi 103 kasus (79.23%), rujukan PMI 12
kasus (9.23 %), laporan Rumah Sakit 9 kasus ( 6.92%), laporan LSM 5 kasus
(3.85%) dan laboratorium swasta 1 kasus (0.77%). Prevalensi
HIV pada kelompok risiko tinggi (Wanita Pekerja Seks) sebesar 2.01%.
Sementara itu untuk kasus AIDS di Jawa Tengah
selama tahun 2004 telah dilaporkan oleh Rumah Sakit sebanyak 19 kasus. Sehingga
total kasus HIV/AIDS tahun 2004 di Jawa Tengah sebanyak 149 kasus dengan rincian
130 infeksi HIV dan 19 kasus AIDS.
Dari hasil skrining di PMI terhadap virus HIV
selama tahun 2004 telah diperiksa darah donor sejumlah 267.850. Dari
jumlah tersebut yang reaktif HIV sebanyak 219 (0.08%). Hasil tersebut menunjukan
bahwa penyebaran virus HIV juga sudah ada pada kelompok masyarakat umum, bukan
hanya pada kelompok risiko tinggi saja. Namun demikian darah tersebut sudah
langsung dimusnahkan, sehingga semua pasien yang akan menerima darah donor bebas
dari virus HIV.
Gambar 6
Grafik perkembangan kasus HIV dan AIDS di Jawa
Tengah Tahun 1993-2004
|
|
Dari grafik di atas
menunjukan bahwa kecenderungan
(trend) kasus HIV maupun AIDS selalu mengalami peningkatan setiap tahun.
Peningkatan secara signifikan terjadi mulai tahun 2001 (82 HIV/AIDS), hampir dua
kali tahun 2000 (43 HIV/AIDS). Sedangkan kasus AIDS tahun 2004 meningkat enam kali
lipat kasus AIDS tahun 2003
5).
Surveylans Accute Flaccid Paralysis (
AFP )
Dalam
upaya untuk membebaskan Indonesia dari penyakit polio, maka pemerintah telah
melaksanakan program Eradikasi Polio (ERAPO) yang terdiri dari pemberian
imunisasi polio secra rutin, pemberian imunisasi missal pada anak balita melalui
PIN (Pekan Imunisasi Nasional ) dan surveilans AFP.
Surveilans
AFP pada hakekatnya adalah pengamatan dan penjaringan semua kelumpuhan yang
terjadi secara mendadak dan sifatnya flaccid
(layuh), seperti sifat kelumpuhan pada poliomyelitis.
Prosedur pembuktian penderita AFP terserang virus polio liar atau tidak adalah
sebagai berikut :
1.
Melakukan pelacakan terhadap anak usia sama atau kurang dari 15 tahun
yang mengalami kelumpuhan layuh mendadak
(<14 hari) dan menentukan diagnosa awal.
2.
Mengambil specimen tinja penderita tidak lebih dari 14 hari sejak
kelumpuhan, sebanyak dua kali selang waktu pengambilan I dan II
> 24 jam
3.
Mengirim kedua specimen tinja ke laboratorium Bio Farma Bandung dengan
pengemasan khusus/baku
4.
Hasil pemeriksaan specimen tinja akan menjadi bukti virologis adanya
virus polio liar didalamnya
5.
Diagnosa akhir ditentukan pada 60 hari sejak kelumpuhan. Pemeriksaan
klinis ini dilakukan oleh dokter spesialis anak atau syaraf untuk menentukan
apakah masih ada kelumpuhan atau tidak.
Hasil pemeriksaan virologis dan klinis akan menjadi bukti
yang syah dan meyakinkan apakah semua kasus AFP yang terjaring termasuk kasus
polio atau tidak sehingga dapat diketahui apakah masih ada polio liar di
masyarakat.
Secara statistik jumlah penderita kelumpuhan AFP
diperkirakan 1 diantara 100.000 anak usia < 15 tahun. Di Provinsi Jawa Tengah
setiap tahun minimal harus menemukan 92 penderita AFP. Pada tahun 2004 Jawa
Tengah menemukan 107 penderita AFP dan telah dibuktikan bahwa semuanya bukan
disebabkan virus polio liar. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, penemuan
penderita AFP di Jawa Tengah mengalami peningkatan (tahun 2003 ditemukan 104
kasus).
6).
Kejadian Luar Biasa
Kejadian Luar Biasa ( KLB ) Penyakit Menular dan keracunan
merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat di Jawa Tengah. Selama tahun 2004 di laporkan 17 jenis KLB
terjadi di Jawa Tengah antara lain Demam Berdarah, Keracunan, Diare, Difteri,
Campak, Chikungunya, dan Tetanus Neonatorum, Leptospirosis. Selama tahun 2004
berdasarkan profil kesehatan kabupaten/kota, dilaporkan sebanyak 711 desa/kelurahan
terjadi KLB. Dibanding tahun 2003 jumlah desa yang terserang KLB meningkat dari
623 desa menjadi 703 desa .
Persentase Desa/kelurahan yang terjadi KLB dan ditangani
kurang dari 24 jam sebesar 97.62 %. Dibandingkan tahun sebelumnya, dimana desa
terkena KLB ditangani < 24 jam sebanyak 88,12 %, maka terjadi peningkatan
penangan KLB. Pada tahun 2004 KLB
Demam Berdarah Dengue, merupakan
salah satu kejadian yang menonjol, karena sebanyak 328 desa di Jawa Tengah
terjadi kejadian luar biasa DBD yang berasal dari 118 kecamatan dengan penderita
sebanyak 2.986 orang dan 72 kematian (CFR= 2,41 %).
Dibanding tahun 2003, angka tersebut menurun jumlah
desa yang terkena, karena pada tahun 2003 terjadi pada 337 desa dengan penderita
sebanyak 2.205 jiwa dan 58 kematian. Penurunan tersebut setelah dikaji lebih
dalam, ada kemungkinan karena pada tahun 2003 terjadi peningkatan kasus DBD
secara nasional, sehingga kejadian pada tahun 2003 lebih tinggi.
Sebagai urutan kedua penyebab KLB adalah kejadian
keracunan makanan yang menyerang 63 desa meliputi 53 kecamatan dengan penderita
sebanyak 1.298 orang dengan CFR
sebesar 0,46%. Urutan ketiga adalah
KLB campak, sebanyak 65 kejadian dengan penderita sebanyak 1137 penderiyta 3
kematian. Urutan selanjutnya yang adalah KLB Hepatistis yang menyerang di 49
desa, difteri di 51 desa, Leptospirosis di 31 desa. Kabupaten/kota yang
mempunyai desa terserang KLB paling banyak adalah Kabupaten Karanganyar 86 desa,
kota Semarang 55 desa , kabupaten Kendal 56 desa .
Kecamatan terkena KLB pada tahun 2004 sebanyak 353
kecamatan, dibanding tahun sebelumnya sebanyak 297 kecamatan terlihat meningkat
56 kecamatan (19 %). Angka kematian tertinggi pada KLB disebabkan oleh Tetanus
Neonatorum sebesar 91 % dan Leptospirosis sebesar 35 %. Frekuensi
Kejadian KLB menurut jenisnya di Jawa Tengah tahun 2004 dapat dilihat pada
gambar di bawah.
Gambar 7
Grafik KLB Berdasarkan Jenis Penyakit di Jawa Tengah Tahun
2004
Dari gambar diatas menunjukkan bahwa KLB DBD mempunyai
urutan pertama penyebab KLB dengan frekuensi 328 kejadian
dan Campak merupakan urutan kedua sebanyak 65 kejadian dan
keracunan makanan urutan ketiga, disusul difteri, hepatitis, dan
seterusnya
Sebaran KLB DBD menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah
tahun 2004 menunjukkan bahwa Kota Semarang, Kabupaten Cilacap dan Kabupaten
Sukoharjo merupakan daerah yang benyak ditemukan KLB DBD. Selama tahun 2004
dilaporkan sebanyak 328 KLB Demam Berdarah Dengue.
Sebaran KLB Difteri menurut
Kabupaten/Kota di Jawa Tengah tahun 2004 menunjukkan bahwa dari 35 Kabupaten
kota yang ada di Jawa Tengah terdapat 10 Kabupaten
/ Kota yang melaporkan adanya KLB Difteri. Kabupaten Grobogan dan Kota
Semarang merupakan wilayah paling banyak ditemukan KLB Difteri.
Sebaran KLB Keracunan makanan menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah tahun 2004 menunjukan
bahwa dari 35 Kabupaten kota yang
ada di Jawa Tengah terdapat 22 Kab/Kota yang melaporkan adanya KLB keracunan
makanan . Kabupaten Boyolali dan Kota Semarang, Kab. Cilacap,
Kab. Banyumas dan Purbalingga merupakan wilayah yg banyak ditemukan KLB
Keracunan makanan.
Sebaran KLB Campak di Jawa Tengah pada tahun 2004
menunjukkan bahwa masih terdapat 7 kabupaten kota yang melaporkan adanya KLB
Campak. Kabupaten Pekalongan, Temanggung, Grobogan merupakan
Kabupaten yang paling sering melaporkan adanya KLB Campak.
c.
Penyakit Tidak
Menular
Berdasarkan
data WHO, saat ini penyakit tidak menular menyebabkan sekitar 60% kematian dan
43% kesakitan di seluruh dunia. Sedang di negara berkembang saat ini telah
terjadi pergeseran penyebab kematian utama dari penyakit menular ke penyakit
tidak menular. Kecenderungan transisi ini dipengaruhi oleh berubahnya gaya hidup,
urbanisasi, modernisasi, dan globalisasi. Termasuk dalam penyakit degeneratif
atau penyakit tidak menular antara lain penyakit jantung, stroke, hipertensi,
diabetes, penyakit paru obstruksi
kronik, dan kanker jenis tertentu.
1)
Neoplasma
Kanker
adalah tumor ganas yang ditandai dengan pertumbuhan abnormal sel-sel tubuh.
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2002, kanker
merupakan penyebab kematian nomor
tiga setelah penyakit jantung dan stroke. Besarnya kematian penduduk yang
disebabkan kanker karena terlambat memeriksakan ke fasilitas kesehatan terdekat
seperti di Puskesmas dan Rumah Sakit.
Di
Indonesia terdapat lima jenis kanker yang banyak diderita penduduk yakni kanker
rahim, kanker payudara, kanker kelenjar getah bening, kanker kulit dan kanker
rektum.
Di
Provinsi Jawa Tengah berdasarkan laporan program yang berasal dari Rumah Sakit,
kasus penyakit kanker yang ditemukan sebanyak 8.182 kasus. Terdiri atas Ca mamae
3.593 kasus (43,91%), Ca servik 2.780 kasus (33,98%), Ca hepar 1.030 (12,59%),
dan Ca paru 779 kasus (9,52%)
Kasus
terbanyak Ca Serviks adalah di Kota Semarang yaitu sebesar 1.416 kasus (50,93%)
dibandingkan dengan jumlah keseluruhan Ca. Serviks di kabupaten/kota lain di
Jawa Tengah. Apabila dibandingkan dengan jumlah penyakit tidak menular (PTM)
lain di Kota Semarang, adalah 1,13%. Sedangkan kasus tertinggi kedua adalah
Kabupaten Kebumen yaitu sebesar 473 kasus (17,01%) dan apabila dibanding dengan
jumlah PTM tertentu lain di Kabupaten Kebumen adalah sebesar (4,54%). Untuk
kasus ini yang paling sedikit dijumpai di Kabupaten Semarang dan Kota Tegal
masing-masing 1 kasus (0,03%). Rata-rata kasus Ca. Serviks di Jawa Tengah adalah
79,42 kasus pertahun.
Kasus
terbanyak Ca Mammae adalah di Kota Semarang yaitu sebesar 1.205 kasus (33,53%)
dibanding dengan jumlah keseluruhan Ca Mammae di kabupaten/kota lain di Jawa
Tengah. Apabila dibandingkan dengan jumlah PTM tertentu lain di Kota Semarang,
adalah sebesar 0,96%. Sedangkan kasus tertinggi kedua adalah Kota Magelang yaitu
sebesar 292 kasus (8,12%) dan apabila dibanding dengan jumlah PTM tertentu lain
di Kota Magelang adalah sebesar 1,68%. Untuk kasus Ca Mammae ini yang paling
sedikit adalah di Wonogiri sebesar 1 kasus (0,02%). Sedangkan Rata-rata kasus di
Jawa Tengah dalam setahun adalah 120,65 kasus.
Kasus
tertinggi Ca. Hepar terjadi di Kota Surakarta yaitu sebesar 173 kasus (16,79%)
dibanding dengan jumlah keseluruhan Ca Mammae di kabupaten/kota lain di Jawa
Tengah. Apabila dibandingkan dengan jumlah kasus PTM lain di Kota
Surakarta sebesar 1,57%. Sedangkan kasus tertinggi kedua adalah Kabupaten
Boyolali yaitu sebesar 148 kasus (14,36%) dan apabila dibanding dengan jumlah
PTM tertentu lain di Kabupaten Boyolali adalah sebesar 1,06%. Untuk kasus Ca
Hepar ini yang paling sedikit adalah Kabupaten Magelang dan Kabupaten Banyumas
yaitu 1 kasus (0,09%). Untuk rata-rata kasus pertahun di Jawa Tengah adalah
29,42 kasus.
Kasus tertinggi Ca. Paru adalah di Kota Salatiga
sebesar 169 kasus (21,69%) dibanding dengan jumlah keseluruhan Ca Mammae di
kabupaten/kota lain di Jawa Tengah. Apabila dibandingkan dengan jumlah kasus PTM
lain di Kota Salatiga adalah 2,90%. Sedangkan kasus tertinggi kedua adalah Kota
Magelang yaitu sebesar 157 kasus (20,15%) dan apabila dibanding dengan jumlah
PTM tertentu lain di Kota Magelang adalah sebesar 0,89%. Kasus Ca Paru yang
paling sedikit adalah di Kabupaten Pati, Jepara, Blora dan Purbalingga yaitu 1
kasus (0,12%). Rata-rata kasus pertahun di Jawa Tengah adalah 22,25 kasus.
Kenyataan
yang terjadi, besarnya kematian akibat kanker terjadi karena terlambat
memeriksakan ke fasilitas kesehatan atau pasien dating pada stadium lanjut,
padahal sebenarnya bila pasien dating pada stadium awal, kemungkinan penyakitnya
akan dapat disembuhkan dengan berbagai pengobatan dan program pencegahan.
Sehingga program deteksi kanker sedini mungkin merupakan solusi terbaik,
seperti
melakukan "pap smear" untuk
kanker leher rahim, pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) untuk kanker payudara,
foto rontgen untuk kanker paru.
Akan tetapi kebanyakan masyarakat Indonesia masih kurang peduli
terhadap penyakit kanker ini, sehingga perlu ditingkatkan program edukasi kepada
masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian terhadap kanker dan
diharapkan masyarakat berani memeriksakan diri secara dini dan rutin agar risiko
kanker dapat terdeteksi lebih awal.
2).
Diabetes Melitus
Kencing manis adalah
suatu keadaan dimana terjadi kelebihan kadar gula darah (glukosa) dalam darah.
Kencing manis dapat disebabkan oleh faktor lingkungan seperti kegemukan, makan
makanan yang berlebihan, penyakit infeksi, dsbnya atau disebabkan oleh faktor
keturunan yang mengganggu hormon insulin.
Penyakit
kencing manis. WHO (1985) mengklasifikasikan penderita DM dalam lima golongan
klinis, yaitu DM tergantung insulin (IDDM), DM tidak tergantung insulin, DM
berkaitan dengan malnutrisi (MRDM), DM karena toleransi glukosa terganggu (IGT),
dan DM karena kehamilan (GDM). Di Indonesia, yang terbanyak adalah DM tidak
tergantung insulin. DM jenis ini baru muncul pada usia di atas 40 tahun. DM
dapat menjadi penyebab aneka penyakit seperti hipertensi, stroke, jantung
koroner, gagal ginjal, katarak, glaukoma, kerusakan retina mata yang dapat
membuat buta, impotensi, gangguan fungsi hati, luka yang lama sembuh
mengakibatkan infeksi hingga akhirnya harus diamputasi terutama pada kaki.
Di Provinsi Jawa Tengah
berdasarkan laporan program yang berasal dari Rumah Sakit, Kasus DM yang
ditemukan sebanyak 151.075. tertinggi Diabetes Mellitus adalah di Kota Semarang
yaitu sebesar 46.225 kasus (30,59%) dibanding dengan jumlah keseluruhan Diabetes
Mellitus di kabupaten/kota lain di Jawa Tengah. Dilihat berdasarkan jumlah kasus
PTM lain di Kota Semarang adalah 36,98%. Sedangkan kasus tertinggi kedua adalah
Kabupaten Klaten yaitu sebesar 16.067 kasus (10,22%%) dan apabila dibanding
dengan jumlah keseluruhan PTM tertentu lain di Kabupaten Klaten adalah sebesar
25,44%. Kasus Diabetes Mellitus paling sedikit adalah Kabupaten Semarang yaitu
52 kasus (0,03%). Sedangkan rata-rata kasus pertahun di Jawa Tengah adalah
4.316,42 kasus.
3).
Gangguan Mental
Mental disorder
/ gangguan mental adalah bentuk gangguan dan kekacauan fungsi mental (kesehatan mental),
disebabkan oleh kegagalan mereaksinya mekanisme-adaptasi dari fungsi-fungsi
kejiwaan/mental terhadap stimuli eksternal dan ketegangan-ketegangan; sehingga
muncul gangguan fungsi atau gangguan struktur pada satu bagian, satu organ atau
sisten kejiwaan.
Gangguan
mental itu merupakan totalitas kesatuan daripada ekspresi mental yang patologis
terhadap stimuli sosial, dikombinasikan dengan faktor-faktor penyebab sekunder
lainnya. Seperti halnya rasa-rasa pusing, sesak nafas, demam panas dan
nyeri-nyeri pada lambung sebagai pertanda permulaan daripada penyakit jasmaniah,
maka mental disorder itu mempunyai pertanda awal antara lain; cemas-cemas,
ketakutan, pahit hati, dengki, apatis, cemburu, iri, marah-marah secara
eksplosif, a-sosial, ketegangan kronis dan lain-lain. Ringkasnya
kekacauan/kekalutan mental merupakan bentuk gangguan pada ketenangan batin dan
harmoni dari struktur kepribadian.
Di
Provinsi Jawa Tengah berdasarkan laporan program yang berasal dari Rumah Sakit, kasus
tertinggi gangguan mental dan perilaku terjadi di Kabupaten Klaten yaitu sebesar
9.330 kasus (55,34%) dibanding dengan jumlah keseluruhan kasus gangguan mental
di kabupaten/kota lain di Jawa Tengah. Apabila dilihat berdasarkan jumlah kasus
keseluruhan PTM lain di Kabupaten Klaten adalah 14,77%. Sedangkan kasus
tertinggi kedua adalah Kota Pekalongan yaitu sebesar 2.800 kasus (16,60%) dan
apabila dibanding dengan jumlah keseluruhan PTM lain di Kota Pekalongan adalah
sebesar 19,22%. Kasus ini paling sedikit dijumpai di Kabupaten Wonosobo yaitu 22
kasus (0,15%). Sedangkan kabupaten/kota lain banyak yang belum melaporkan (lihat
grafik). Rata-rata kasus gangguan mental dan perilaku pertahun di Jawa Tengah
adalah 481,65 kasus.
4)
Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
Penyakit jantung adalah
penyakit yang mengganggu sistem pembuluh darah atau lebih tepatnya menyerang
jantung dan urat-urat darah, beberapa contoh pentakit jantung seperti penyakit
jantung koroner, serangan jantung, tekanan darah tinggi, stroke, sakit di
dada (biasa disebut "angina") dan penyakit jantung rematik.
Penyakit jantung koroner
merupakan yang paling tertinggi yang di derita orang-orang. Penyakit ini
menyerang pembuluh darah dan dapat menyebabkan serangan jantung. Serangan
jantung dikarenakan pembuluh arteri yang tersumbat, yang menghambat penyaluran
oksigen dan nutrisi ke jantung. Stroke disebabkan oleh kurangnya aliran
darah yang mengalir ke otak, atau terkadang menyebabkan pendarahan di otak.
Di
Provinsi Jawa Tengah berdasarkan laporan dari Rumah Sakit, kasus tertinggi
Penyakit Jantung Koroner adalah di Kota Semarang yaitu sebesar 4.784 kasus
(26,00%) dibanding dengan jumlah keseluruhan kasus Penyakit Jantung Koroner di
kabupaten/kota lain di Jawa Tengah. Apabila dilihat berdasarkan jumlah kasus
keseluruhan PTM lain di Kabupaten Klaten adalah 3,82%. Sedangkan kasus tertinggi
kedua adalah Kabupaten Banyumas yaitu sebesar 2.004 kasus (10,89%) dan apabila
dibanding dengan jumlah keseluruhan PTM lain di Kabupaten Banyumas adalah
sebesar 9,87%. Kasus ini paling sedikit dijumpai di Kabupaten
Tegal yaitu 2 kasus (0,01%). Sedangkan kabupaten Semarang dan Kabupaten Cilacap
belum melaporkan. Rata-rata kasus Jantung Koroner di Jawa Tengah adalah 525,62
kasus.
Kasus tertinggi Hipertensi adalah di Kota Semarang yaitu
sebesar 67.101 kasus (19,56%) dibanding dengan jumlah keseluruhan Hipertensi di
kabupaten/kota lain di Jawa Tengah. Apabila dilihat berdasarkan jumlah kasus keseluruhan PTM
lain di Kota Semarang terdapat proporsi yang lebih besar yaitu 53,69%. Sedangkan
kasus tertinggi kedua adalah Kabupaten Klaten yaitu sebesar 36.002 kasus
(10,49%) dan apabila dibanding dengan jumlah keseluruhan PTM lain di Kabupaten
Banyumas adalah sebesar 57,01%. Kasus
ini paling sedikit dijumpai di Kabupaten Tegal yaitu 516 kasus (0,15%).
Sedangkan Kabupaten Cilacap belum melaporkan. Rata-rata kasus Hipertensi di Jawa
Tengah adalah 9.800,54 kasus.
Kasus
tertinggi Stroke adalah di Kota Semarang yaitu sebesar 3.986 kasus (17,91%)
dibanding dengan jumlah keseluruhan kasus Stroke di kabupaten/kota lain di Jawa
Tengah. Dibandingkan jumlah kasus keseluruhan PTM lain di Kota Semarang terdapat
proporsi sebesar 3,18%. Sedangkan kasus tertinggi kedua adalah Kabupaten
Sukoharjo yaitu 3.164 kasus (14,22%) dan apabila dibandingkan dengan jumlah
keseluruhan PTM lain di Kabupaten Sukoharjo adalah sebesar 10,99%. Kasus ini
paling sedikit dijumpai di Kabupaten Semarang yaitu 4 kasus (0,01%). Sedangkan
Kabupaten Cilacap juga belum pernah melaporkan. Rata-rata kasus Stroke di Jawa
Tengah adalah 635,60 kasus.
5)
Glaukoma
Glaukoma adalah suatu penyakit dimana tekanan di dalam bola mata
meningkat, sehingga terjadi kerusakan pada saraf optikus dan menyebabkan
penurunan fungsi penglihatan. Tedapat 4 jenis glaucoma, glaukoma sudut terbuka,
glaukoma sudut tertutup, glaukoma kongenitalis, dan glaukoma sekunder.terdapat 4
jenis glaukoma:
Keempat jenis glaukoma ditandai dengan peningkatan tekanan di dalam
bola mata dan karenanya semuanya bisa menyebabkan kerusakan saraf optikus yang
progresif.
Di
Provinsi Jawa Tengah berdasarkan laporan dari Rumah Sakit, pada tahun 2004 untuk
kasus Galukoma hanya ada 3 kabupaten/kota yang melaporkan dan tercatat ada
kasusnya yaitu Kabupaten Karanganyar, Sukoharjo dan Kota Pekalongan. Oleh karena
banyak yang belum ada datanya karena banyak yang belum melaporkan, maka kasus
ini untuk sementara belum bisa dihitung berdasarkan proporsi yang ada.
6) Katarak
Katarak adalah kekeruhan
pada lensa mata yang mengakibatkan pandangan kabur. Kata katarak
berasal dari bahasa Yunani yang berarti air terjun, karena orang yang menderita
katarak mempunyai penglihatan yang kabur seolah-olah dibatasi oleh air terjun.
Pada keadaan normal,
lensa yang jernih berfungsi meneruskan cahaya ke dalam mata agar mata dapat
memfokuskan benda dari jarak yang berbeda-beda. Apabila lensa menjadi keruh,
maka cahaya yang masuk ke dalam mata dapat terpencar dan mengakibatkan pandangan
kabur.
Di
Provinsi Jawa Tengah berdasarkan laporan yang berasal dari Rumah Sakit pada
tahun 2004, kasus tertinggi Katarak adalah di Kota Pekalongan yaitu sebesar
2.579 kasus (26,18%) dibanding dengan jumlah keseluruhan kasus Katarak di
kabupaten/kota lain di Jawa Tengah. Sedangkan apabila dibandingkan jumlah kasus
keseluruhan PTM lain di Kota Pekalongan terdapat proporsi sebesar 18,25%.
Sedangkan kasus tertinggi kedua adalah Kabupaten Banyumas yaitu 1.580 kasus
(16,04%) dan apabila dibandingkan dengan jumlah keseluruhan PTM lain di
Kabupaten Banyumas adalah sebesar 8,29%. Banyak kabupaten/kota lain yang tidak
tercatat atau tidak tampak ada kasusnya. Hal ini dikarenakan dua hal yaitu tidak
melaporkan dan memang tidak ada kasusnya. Namun kabupaten/mana yang tidak ada
kasus, belum bisa diidentifikasi karena kesalahan prosedur pengiriman dan
kesalahan teknis lainnya. Sementara rata-rata kasus ini di Jawa Tengah dalam
setahun adalah 281,42 kasus.
7)
Gangguan Fungsi Hati dan Ginjal
Di Provinsi Jawa Tengah berdasarkan laporan yang berasal
dari Rumah Sakit pada tahun 2004, kasus tertinggi Gangguan Fungsi Hati adalah di
Kabupaten Purbalingga yaitu sebesar 3.048 kasus (50,75%) dibanding dengan jumlah
keseluruhan kasus Gangguan Fungsi Hati di kabupaten/kota lain di Jawa Tengah.
Sedangkan dibandingkan jumlah kasus keseluruhan PTM lain di Kabupaten
Purbalingga terdapat proporsi sebesar 45,94%. Sedangkan kasus tertinggi kedua
adalah Kota Surakarta yaitu 859 kasus (14,30%) dan apabila dibandingkan dengan
jumlah keseluruhan PTM lain di Kabupaten Banyumas adalah sebesar 6,20%.
Kabupaten/kota lain yang tidak tercatat atau tidak tampak ada kasusnya juga
cukup banyak (lihat grafik 12). Hal ini disebabkan karena tidak ada laporan dan
tidak ada kasusnya. Sedangkan rata-rata kasus ini di Jawa Tengah adalah 171,57
kasus.
Sedang
kasus tertinggi Gangguan Fungsi Ginjal adalah Kota Surakarta yaitu sebesar 1.497
kasus (25,22%) dibanding dengan jumlah keseluruhan kasus Gangguan Fungsi Ginjal
di kabupaten/kota lain di Jawa Tengah. Apabila dibandingkan kasus keseluruhan
PTM lain di Kota Surakarta terdapat proporsi sebesar 10,80%. Sedangkan kasus
tertinggi kedua adalah Kabupaten Sukoharjo yaitu 742 kasus (12,50%) dan
dibandingkan dengan jumlah keseluruhan PTM lain di Kabupaten Sukoharjo adalah
2,57%. Kabupaten/kota lain yang tidak tercatat atau tidak tampak ada kasusnya
juga cukup banyak (lihat gambar 13). Hal ini disebabkan karena mungkin tidak ada
laporan dan tidak ada kasusnya. Sedangkan rata-rata kasus Gangguan Fungsi Ginjal
di Jawa Tengah adalah 169,54 kasus.
8) Gangguan Prostat
Kasus
tertinggi Gangguan Prostat berdasarkan laporan Rumah sakit terjadi di Kabupaten
Grobogan yaitu sebesar 4.794 kasus (66,33%) dibanding dengan jumlah keseluruhan
kasus Gangguan Prostat di kabupaten/kota lain di Jawa Tengah. Bila dibanding
kasus keseluruhan PTM lain di Kabupaten Grobogan sebesar 46,81%. Sedangkan kasus
tertinggi kedua adalah Kota Surakarta yaitu 488 kasus (6,75%) dan dibandingkan
dengan jumlah keseluruhan PTM lain di Kota Surakarta maka proprsi kasus ini
adalah 3,52%. Cukup banyak kabupaten/kota lain yang tidak tercatat atau tidak
tampak ada kasusnya (lihat gambar 14). Rata-rata kasus Gangguan Prostat di Jawa
Tengah adalah 206,48 kasus.
9)
Amnesia
Pada tabel 7.2. dapat dilihat bahwa jumlah kasus amnesia di
Provinsi Jawa Tengah tahun 2004 sebanyak 17.970 kasus dari 11 Kabupaten/Kota
yang melaporkan. Dimana terdapat kenyataan data kasus Amnesia yang cukup
fantastis yang dilaporkan oleh Kabupaten Pati yaitu sebesar 17.531 kasus
(97,55). Kemudian kasus tertinggi kedua adalah di Kabupaten Banjarnegara yaitu
sebesar 208 (1,15%). Melihat kenyataan tersebut perlu diadakan pendataan ulang.
B.
Angka Kematian
a.
Angka Kematian Ibu Maternal ( AKI )
Angka kematian ibu dapat diperoleh melalui berbagai studi
yang dilakukan secara khusus untuk mengetahui tingkat kematian ibu seperti
survei di rumah sakit dan beberapa survei di masyarakat dengan cakupan wilayah
yang terbatas. Bersamaan dengan pelaksanaan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
dan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), penelitian kematian ibu
menjadi bagian dari penelitian tersebut yang cakupan wilayahnya menjadi lebih
luas.
Angka kematian ibu yang berasal dari kegiatan SKRT dan SDKI
tersebut merupakan angka nasional dan tidak dapat diuraikan untuk tingkat
provinsi. SDKI terakhir dilaksanakan pada tahun 2002/2003 dengan perkiraan AKI
sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup.
AKI Provinsi Jawa Tengah tahun 2004 berdasarkan hasil Survey
Kesehatan Daerah sebesar 155,22 per 100.000 kelahiran hidup. Urutan penyebab
kematian ibu dari yang terbanyak adalah perdarahan sesudah persalinan, eklamsi,
pre eklamsi, perdarahan sebelum persalinan, dan infeksi.
Proporsi Kematian Ibu terendah dicapai oleh Kota Semarang
dengan jumlah kasus kematian ibu 5 dari 20.233 kelahiran hidup dan Proporsi
Kematian Ibu tertinggi terjadi di Kota Surakarta dengan jumlah kasus kematian
ibu 21 dari 9.488 kelahiran hidup.
Kejadian kematian ibu maternal paling banyak adalah waktu
bersalin sebesar 49,52%, kemudian disusul waktu nifas sebesar 30,06% dan pada
waktu hamil 20,42%.
Gambar
13.
Grafik
Penyebab Kematian Ibu Maternal
Provinsi
Jawa Tengah Tahun 2004
b.
Angka Kematian Bayi ( AKB )
Berdasarkan
laporan program, AKB Provinsi Jawa Tengah tahun 2004 sebesar 6,62 per 1.000
kelahiran hidup. AKB terrendah
diperoleh Kabupaten Boyolali sebesar 0,56 per 1.000 kelahiran hidup dan AKB
tertinggi diperoleh Kabupaten Temanggung sebesar 20,76 per 1.000 kelahiran
hidup.
Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004
Sedangkan
AKB tingkat nasional pada tahun 2001 menurut hasil Surkesnas diperkirakan
sebesar 50 per 1.000 kelahiran hidup.
Sedang
AKB di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 berdasarkan hasil Survey Kesehatan Daerah
sebesar 14,23 per 1.000 kelahiran hidup. Perbedaan ini dimungkinkan terjadi
karena data yang berasal dari laporan program kurang lengkap atau tidak semua
melaporkan.
Bila
ditilik dari target nasional AKB pada tahun 2010 sebesar 40 per 1.000 kelahiran
hidup, maka baik di tingkat Provinsi maupun tingkat kabupaten/kota di seluruh
Provinsi Jawa Tengah sudah berhasil melampaui target nasional.
c.
Angka Kematian
Balita ( AKABA )
AKABA
Provinsi Jawa Tengah tahun 2004 sebesar 8,58 per 1.000 kelahiran hidup.
AKABA terrendah diperoleh Kabupaten Boyolali sebesar 0,76 per 1.000
kelahiran hidup dan AKABA tertinggi diperoleh Kabupaten Purworejo sebesar 26,36
per 1.000 kelahiran hidup.
Bila
ditilik dari target nasional AKABA pada tahun 2010 sebesar 58 per 1.000
kelahiran hidup, maka baik di tingkat Provinsi maupun tingkat kabupaten/kota di
seluruh Provinsi Jawa Tengah sudah berhasil melampaui target nasional.
Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004
C. Keadaan Gizi
a.
Status Gizi Balita
Perkembangan keadaan gizi masyarakat
yang dapat dipantau berdasarkan hasil pencatatan dan pelaporan (RR) program
perbaikan gizi masyarakat yang tercermin dalam hasil penimbangan balita setiap
bulan di posyandu. Keadaan status
gizi masyarakat di Jawa Tengah dapat tercermin dari data tahun 2004 menunjukkan
jumlah balita yang ada (S) sebanyak 2.767.378 dari jumlah tersebut jumlah balita
yang datang dan ditimbang (D) di posyandu sebanyak 2.064.472 dengan rincian
jumlah balita yang naik berat
badannya (N) sebanyak 1.556.443 balita ( 75,39 % ) dan
balita yang
berada dibawah
garis merah
(BGM) sebanyak
35.327 balita ( 1,71%
). Data tersebut menunjukkan bahwa di Jawa Tengah masih banyak
ditemukan balita yang status gizinya berada dibawah standar (BGM).
Prevalensi Kurang Energi dan Protein
(KEP) pada balita yang dipantau melalui kegiatan Pemantauan Status Gizi (PSG)
Posyandu, yang dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan setiap tahun
sekali. Berdasarkan hasil
pemantauan selama 6 (enam) tahun terkhir menunjukkan bahwa status gizi buruk di
Jawa Tengah menunjukkan adanya kecenderungan yang meningkat yaitu dari 0,34%
(1999) yang terus meningkat hingga 1,88% (2004). Sedangkan untuk status gizi
kurang menunjukkan kecenderungan yang semakin turun, yaitu dari 24,58% (1999)
turun menjadi 15,13% (2004). Secara
lengkap perkembangan status gizi pada balita di Jawa Tengah dari tahun 1999 –
2004 seperti terlihat pada tabel
dibawah ini.
Tabel
4.2 : Perkembangan Status Gizi Balita Di Jawa Tengah
|
No
|
Status Gizi
|
Prevalensi
|
|
1999
|
2000
|
2001
|
2002
|
2003
|
2004
|
|
1
|
Gizi Lebih
|
9.29
|
2.74
|
2.59
|
1.75
|
2.12
|
2.54
|
|
2
|
Gizi Baik
|
80.96
|
77.39
|
81.43
|
83.95
|
83.78
|
80.45
|
|
3
|
Gizi Kurang
|
24.58
|
18.84
|
14.34
|
12.98
|
12.75
|
15.13
|
|
4
|
Gizi Buruk
|
0.34
|
1.02
|
1.63
|
1.32
|
1.36
|
1.88
|
Kecenderungan semakin meningkatnya prevalensi balita gizi buruk
disebabkan antara lain oleh semakin memburuknya keadaan ekonomi keluarga yang
diakibatkan oleh berbagai faktor seperti kenaikkan BBM yang beberapa tahun
terakhir ini terus terjadi, lapangan pekerjaan yang semakin sulit serta jumlah
penduduk yang terus meningkat yang secara tidak langsung sangat terkait dengan
timbulnya kasus gizi buruk. Disamping
itu, juga berkaitan dengan upaya penggalakan penjaringan kasus gizi melalui
sosialisasi yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat termasuk media masa
dan lembaga swadaya masyarakat termasuk PKK.
Gambar
16
Kecenderungan
Prevalensi Gizi Kurang dan Buruk
di
Jawa Tengah Tahun 1999 - 2004
Sedang perkembangan prevalensi status gizi kurang yang semakin menurun,
merupakan salah satu dampak dari intervensi yang terus dilakukan oleh pemerintah
melalui program JPSBK, PKPKS-BBM, JPKMM serta dengan program pemberian makanan
tambahan (PMT) pemulihan yang diprioritaskan kepada seluruh sasaran keluarga
miskin sehingga hal ini dapat mencegah terjadinya ancaman “loss
generation” akibat terjadinya
“Booming” balita
kurang gizi. Kegiatan lainnya yang
dilakukan khususnya terhadap kasus gizi buruk antara lain adalah pelacakan kasus
yang bertujuan untuk melakukan analisis tentang faktor-faktor yang berkaitan
dengan gizi buruk serta upaya alternatif penanggulangannya. Rujukan dan perawatan balita gizi buruk yang dilakukan di
Puskesmas maupun RS juga telah memberikan manfaat yang sangat berarti terhadap
upaya penanggulangan kasus gizi buruk, namun demikian kenyataan di lapangan
menunjukkan bahwa masih banyak kasus gizi buruk yang terus bermuculan, hal ini
menunjukkan bahwa faktor utama penyebab gizi buruk belum dapat diatasi secara
tuntas yaitu masalah ketidakmampuan keluarga maupun kemiskinan, sehingga banyak
kasus gizi buruk yang telah disembuhkan di Psukesmas maupun di RS setelah
dikembalikan ke rumah kambuh lagi menjadi gizi buruk akibat kemiskinan keluarga.
Hasil laporan dari Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah tentang perkembangan
kasus gizi buruk secara absolut menunjukkan pada akhir tahun 2004 jumlah kasus
balita gizi buruk yang ditemukan adalah 12.605
anak yang terdiri dari 4.792 anak (38,02%) kasus lama, dan sebanyak 7.813
anak (61,98%) kasus baru. Terjadi kematian sebanyak 118 anak (0,93%), dan kasus
yang sembuh sebanyak 7.134 anak (56,66%) dan sisa kasus yang masih dalam proses
penanganan sebanyak 5.344 anak (42,39%). Keadaan tersebut mencerminkan bahwa persentase kasus gizi
buruk baru cukup tinggi (61,98%) dimana kasus baru ini hampir lebih 50%
merupakan kasus kambuhan. Hal ini membuktikan bahwa timbulnya kasus gizi buruk
itu sangat terkait dengan ketidakmampuan keluarga (kemiskinan keluarga).
Disamping itu keadaan kasus gizi buruk yang mengalami perbaikan juga
menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan yaitu 56,66%, hal ini juga
mencerminkan bahwa upaya intervensi yang dilakukan oleh Pemerintah memberikan
hasil yang cukup bermakna, meskipun disisi lain perlu adanya penyempurnaan yang
lebih komprehensif dengan meningkatkan keterpaduan dan sinkronisasi secara
lintas program maupun lintas sektoral.
b. ASI Eksklusif
ASI (Air Susu Ibu ) merupakan salah satu makanan yang sempurna dan
terbaik bagi bayi karena mengandung unsur-unsur gizi yang dibutuhkan oleh bayi
untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi guna mencapai pertumbuhan dan
perkembangan bayi yang optimal. Oleh
sebab itu, pemberian ASI perlu diberikan secara eksklusif sampai umur 6 (enam )
bulan dan dapat dilanjutkan sampai anak berumur 2 (dua) tahun.
Namun demikian, kendala yang dihadapi selama ini adalah kesulitan dalam
upaya pemantauan pemberian ASI eksklusif karena belum mempunyai system yang
dapat diandalkan. Untuk mengetahui
tingkat pencapaian dalam pemberian ASI eksklusif dilakukan melalui laporan dari
puskesmas yang diperoleh dari wawancara pada waktu kunjungan bayi di Puskesmas.
Hasil yang diperoleh berdasarkan data dari profil Kab/Kota
di Jawa Tengah tahun 2004 ini rata-rata adalah 20,18%, terjadi
peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2003 yang mencapai 17.60%.
Sedangkan tingkat pencapaian pemberian ASI eksklusif ini yang dilakukan
berdasarkan survei dampak program gizi tahun 2004 adalah 49,78%.
Namun demikian pencapaian dirasakan masih sangat rendah sekali bila
dibandingkan dengan target yang diharapkan 80% bayi yang ada mendapat ASI
eksklusif. Dengan demikian tingkat pencapaian dalam program ASI eksklusif ini
harus mendapatkan perhatian yang khusus, dan memerlukan pemikiran dalam mencari
upaya-upaya terobosan serta tindakan nyata yang harus dilakukan oleh provider di
bidang kesehatan dan semua komponen masyarakat dalam rangka
penyampaian informasi maupun sosialisasi guna meningkatkan pengetahuan
dan kesadaran masyarakat.
Disamping itu, sebagai salah satu pegangan dan pedoman dalam rangka
penyebarluasan informasi kepada masyarakat tentang ASI eksklusif ada Sepuluh
Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui tersebut adalah :
1.
Sarana Pelayanan Kesehatan (SPK) mempunyai kebijakan Peningkatan
Pemberian Air Susu Ibu (PP-ASI) tertulis yang secara rutin dikomunikasikan
kepada semua petugas.
2.
Melakukan pelatihan bagi petugas dalam hal pengetahuan dan ketrampilan
untuk menerapkan kebijakan tersebut
3.
Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui dan
penatalaksanaannya dimulai sejak masa kehamilan, masa bayi lahir sampai umur 2
tahun termasuk cara mengatasi kesulitan menyusui.
4.
Membantu ibu mulai menyusui bayinya dalam 30 menit setelah melahirkan,
yang dilakukan di ruang bersalin. Apabila ibu mendapat operasi Caesar, bayi disusui setelah 30 menit ibu sadar.
5.
Membantu ibu bagaimana cara menyusui yang benar dan cara mempertahankan
menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas indikasi medis
6.
Tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI kepada bayi baru
lahir.
7.
Melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi 24 jam
sehari.
8.
Membantu ibu menyusui semau bayi semau ibu, tanpa pembatasan terhadap
lama dan frekuensi menyusui
9.
Tidak memberikan dot atau kempeng kepada bayi yang diberi ASI.
10.
Mengupayakan terbentuknya Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI) dan rujuk ibu
kepada kelompok tersebut ketika pulang dari Rumah sakit/Rumah bersalin/sarana
pelayanan Kesehatan.
c. Kerawanan Pangan
Dalam rangka mengetahui kerawanan pangan disuatu daerah,
maka terlebih dahulu harus mengetahui beberapa hal yang dapat digunakan
indikator bahwa suatu daerah tersebut terjadi kerawanan pangan. Untuk melakukan klasifikasi daerah terjadi kerawanan pangan
dapat dilihat dari tingkat ketersediaan pangan pokok khususnya beras dan jagung.
Untuk pengkajian tingkat ketersediaan ini ada beberapa faktor yang terkait
secara langsung antara lain tingkat produksi pertanian, kerusakan lahan termasuk
puso, dan pemanfaatan teknologi pertanian. Keseluruhan ini merupakan tugas pokok dari sektor pertanian,
sedangkan di sektor Kesehatan untuk melakukan pengkajian terhadap kerawanan
pangan dapat dilihat dari sudut tingkat konsumsi pangan masyarakat di tingkat
rumah tangga.
Hasil survei konsumsi gizi (SKG) dapat diketahui tingkat
konsumsi energi dan protein yang dibandingkan dengan angka kecukupan gizi (AKG).
Hasil survey konsumsi gizi yang dilakukan dari tahun 1998 – 2003 menunjukkan
adanya kecenderungan penurunan tingkat konsumsi energi rata-rata penduduk Jawa
Tengah mulai dari 101.7% (1998) terus menurun hingga 91.85% (2003).
Sedangkan untuk tingkat konsumsi protein dari tahun 1998 – 2003
menunjukkan pencapaian rata-rata diatas AKG (protein : 46,5 gram per kapita per
hari) yaitu 127,5% AKG (1998) dan turun menjadi 119,75% AKG (2004).
Namun demikian bila ditinjau lebih jauh tingkat konsumsi protein tersebut
menunjukkan bahwa lebih dari 90 % berasal dari konsumsi protein nabati, sehingga
pencapaian skor pola pangan harapan (PPH) menjadi rendah, yaitu masih < 90
(PPH ideal adalah 100). Pencapaian
Skor PPH ini mempunyai kecenderungan yang menurun yaitu 89 pada tahun 1998
menurun menjadi 82 (2003). Secara
lebih rinci gambaran tingkat konsumsi rata-rata energi dan protein serta skor
PPH dapat dibaca pada tabel di bawah ini.
Tabel
4.3 : Pencapaian Konsumsi Kalori, Protein dan Skor PPH Selama 6 Tahun
|
No
|
Konsumsi
|
AKG
|
Pencapaian
(%)
|
|
1998
|
1999
|
2000
|
2001
|
2002
|
2003
|
|
1
|
Kalori
|
2.150
|
101.7
|
94.29
|
96.21
|
94.76
|
95.14
|
91.85
|
|
2
|
Protein
|
46.5
|
127.5
|
119.07
|
124.12
|
126.53
|
124.44
|
119.75
|
|
3
|
PPH
|
93
|
89
|
79
|
81
|
80
|
81
|
82
|
d. Prevalensi Gaky
Prevalensi
gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) di Jawa Tengah dapat dilihat dari hasil
survei pemetaan gaky yang dilakukan oleh UNDIP Semarang pada tahun 1996 yang
menunjukkan angka rata-rata Jawa Tengah 4,5%, yang berarti bahwa tidak termasuk
daerah endemis. Hasil ini merupakan
keadaan yang sangat menggembirakan, mengingat prevalensi Gaky pada tahun 1981
adalah 34,6% yang termasuk endemis berat. Namun demikian, keadaan tersebut bila
dibandingkkan lagi dengan hasil evaluasi GAKY yang dilakukan oleh UNDIP
bekerjasama dengan Direktorat Gizi Masyarakat Depkes RI tahun 2003 menunjukkan
angka prevalensi Gaky Jawa Tengah 6,58% dan evaluasi Gaky yang dilakukan oleh
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah yang bekerjasama dengan Balai Litbang Gaky
Borobudur Magelang pada daerah endemis gaky pada tahun 2004 dengan jumlah sampel
yang dikembangkan hingga di tingkat kecamatan menunjukkan angka prevelensi gaky
Jawa Tengah adalah 9,68%. Dengan memperhatikan keadaan ini telah merubah status
Jawa Tengah dari non endemis (1996) menjadi endemis gaky ringan pada tahun 2003
atau 2004, serta merupakan salah satu indikasi yang perlu diperhatikan dan
diwaspadai guna meningkatkan upaya penangulangan gaky yang lebih baik lagi.
Gambar
17
Perkembangan
Prevalensi GAKY di Jawa Tengah
Berdasarkan
hasil tersebut, meskipun Jawa Tengah termasuk endemis ringan bila ditelusur
lebih jauh ternyata terdapat kabupaten yang termasuk endemis berat yaitu
Kabupaten Temanggung (44,82%) dan endemis sedang Kabupaten Wonosobo (24,93%).
Disamping itu juga terdapat 26 Kecamatan endemis berat, 19 Kecamatan
endemis sedang dan 98 Kecamatan endemis ringan.
Upaya yang dilakukan dalam penanggulangan Gaky ini dapat dikelompokkan
menjadi kegiatan jangka pendek melalui pemberian suplementasi yodium dan jangka
panjang dengan pemasyarakatan garam beryodium.
Pemberian
kapsul yodium diperuntukkan hanya pada kelompok masyarakat yang berada di daerah
endemik gaky, khususnya kecamatan endemis berat dan sedang.
Kelompok masyarakat yang menjadi sasaran utama dalam pemberian kapsul
yodium adalah wanita usia subur (WUS) termasuk
ibu hamil dan ibu meneteki serta murid SD/MI kelas IV, V, VI yang
bertempat tinggal di kecamatan endemis berat.
Pemberian kapsul yodium ini dilakukan setiap tahun sekali secara gratis
melalui posyandu dan atau kegiatan khusus secara serentak di tingkat desa. Hasil
pemberian kapsul yodium untuk Wanita Usia Subur pada tahun 2004 di Jawa Tengah
mencapai 98,23% dengan jumlah sasaran yang diberi sebanyak 788.302 orang. Hasil
ini bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2003 terjadi peningkatan sekitar
2% dengan jumlah sasaran yang diberi naik dari 654.111 orang (2003) menjadi
788.302 (2004). Wilayah Kabupaten
yang melaksanaan kegiatan pemberian kapsul yodium adalah sebanyak 12 kabupaten
yang termasuk kategori endemik yaitu : Kabupaten Tegal, Kabupaten Purbalingga,
Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Magelang, Kabupaten
Temanggung, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Brebes, Kabupaten Kendal, Kabupaten
Grobogan, Kabupaten Pati, dan Kabupaten Wonogiri.
Untuk
mengetahui hasil pemberian kapsul yodium setiap sasaran selama 6 (enam) tahun
dapat dilihat lebih lanjut sebagai berikut.
Tabel
4.4 : Tingkat Pencapaian Pemberian Kapsul Yodium
|
No
|
Sasaran
|
Persentase
|
|
1999
|
2000
|
2001
|
2002
|
2003
|
2004
|
|
1
|
Ibu Hamil
|
94.05
|
92.20
|
92.99
|
99.15
|
97.33
|
99.81
|
|
2
|
Ibu Meneteki
|
96.45
|
90.10
|
79.43
|
99.33
|
103.29
|
98.64
|
|
3
|
WUS
|
95.93
|
94.60
|
91.84
|
98.97
|
93.65
|
98.93
|
|
4
|
Murid SD
|
99.92
|
97.32
|
95.25
|
94.29
|
99.73
|
99.59
|
Tabel
4.4 menunjukkan bahwa cakupan pemberian kapsul yodium untuk semua sasaran pada
tahun 2004 mencapai rata-rata > 90%. Sedangkan kalau dilihat dari tingkat
kecendurungan pencapaian kapsul yodium untuk setiap sasaran selama 6 (enam)
tahun terakhir secara rata-rata keseluruhan menunjukkan tren yang terus
meningkat.
Disamping itu bila dilihat secara absolut cakupan pemberian
kapsul yodium secara total menunjukkan adanya kecenderungan yang terus
meningkat. Peningkatan yang menyolok pada tahun 2000 yaitu 372.507 orang (1998)
menjadi 516.075 orang
(2000) dan meningkat lagi menjadi 788.413 orang (2002). Akan tetapi pada tahun 2004 terjadi
penurunan seperti tampak pada tabel
berikut :
Tabel
4.5 : Kecendurungan Pencapaian Pemberian Kapsul Yodium Secara Absolut
|
No
|
Sasaran
|
Jumlah
|
|
1999
|
2000
|
2001
|
2002
|
2003
|
2004
|
|
1
|
Ibu Hamil
|
13.460
|
13.121
|
9.701
|
17.862
|
165.596
|
5.769
|
|
2
|
Ibu Meneteki
|
19.547
|
15.427
|
10.280
|
18.944
|
23.700
|
12.226
|
|
3
|
WUS
|
362.955
|
364.617
|
281.206
|
537.876
|
309.449
|
162.806
|
|
4
|
Murid SD
|
92.770
|
122.910
|
103.416
|
213.731
|
162.361
|
99.023
|
|
|
Jumlah
|
488.732
|
516.075
|
404.603
|
788.413
|
654.111
|
279.824
|
Dengan
memperhatikan keadaan diatas dapat disimpulkan bahwa upaya penanggulangan Gaky
dengan suplementasi kapsul yodium ini sangat efektif. Hal ini terbukti dari prevalensi Gaky 34,6% (1981) dapat
diturunkan menjadi 4,5% (1996). Namun
prevalensi berubah naik menjadi 6,58% (2003) dan 9,68 (2004) yang disebabkan
adanya perubahan kebijakan yang tidak memperbolehkan melakukan pemberian
suplementasi yodium didaerah endemis hasil pemetaan tahun 1981 dan harus
menggunakan hasil pemetaan tahun 1996 yang mengakibatkan terjadinya pengurangan
atau penyempitan wilayah, dan hanya mengandalkan dengan penggunaan garam
beryodium yang hanya mempunyai persentase 60% yang memenuhi syarat.
e. Garam Beryodium
Garam beryodium merupakan salah
satu program andalan jangka panjang dalam upaya penanggulangan masalah Gaky.
Untuk itu, kualitas garam beryodium yang beredar di masyarakat harus
selalu dipantau sehingga akan diketahui kandungan yodium yang ada dalam garam
konsumsi tersebut memenuhi syarat atau tidak.
Pemantauan terhadap kandungan yodium dalam garam konsumsi dilakukan
pemantauan secara kualitattif dengan menggunakan yodina test, hal ini sangat
mudah dilakukan tanpa harus memiliki ketrampilan khusus. Pelaksanaan pemantauan
garam beryodium ini di Jawa Tengah
dilakukan secara rutin setiap tahun
sekali bahkan ada beberapa Kabupaten/Kota yang melakukan setiap caturwulan
melalui anak sekolah dasar dengan pelaksana adalah petugas gizi dan atau petugas
kesehatan yang ada di Puskesmas.
Hasil pemantauan garam beryodium
secara series dari tahun 1998 hingga tahun 2004 ini secara rata-rata kandungan
yodium dalam garam konsumsi yang memenuhi syarat (kandungan yodium 30-80 ppm)
masih berkisar antara 60-70%, seoerti yang tampak pada tabel 5 berikut.
Hal ini menunjukkan bahwa upaya untuk mewujudkan USI (universal salt iodization) dengan target 90% adalah masih sangat sulit untuk dicapai.
Untuk itu, upaya pemasyarakatan garam beryodium ini harus terus
ditingkatkan dan diupayakan dengan menggalang semua komponen masyarakat termasuk
lembaga swadaya masyarakat secara bersama-sama, terpadu dan berkesinambungan.
Tabel 4.6 : Keadaan
Garam Beryodium di Mayarakat Berdasarkan Hasil
Pemantauan Melalui Murid SD
|
No
|
Kandungan
Yodium
|
Persentase
|
|
1999
|
2000
|
2001
|
2002
|
2003
|
2004
|
|
1
|
MMS
|
73.92
|
69.49
|
64.49
|
69.76
|
66.43
|
62.39
|
|
2
|
TMS
|
26.08
|
30.58
|
35.51
|
30.24
|
33.57
|
37.61
|
Ket :
- MMS = memenuhi syarat (30ppm – 80 ppm)
-
TMS = tidak memenuhi syarat ( <
30 ppm dan non yodium)
Namun
demikian, hasil tersebut bila dibandingkan dengan hasil pemantauan yang
dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) melalui kegiatan survei kesehatan
rumah tangga (SKRT), menunjukkan bahwa garam beryodium yang memenuhi syarat di
masyarakat persentasenya lebih jelek lagi.
Hasil dari pemantauan yang dilakukan oleh BPS seperti terlihat pada tabel
6 dibawah ini.
Tabel 4.7 : Keadaan
Garam Beryodium di Masyarakat Berdasarkan Hasil
Pemantauan Melalui
SKRT
|
No
|
Kandungan
Yodium
|
Persentase
|
|
1998
|
1999
|
2000
|
2001
|
2002
|
2003
|
2004
|
|
1
|
Cukup
|
61.90
|
55.72
|
51.81
|
55.65
|
66.43
|
68.54
|
49.00
|
|
2
|
Kurang
|
15.30
|
21.94
|
25.07
|
20.24
|
18.39
|
19.30
|
37.70
|
|
3.
|
Non Yod
|
22.80
|
22.33
|
23.04
|
33.53
|
15.18
|
12.17
|
16.30
|
Ket
: - Cukup
= MMS
- Kurang = TMS
-
Non yod = Tidak mengandung yodium
D. KEADAAN LINGKUNGAN
Upaya penyehatan lingkungan dilaksanakan dengan lebih
diarahkan pada peningkatan kualitas lingkungan, yaitu melalui kegiatan yang
bersifat promotif, preventif dan protektif. Adapun pelaksanaannya bersama dengan
masyarakat, diharapkan secara epidemiologi akan mampu memberikan kontribusi yang
bermakna terhadap kesehatan masyarakat.
Namun
demikian pada umumnya yang menjadikan permasalahan utama adalah masih rendahnya
jangkauan program. Hal ini lebih banyak diakibatkan oleh berbagai faktor antara
lain dana dan adanya otonomi. Sedangkan permasalahan utama yang dihadapi
masyarakat adalah akses terhadap kualitas lingkungan yang masih sangat rendah.
Lingkungan sehat merupakan salah satu pilar utama dalam pencapaian Indonesia
Sehat 2010.
Beberapa
indikator penting kesehatan lingkungan dapat dikemukakan, sebagai berikut :
a.
Rumah / Bangunan
Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang berfungsi
sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Rumah haruslah
sehat dan nyaman agar penghuninya dapat berkarya untuk meningkatkan
produktivitas.
Konstruksi
rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor
risiko sumber penularan berbagai jenis penyakit khususnya penyakit yang berbasis
lingkungan.
Tahun
2004 jumlah rumah di Provinsi Jawa Tengah seluruhnya 6.997.108 buah, jumlah yang
diperiksa 2.219.885 buah. Dan rumah yang memenuhi syarat kesehatan 1.573.488
buah (70.88 %). Target SPM bidang kesehatan Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa
Tengah Tahun 2005 adalah 75 %.
Secara
umum rumah dikatakan sehat apabila memenuhi beberapa kriteria, diantaranya
adalah bebas jentik nyamuk. Bebas jentik nyamuk disini terutama bebas jentik
nyamuk Aedes aegypti yang merupakan
vektor penyakit demam berdarah dengue.
Penyakit
demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus
dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti. Penyakit ini dapat menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan
kematian terutama pada anak serta sering menimbulkan kejadian luar biasa atau
wabah.
Nyamuk Aedes
aegypti ini hidup dan berkembang biak pada tempat-tempat penampungan air
bersih yang tidak langsung berhubungan dengan tanah seperti : bak mandi/wc,
minuman burung, air tandon, air tempayan/gentong, kaleng, ban bekas dan lain
lain. Di Provinsi Jawa Tengah nyamuk Aedes
aegypti tersebar luas di pelosok kota dan desa, kecuali di wilayah yang
ketinggiannya lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut. Kepadatan nyamuk
ini akan meningkat pada waktu musim hujan, dimana terdapat banyak genangan air
bersih yang dapat menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk Aedes
aegypti.
Di Provinsi
Jawa Tengah kasus demam berdarah berfluktuasi jumlahnya setiap tahun dan
cenderung meningkat. Demikian pula wilayah yang terjangkit bertambah luas.
Perkembangan yang tidak memuaskan mengenai wabah demam berdarah ini diduga
karena kemudahan penularan yang dipicu oleh tingkat kepadatan penduduk, semakin
meningkatnya arus transportasi/mobilitas penduduk antar wilayah, angka kepadatan
nyamuk Aedes aegypti tinggi, rendahnya angka bebas jentik dan belum
optimalnya pengorganisasian upaya pengelolaan pemberantasan penyakit demam
berdarah.
Jumlah
rumah/bangunan yang ada di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004, adalah 6.997.108
buah, rumah/bangunan yang diperiksa hanya 1.940.406 buah (27.73 %). Dari
rumah/bangunan yang diperiksa, 1.455.636 buah (75.02 %) bebas jentik nyamuk Aedes
aegypti (masih dibawah target SPM bidang Kesehatan Kab/Kota di Provinsi Jawa
Tengah Tahun 2005, yaitu rumah/bangunan bebas jentik nyamuk 95 %).
Untuk
mencegah dan mengendalikan populasi nyamuk penularnya (Aedes aegypti) perlu digalakkan upaya Pemberantasan
Sarang Nyamuk (PSN) melalui kegiatan 3 M ( Menguras – Menutup –
Mengubur ) secara terus menerus yang melibatkan peran serta masyarakat.
Keberadaan nyamuk penular ini sangat erat hubungannya dengan pengetahuan, sikap
dan perilaku masyarakat. Guna membina peran serta masyarakat secara efektif.
Kegiatan pembinaannya perlu dikoordinasikan oleh Kelompok Kerja Operasional
Pemberantasan Penyakit demam berdarah ( POKJANAL DBD ) yang merupakan forum
kerja lintas sektoral dengan makna yang terkandung dalam Sistem Kesehatan
Nasional (SKN) yang menekankan pentingnya prinsip pemerataan, yang didalam
pelaksanaannya menuntut upaya promotif, preventif, kuratif serta rehabilitatif,
peran serta masyarakat, kerja sama lintas sektoral sebagai strategi untuk
mencapai kesehatan bagi semua.
b.
Tempat
Umum dan Pengelolaan Makanan ( TUPM )
Tempat tempat umum adalah kegiatan bagi umum yang dilakukan oleh badan
badan pemerintah, swasta atau perorangan yang langsung digunakan oleh masyarakat
yang mempunyai tempat dan kegiatan tetap serta memiliki fasilitas.
Tempat tempat umum di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004, jumlah yang ada
120.056 buah, jumlah yang diperiksa 67.631 buah, Jumlah sehat 48.401 buah (71.57
% ). Target SPM Bidang Kesehatan
Kab/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2005 sebesar 45 %.
Pengawasan sanitasi tempat
umum bertujuan untuk mewujudkan kondisi tempat umum yang memenuhi syarat
kesehatan agar masyarakat pengunjung terhindar dari kemungkinan bahaya penularan
penyakit serta tidak menyebabkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat di
sekitarnya.
Pengelolaan makanan adalah suatu bangunan yang menetap dengan segala
karyawan dan peralatan yang dipergunakan untuk membuat dan menjual makanan bagi
konsumen, yang meliputi restoran, rumah makan, kantin, warung kopi, snack bar,
tempat penjualan minuman dingin, pabrik makanan minuman sederhana.
Risiko dari pengelolaan makanan mempunyai peluang yang sangat besar
dalam penularan penyakit karena jumlah konsumen relatif banyak dalam waktu
bersamaan. Oleh karena itu perlu teknologi dan metode yang lebih tepat untuk
pembinaan dan pengawasannya.
Pengawasan sanitasi tempat tempat umum, meliputi : sarana wisata, sarana
ibadah, sarana transportasi, sarana ekonomi dan sosial.
Ø
Sarana wisata,
meliputi : hotel berbintang, hotel melati/losmen, salon/pangkas rambut, usaha
rekreasi, hiburan umum dan gedung pertemuan/gedung pertunjukan.
Ø
Sarana ibadah,
meliputi : masjid/mushola, gereja, klenteng, pura, wihara.
Ø
Sarana
transportasi, meliputi : terminal, stasiun, pelabuhan udara, pelabuhan laut,
pangkalan sado.
Ø
Sarana Ekonomi
dan Sosial, meliputi : pasar, pusat pembelanjaan, apotik, sarana/panti sosial,
sarana pendidikan dan sarana kesehatan.
Jumlah hotel
diperiksa : 643 buah, jumlah sehat : 527 buah (81.96 %). Jumlah restoran/rumah
makan diperiksa : 5.177 buah, jumlah sehat : 3.721 (71.88 %). Jumlah pasar
diperiksa : 1331 buah, jumlah sehat : 679 buah ( 51.01 % ). Jumkah TUPM
diperiksa : 41.772 buah, jumlah sehat : 31.673 buah ( 75.82 % ).
c.
Sarana Kesehatan Lingkungan ( persediaan air bersih, jamban, tempat sampah,
pengelolaan air limbah ).
Pembuangan
kotoran baik sampah, air limbah dan tinja yang tidak memenuhi syarat kesehatan
dapat menyebabkan rendahnya kualitas air, serta dapat menimbulkan penyakit
menular di masyarakat. Jamban, tempat sampah, pengelolaan limbah dan persediaan
air bersih merupakan sarana lingkungan pemukiman (PLP).
Kondisi
sarana penyehatan lingkungan pemukiman di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004,
sebagai berikut :
Ø
Jumlah KK yang
telah memiliki sarana air bersih : 2.498.372 (64.70 %).
Ø
Jumlah KK yang
telah memiliki jamban untuk tempat Buang Air Besar (BAB) : 1.898.478 ( 50.22 %
).
Ø
Jumlah KK yang
telah memiliki tempat sampah : 1.280.515 (70.79 %).
Ø
Jumlah KK yang
telah memiliki pengelolaan air limbah : 1.385.707 (48.15%).
Gambar 18
Keluarga
dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar
KK
yang telah memiliki pengelolaan air limbah (48.15 %), berarti sudah di atas
target Renstra tahun 2004 (45 %), akan tetapi masih di bawah SPM bidang
kesehatan Kab/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2005, yaitu rumah yang
mempunyai SPAL : 50 %
Saluran
Pembuangan Air Limbah (SPAL) adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang
air buangan di kamar mandi, tempat cuci, dapur dan lain lain bukan dari jamban
atau peturasan. SPAL yang sehat hendaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut :
Ø
Tidak mencemari
sumber air bersih (jarak dengan sumber air bersih minimal 10 m).
Ø
Tidak
menimbulkan genangan air yang dapat dipergunakan untuk sarang nyamuk (diberi
tutup yang cukup rapat).
Ø
Tidak
menimbulkan bau ( diberi tutup yang cukup rapat ).
Ø
Tidak
menimbulkan becek atau pandangan yang tidak menyenangkan (tidak bocor sampai
meluap)
Kesadaran
masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah masih rendah, hal inilah yang
menyebabkan rendahnya jumlah KK yang telah memiliki pengelolaan air limbah.
Sanitasi
merupakan faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat. Banyaknya
penyakit ditularkan karena tidak dilakukan cara – cara penanganan sanitasi
yang benar. Upaya peningkatan kualitas air bersih akan berdampak positip apabila
diikuti upaya perbaikan sanitasi.
Upaya
sanitasi meliputi pembangunan, perbaikan dan penggunaan sarana sanitasi, yaitu :
pembuangan kotoran manusia (jamban), pembuangan air limbah (SPAL) dan pembuangan
sampah di lingkungan rumah kita.
Sejalan
dengan perkembangan jumlah penduduk di Provinsi Jawa Tengah, maka kebutuhan air
bersih semakin bertambah. Pembangunan air bersih di masing – masing
Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah meliputi daerah Pemukiman Perkotaan dan
Pedesaan. Adapun sumber air di Provinsi Jawa Tengah pada umumnya berasal dari
mata air, sumur dalam, sumur gali dan air permukaan. Sistem yang digunakan untuk
mensuplai air bersih melalui perpipaan dan non perpipaan. Untuk pengelolaannya
pada daerah pemukiman di perkotaan pada umumnya dikelola PDAM ( Perusahaan
Daerah Air Minum ) Kabupaten / Kota.
Permasalahan
terbanyak yang dihadapi Kabupaten/Kota di Jawa Tengah yang berkaitan dengan air
adalah terbatasnya dana untuk pembuatan SAB sehingga cakupan pelayanan air
bersih di Provinsi Jawa Tengah sebesar 78.01 %, masih dibawah target Rencana Strategis Lingkungan Sehat Provinsi
Jawa Tengah tahun 2004, yaitu cakupan air bersih : 80 %.
Persentase
keluarga memiliki akses air bersih Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004, adalah
sebagai berikut :
Ø
Ledeng
: 1.655.269 ( 31.55 % ).
Ø
Sumur pompa
tangan
: 444.167 ( 8.47 % ).
Ø
Sumur Gali : 2.658.644 (
50.67 % ).
Ø
Penampungan Air
Hujan
: 25.130 (
0.48 % ).
Ø
Air Kemasan :
10.462 ( 0.20 % ).
Ø
Sumber air
lainnya
: 452.272 ( 8.62 % ).
Gambar 19
Persentase
Keluarga Memiliki Akses Air Bersih
Dari
tabel 35 terlihat bahwa sumber air bagi keperluan rumah tangga terbanyak adalah
sumur gali, yaitu sebesar 50.67 %. Agar air sumur gali memenuhi syarat kesehatan
sebagai air bersih, maka air sumur gali harus dilindungi dari pencemaran, sumur
gali yang baik harus memenuhi syarat kesehatan.
Dari
perkembangan pelaksanaan program penyehatan lingkungan selama ini terdapat
beberapa kemajuan yang diperoleh, seperti peningkatan cakupan pelayanan
penyehatan lingkungan yang secara tidak langsung dapat meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat. Namun masih terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi
pada penyediaan prasarana dan sarana penyehatan lingkungan, yaitu :
1.
Kurang efektif dan efisiennya investasi yang telah dilakukan pada
pembangunan prasarana dan sarana penyehatan lingkungan.
2.
Air hanya dipandang sebagai benda sosial.
3.
Keterbatasan kemampuan pemerintah.
4.
Belum tersedianya kebijakan dan peraturan perundangan yang mengatur
pemanfaatan potensi tersembunyi yang ada dalam masyarakat.
5.
Penyehatan lingkungan belum menjadi perhatian dan prioritas.
6.
Estimasi dalam hal penganggaran sangat jauh dari yang diharapkan.
E.
PERILAKU MASYARAKAT
a.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ( PHBS )
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat,
menurut HL Blum adalah faktor perilaku. Dengan mewujudkan perilaku yang sehat,
diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan suatu penyakit dan angka kematian
ibu dan anak akibat terlambat /kurangnya kesadaran dalam mengunjungi sarana
pelayanan kesehatan.
Pada kenyataannya, kesadaran masyarakat untuk berperilaku sehat masih
belum seperti yang diharapkan, walaupun beberapa kegiatan yang bertujuan untuk
meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berperilaku yang sehat telah
dilaksanakan. Beberapa kegiatan tersebut antara lain :
Ø
Pertemuan dalam
rangka penyusunan standarisasi PHBS.
Ø
Pertemuan dalam rangka sosialisasi dan advokasi PHBS.
Ø
Pemetaan/ survey
PHBS
Ø
Pembinaan dan
monitoring PHBS.
Ø
Promosi
kesehatan baik dengan media cetak maupun media elektronik dengan materi
program-program prioritas/ pencegahan dan pemberantasan penyakit yang bertujuan
untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat agar masyarakat mempunyai
kesadaran untuk berperilaku hidup bersih dan sehat.
Ø
Pemberian
stimulan sebagai sarana percontohan untuk dikembangkan secara mandiri oleh
masyarakat.
Dalam
kegiatan PHBS terdapat beberapa tatanan, tiga tatanan yang menjadi utama sasaran
PHBS adalah tatanan rumah tangga, tatanan institusi dan tatanan TTU
(Tempat-tempat Umum). Untuk data profil ini, ditampilkan hanya PHBS tatanan
rumah tangga karena mempunyai daya ungkit yang paling besar terhadap perubahan
perilaku masyarakat secara umum.
Untuk
mendapatkan data profil perilaku sehat ini telah dilakukan survey setiap tahun,
di 35 Kab/Kota, jumlah sampel
survey masing-masing Kab/Kota sangat
bervariasi, sehingga mempengaruhi dalam menganalisisnya. PHBS di dalam profil
ini mencakup data rumah tangga sehat dan data rumah tangga yang ber-PHBS.
Dari hasil
survey yang dilaksanakan di 35 Kabupaten/Kota dengan jumlah sampel
masing–masing Kabupaten sebesar
210 sampel (rumah) terinci sebagai berikut :
persentase
rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat utama dan
paripurna adalah 77
%. Data ini apabila dibandingkan
dengan target renstra 2004 sebesar 60 % dan tahun 2005 sebesar 65 % berarti
sudah melebihi target.
Kab yang
mempunyai angka capaian rumah tangga ber-PHBS rendah adalah sbb :
Ø
Kab.
Batang =
65 %
Ø
Kab. Pekalongan
= 68
%
Ø
Kab.
Magelang =
68 %
Sedangkan
Kab yang mempunyai angka capaian tinggi adalah :
Ø
Kota Semarang
= 94
%
Ø
Kota Magelang
= 90
%
Ø
Kota Pekalongan
= 84
%
Akan tetapi
survey sejumlah 210 sampel per Kab sehingga jumlah keseluruhan se JawaTengah
sebesar 7.350 sampel belum menggambarkan data seluruh penduduk Jawa Tengah.
Sedangkan
rumah tangga sehat berdasarkan laporan rutin diperoleh angka
rumah tangga yang mempunyai strata utama dan paripurna pencapainnya
sebesar 68,76 % , apabila dibandingkan dengan target renstra 2004 dan 2005 juga
sudah melebihi target.
Kab yang
mempunyai angka capaian rumah tangga sehat
tinggi adalah sbb :
Ø
Kota Semarang
= 93,81
%
Ø
Kota
Magelang =
89,99 %
Ø
Kota Pekalongan
= 83,81
%
Sedangkan
Kab yang mempunyai angka capaian rendah adalah
:
Ø
Kab. Brebes =
39,50 %
Ø
Kab. Boyolali
= 44,49
%
Ø
Kab. Sukoharjo
= 51,99
%
Gambar 20
Persentase
Posyandu Berdasarkan Strata
b.
Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat ( JPKM )
JPKM merupakan suatu upaya pemeliharaan kesehatan secara
paripurna, terstruktur yang dijamin kesinambungan dan mutunya, dimana
pembiayaannya dilaksanakan secara Pra upaya.
Berdasarkan laporan Kabupaten / Kota, jumlah penduduk yang
tercover oleh berbagai JPK ( Jaminan Pemeliharaan Kesehatan ) sebesar
13.464.920 Jiwa (41,56 %)
dari total jumlah penduduk, dengan perincian :
Ø
Peserta
Askes
= 1.937.012 Jiwa ( 5,98 % )
Ø
Peserta Bapel dan Pra Bapel JPKM =
499.605 Jiwa ( 1,54 % )
Ø
Peserta Jamsostek
= 580.198 Jiwa (
1,79 % )
Ø
Peserta Kartu Sehat ( Program PKPS-BBM bagi keluarga
miskin )
= 9.872.087
Jiwa (30,47 %)
Ø
Peserta Dana
Sehat
= 422.571 Jiwa (
1,30 % )
Ø
Asuransi
Komersial lainnya
= 153.447 Jiwa ( 0,47 % )
Terlihat
bahwa prosentase terbesar merupakan kontribusi dari kartu sehat (30,47 %), dimana pembiayaan kesehatan keluarga
miskin ditanggung oleh pemerintah dan sisanya 11,09
% merupakan peserta non Gakin yang pembiayaan kesehatannya ditanggung secara
mandiri oleh peserta sendiri.
Pencapaian
data JPK secara keseluruhan tersebut bila
dibandingkan dengan target Renstra tahun 2004 (35 %), berarti sudah mencapai
target. Jika dilihat per kabupaten
/ Kota, cakupan penduduk yang menjadi
peserta JPK Pra – bayar tertinggi adalah
Kota Magelang (76,76 %) dan
cakupan yang terendah di Kabupaten
Blora (24,62
%).
Apabila dibandingkan dengan data JPK pada tahun 2003
pencapaian sebesar 40,58 % data terinci sebagai berikut :
Ø
Peserta
Askes
= 1.927.238 Jiwa ( 6,01 % )
Ø
Peserta Bapel dan Pra Bapel JPKM = 297.997
Jiwa ( 0,93 % )
Ø
Peserta Jamsostek
= 483.566 Jiwa (
1,51 % )
Ø
Peserta Kartu Sehat ( Program PKPS-BBM bagi keluarga
miskin )
= 9.811.770
Jiwa ( 30,6 % )
Ø
Peserta Dana
Sehat
= 391.062 Jiwa (
1,22 % )
Ø
Asuransi
Komersial lainnya
= 100.764
Jiwa ( 0,31 % )
Maka ada peningkatan
pencapaian sebesar : 1,28 %
Gambar
21
Cakupan
Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar
c.
Posyandu
Partisipasi atau peran serta masyarakat jelas dirasakan
keberadaan dan perannya dalam segala bidang pembangunan. Wujud peranserta
masyarakat dalam pembangunan juga beragam. Di bidang kesehatan, wujud
partisipasi biasanya berupa upaya kesehatan bersumber-daya masyarakat ( UKBM ),
yang bentuknya bermacam-macam. Ada Posyandu, Polindes, Pos Obat Desa,
Poskestren, Saka Bakti Husada, Dana Sehat , dll.
Pada hakekatnya posyandu merupakan kegiatan yang tumbuh
dari, oleh, dan untuk masyarakat, sehingga pemenuhan kebutuhan sarana dan
prasarana posyandu menjadi tanggung jawab kita bersama terutama masyarakat
disekitarnya.
Dalam perkembangannya ternyata posyandu mendapat tanggapan
positif dari masyarakat. Namun demikian tanggapan positif masyarakat ternyata
belum dibarengi dengan meningkatnya mutu pelayanan, karena masih banyak faktor
yang menyebabkan mutu palayanan posyandu masih rendah antara lain , sumber daya
manusia (SDM) yang dimiliki masih sangat rendah, banyak kader posyandu yang
droup out, sarana dan prasarana belum memadai, termasuk krisis ekonomi yang
berkepanjangan dan tak kunjung usai.
Untuk mengetahui kualitas suatu posyandu dapat menggunakan
telaah kemandirian posyandu yaitu suatu cara pengelompokan posyandu menjadi 4
tingkat perkembangan ( Stratifikasi Posyandu ). Keempat
strata tersebut adalah:
Ø
Posyandu Pratama
Ø
Posyandu Madya
Ø
Posyandu Purnama
Ø
Posyandu Mandiri
Jumlah
posyandu di Jawa Tengah pada tahun 2004 mengalami peningkatan sebesar 325
posyandu, khususnya pada strata
Purnama dan strata Mandiri.
Strata Posyandu Purnama
dan Mandiri tertinggi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2004 adalah sebagai
berikut :
Strata
Purnama :
Ø
Kab. Karanganyar
= 571 Posyandu ( 44,26 % )
Ø
Kota Surakarta
= 227 Posyandu ( 39,48 % )
Ø
Kab Purworejo
= 834 Posyandu ( 49,91 % )
Strata
Mandiri :
Ø
Kab Wonogiri
= 543 Posyandu ( 22,45 % )
Ø
Kota Surakarta
= 127 Posyandu ( 22,09 % )
Ø
Kota Semarang
= 235 Posyandu ( 17,18 % )
Kabupaten
/ Kota dengan prosentase Mandiri rendah :
Kota
Tegal
= 0 %
Kab.
Pemalang
= 0 %
Kab.
Demak
= 0,33 %
Pencapaian
Posyandu Purnama dan Mandiri jika dibandingkan dengan target Renstra tahun 2004
sebesar 30 % dan target 2005 : 35 %, cakupan Posyandu Purnama dan mandiri rata -
rata Jawa Tengah tahun 2004 : 40,77 %, sehingga telah melampaui target.
II. UPAYA KESEHATAN
A.
Upaya Kesehatan Dasar
a.
Pemanfaatan Sarana Pelayanan Kesehatan Dasar
Jumlah
Puskesmas di Jawa Tengah tahun 2004 yaitu Puskesmas Non Perawatan sebanyak 841
dan Rawat Inap 224, dengan Pustu 1820 buah, Pusling 757 buah dan Perahu motor 6
buah. Sarana pelayanan kesehatan dasar yang ada di Desa yaitu Polides yang
sekarang bernama Poliklinik Kesehatan Desa (PKD) yang dicanangkan oleh Bapak
Gubernur pada tahun 2003 Bulan Desember di Desa Grantung Kab. Purbalingga.
Dengan jumlah 4.322, yang akan mendapatkan bantuan pengembangan setiap tahun
1.000 PKD mulai dari tahun 2004 s/d tahun 2007.
Cakupan
kunjungan rawat jalan di Puskesmas di Provinsi Jawa Tengah sebesar 60,28 %,
sedang cakupan kunjungan rawat inap sebesar 0,95 %.
Kegiatan lain yang telah dilaksanakan dalam upaya kesehatan dasar adalah:
Ø
Paradigma Baru
Puskesmas tahun 2003 sebanyak 7 Kabupaten (Brebes, Temanggung, Boyolali,
Purworejo, Banyumas, Demak, Rembang) pada tahun 2004 dikembangkan di 5 Kabupaten
(Pati, Cilacap, Wonogiri, Tegal, Semarang Kab). Rencana
tahun 2005, 7 Kab./Kota (Kudus,
Karanganyar, Sukoharjo, Wonosobo, Sragen, Kebumen dan Magelang Kab.).
Ø
Kabupaten yang
telah dilatih Akreditasi Puskesmas sbb :
Tahun 2003 : 7 Kabupaten
(Purworejo, Karanganyar, Purbalingga, Rembang, Blora, Demak dan Batang)
masing-masing 2 Puskesmas dengan jumlah 14 Puskesmas.Tahun 2004 : 4 Kabupaten
(Kota Surakarta, Kab. Tegal, Pati dan Magelang) masing-masing 3 puskesmas
dengan jumlah 12 Puskesmas.
Ø
Pelatihan
swadana Kab. yaitu Kabupaten Wonogiri melatih 8 puskesmas.
Ø
Untuk tahun 2005 akan dilatih 5 Kabupaten dengan jumlah 11
puskesmas.
Ø
Sampai dengan
tahun 2004 dari 35 Kabupaten/Kota, 12
Kabupaten/Kota yang sudah mendapatkan pelatihan akreditasi puskesmas (34%), dari
841 puskesmas sudah 32 Puskesmas yang dilatih (0,03%), walaupun di
masing-masing Kabupaten/Kota baru 2-3 puskesmas yang telah mendapatkan pelatihan
dari Provinsi diharapkan pelatihan akreditasi akan terus dilakukan setiap tahun
dan diharapkan Kabupaten/Kota dapat mengembangkannya sesuai kemampuan dana yang
tersedia.
Ø
Sedangkan
Quality Assurance (QA) sudah 35 Kabupaten /Kota di Jawa Tengah
Ø
Sampai dengan
tahun 2004, dari 841 puskesmas sudah
171 Puskesmas yang sudah dilatih PONED ( 20,3%),
Ø
Dari 841
Puskesmas, 132 Puskesmas, sudah dilatih PPGD (15,6%)
Ø
Provinsi sudah
menyusun Pedoman Asuhan Keperawatan di Puskesmas bagi Petugas dengan penyakit :
TB Paru, Balita KEP, Diabetes Melitus (DM), Demam Berdarah (DB), Gangguan Jiwa,
ISPA (th.2001), Hepatitis, HIV-Aids, Stroke, hipertensi th.2002), typhus, Diare,
Kusta (th. 2003).
Ø
Diharapkan untuk
tahun-tahun yang akan datang dapat memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai
standar kepada masyarakat yang dapat dipertanggungjawabkan dengan
diberikan pelatihan-pelatihan kepada petugas puskesmas didalam
meningkatkan kinerja dan
pengetahuan petugas Puskesmas.
b.
Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
1). Pelayanan Kesehatan Antenatal
Cakupan
pelayanan antenatal dapat dipantau melalui pelayanan kunjungan baru ibu hamil
(K1) untuk melihat akses dan pelayanan kesehatan ibu hamil sesuai standar paling
sedikit empat kali (K4) dengan distribusi sekali pada triwulan pertama, sekali
pada triwulan dua, dan dua kali pada triwulan ketiga.
Pelayanan
yang diberikan oleh petugas kesehatan pada ibu hamil yang berkunjungan ke tempat
pelayanan kesehatan atau antenatal care (ANC) meliputi Penimbangan Berat Badan,
Pemeriksaan kehamilannya, Pemberian Tablet Besi, Pemberian Imunisasi TT dan
Konsultasi.
Cakupan
kunjungan ibu hamil K4 Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2004 adalah 82,95%,
dengan rentang antara yang terrendah 60,86% (Kabupaten Semarang) dengan yang
tertinggi 98,33% (Kabupaten Pekalongan).
Bila
dibandingkan dengan target K4 Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 sebesar 78%, maka
terdapat 23 dari 35 kabupaten/kota atau 65,71% yang berhasil mencapai target,
sedangkan 12 kabupaten/kota lainnya atau 34,29% masih di bawah target, yaitu :
Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Kebumen, Kabupetan Wonogiri, Kabupaten
Grobogan, Kabupaten Blora, Kabupaten Rembang, Kabupaten Pati, Kabupaten
Semarang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang, dan Kota
Tegal. Sementara itu terdapat satu Kabupaten yang sudah berhasil mencapat target
Indonesia Sehat 2010, yaitu Kabupaten Pekalongan dengan cakupan K4 sebesar
98,33%.
Secara
keseluruhan di tingkat Provinsi Jawa Tengah cakupan kunjungan ibu hamil K4
mengalami sedikit peningkatan dari tahun 2003 sebesar 79,79% menjadi 82,95% pada
tahun 2004.
Gambar
22
Cakupan Pelayanan Antenatal (K4)
Provinsi
Jawa Tengah Tahun 2004
2).
Pertolongan Persalinan
Tenaga
yang dapat memberikan pertolongan persalinan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
tenaga profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, pembantu
bidan, dan perawat bidan) dan dukun bayi (dukun bayi terlatih dan tidak
terlatih).
Cakupan
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan (profesional, tidak termasuk oleh
dukun bayi meskipun terlatih dan didampingi oleh bidan) tingkat Provinsi Jawa
Tengah pada tahun 2004 sebesar 83,07% kisaran rentang antara yang terrendah
63,76% (Kabupaten Wonosobo) dengan yang tertinggi 99,96% (Kota Surakarta).
Bila
dibandingkan dengan target pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan Provinsi
Jawa Tengah tahun 2005 sebesar 77%, maka terdapat 21 dari 35 kabupaten/kota atau
60,00% yang berhasil mencapai target, sedangkan 14 kabupaten/kota lainnya atau
40,00% masih di bawah target, yaitu : Kabupaten Purbalingga, Kabupaten
Banjarnegara, Kabupaten Kebumen, Kabupetan Wonosobo, Kabupaten Boyolali,
Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora, Kabupaten Rembang, Kabupaten Semarang,
Kabupaten Temanggung, Kabupaten Batang, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Brebes,
dan Kota Tegal.
Sementara
itu terdapat 9 Kabupaten/Kota atau 25,71% yang sudah berhasil mencapat target
Indonesia Sehat 2010, yaitu Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Sragen, Kabupaten
Pati, Kabupaten Jepara, Kabupaten Demak, Kabupaten Pekalongan, Kota Surakarta,
Kota Semarang dan Kota Pekalongan.
Secara
keseluruhan di tingkat Provinsi Jawa Tengah cakupan pertolongan persalinan oleh
tenaga kesehatan mengalami sedikit peningkatan dibanding tahun 2003 sebesar
82,75% menjadi 83,07% pada tahun 2004.
Gambar
23
Cakupan
Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan
Provinsi
Jawa Tengah Tahun 2004
3). Pelayanan Kesehatan Neonatal, Bayi, dan Balita
a)
Kunjungan Neonatus (0-28 hari)
Cakupan kunjungan neonatus tingkat Provinsi Jawa Tengah pada
tahun 2004 sebesar 93,17% dengan rentang antara yang terrendah 72,28% (Kabupaten
Semarang) dengan yang tertinggi 110,10% (Kota Tegal, Kab. Banyumas, Kab.
Temanggung, Kab. Pekalongan, dan Kab. Blora).
Bila dibandingkan dengan target kunjungan neonatus Provinsi
Jawa Tengah tahun 2005 sebesar 100% Kabupaten/Kota telah berhasil mencapai
target. Dengan tidak adanya kabupaten/kota yang dibawah target dapat disimpulkan
bahwa Provinsi Jawa Tengah terlalu rendah dalam menetapkan target tahun 2005
sebesar 65% sementara target nasional untuk tahun 2005 sebesar 77%. Penetapan
target cakupan kunjungan neonatus seharusnya lebih besar atau minimal sama
dengan target pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, sebab bidan
diharapkan lebih proaktif melakukan kunjungan neonatus meskipun terhadap bayi
yang persalinannya ditolong oleh dukun.
Sementara itu terdapat 20 Kabupaten/Kota atau 57,14% yang
sudah berhasil mencapat target Indonesia Sehat 2010, yaitu Kabupaten Cilacap,
Kabupaten Purworejo, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten,
Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Blora, Kabupaten Rembang,
Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, Kabupaten Demak, Kabupaten Temanggung,
Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Brebes,
Kota Semarang, Kota Pekalongan dan Kota Tegal.
Secara keseluruhan di tingkat Provinsi Jawa Tengah cakupan
kunjungan neonatus mengalami peningkatan dibanding tahun 2003 sebesar 92,06%
menjadi 93,17% pada tahun 2004.
Gambar
24
Cakupan
Kunjungan Neonatus Provinsi Jawa Tengah
Tahun
2004
b) Kunjungan Bayi (1-12 bulan)
Kunjungan bayi yang
dimaksudkan adalah bayi yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan
standar oleh tenaga kesehatan, paling sedikit 4 kali.
Cakupan
kunjungan bayi tingkat Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2004 sebesar 90,85%
dengan kisaran antara yang terrendah 74,97% ( Kab. Rembang ) dengan yang
tertinggi 100% (Kota Surakarta, Kab. Temanggung, Kab. Pekalongan, Kab. Blora,
Kab. Grobogan, dan Kab. Demak).
Bila
dibandingkan dengan target kunjungan bayi Provinsi Jawa Tengah tahun 2005
sebesar 65%, maka 35 kabupaten/kota atau 100% telah berhasil mencapai target.
Secara
keseluruhan di tingkat Provinsi Jawa Tengah cakupan kunjungan bayi mengalami
peningkatan dari tahun 2003 sebesar 65,70% menjadi 90,33% pada tahun 2004.
Gambar 25
Cakupan
Kunjungan Bayi Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2004
c)
Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita & Pra Sekolah (1-6 tahun)
Deteksi dini tumbuh
kembang anak balita dan pra sekolah yang dimaksudkan adalah anak umur 1 – 6
tahun yang dideteksi dini tumbuh kembang sesuai dengan standar oleh tenaga
kesehatan, paling sedikit 2 kali per tahun.
Cakupan
deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah tingkat Provinsi Jawa
Tengah pada tahun 2004 sebesar 56,31% dengan kisaran antara yang terrendah 3,84%
(Kabupaten Magelang) dengan yang tertinggi 100,00% (Kabupaten Purworejo).
Bila
dibandingkan dengan target deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra
sekolah Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 sebesar 65%, maka terdapat 18 dari 35
kabupaten/kota atau 51,43% yang berhasil mencapai target, sedangkan 17
kabupaten/kota lainnya atau 48,57% masih di bawah target, yaitu : Kota
Pekalongan, Kota Tegal, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kabupaten Purbalingga,
Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Magelang, Kabupaten
Pekalongan, Kabupaten Semarang, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Jepara, Kabupaten
Kudus, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sragen Kabupaten Wonogiri.
Sementara
itu terdapat 4 Kabupaten/Kota atau 11,42% yang sudah berhasil mencapat target
Indonesia Sehat 2010, yaitu Kabupaten Purworejo, Kabupaten Kebumen, Kabupaten
Demak, dan Kabupaten Blora.
Gambar 26
Cakupan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita
dan Pra Sekolah Provinsi Jawa
Tengah Tahun 2004
a)
Program
Imunisasi
Untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan
bayi serta anak balita perlu dilaksanakan program imunisasi baik program rutin
maupun program tambahan untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi (PD3I) seperti penyakit TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, Polio,
Hepatitis B dan Campak. Idealnya bayi harus mendapat imunisasi dasar lengkap
yang terdiri dari BCG 1 kali, DPT 3 kali, Polio 4 kali, HB 3 kali dan campak 1
kali, untuk menilai kelengkapan status imunisasi dasar lengkap bagi bayi dapat
dilihat dari cakupan imunisasi campak, karena imunisasi campak merupakan
imunisasi yang terakhir yang diberikan pada bayi dengan harapan imunisasi
sebelumnya sudah diberikan dengan lengkap
Selain
imunisasai rutin, program imunisasi juga melaksanakan program imunisasi tambahan
seperti Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) DT, Campak yang diberikan pada semua
anak usia kelas I Sekolah Dasar sederajat, sedangkan BIAS TT diberikan pada
semua anak usia kelas II dan III
Sekolah Dasar sederajat, Pekan Imunisasi Nasional (PIN), Mop up dan Outbreaks
Respon Immunization (ORI) bila terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) PD3I.
Evaluasi cakupan imunisasi dasar dapat juga menggunakan
nilai angka Drop Out (DO) dilihat dari selisih cakupan imunisasi DPT1 dikurangi
cakupan campak. Cakupan imunisasi DPT1 di Provinsi Jawa Tengah tahun 2004
sebesar 97,56% dengan cakupan tertinggi di Kabupaten Sukoharjo sebesar 118,58%
dan terendah di Kabupaten Rembang (73,02%), sedangkan cakupan campak di Provinsi
Jawa Tengah pada tahun yang sama sebesar 93,43% , cakupan tertinggi di Kabupaten
Sukoharjo (115,85%) dan terendah di Kabupaten Rembang (67,84%).
Angka Drop Out
(DO) imunisasi dasar lengkap pada bayi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2004
sebesar 4,23% masih tergolong baik dari target DO Nasional (< 10%), dengan DO
tertinggi di Kabupaten Blora sebesar 15,48% dan terendah di Kabupaten Sragen
sebesar 0,01%
Bila
dilihat Kabupaten/Kota untuk angka DO yang masih tinggi (>10%) yaitu
Kabupaten Kebumen sebesar 11,74% dan Kabupaten Blora sebesar 15,48%. Sedangkan
angka DO rendah (<1%) yaitu Kabupaten Banyumas sebesar 0,54% dan Kabupaten
Baoyolali sebesar (0,01).
Kabupaten/Kota dengan angka DO masih tinggi (>10%)
disebabkan oleh berbagai faktor antara lain :
Ø
Adanya perbedaan jumlah sasaran pada perencanaan
dibandingkan dengan sasaran riil yang berbeda (mencolok) hal ini dikarenakan
penentuan jumlah sasaran masih berdasarkan angka estimasi
bukan hasil dari pendataan.
Ø
Belum semua hasil pelaksanaan Pemantauan wilayah setempat
(PWS) dan pemanfaatannya dianalisis secara kontinyu untuk tindak lanjutnya,
dikarenakan adanya keterbatasan sumber daya ( Tenaga rangkap, dana)
Ø
Belum semua dilakukan sweeping
imunisasi pada daerah-daerah yang cakupan imunisasinya rendah (belum mencapai
target) hal ini disebabkan oleh keterbatasan sumber daya (Tenaga, dana, daerah
sulit dijangkau)
Ø
Kurangnya pemberdayaan Posyandu (tidak semua posyandu
melayani imunisasi, sehingga ibu balita kesulitan dalam mendapatkan pelayanan
imunisasi bagi bayinya) hal ini dikarenakan tidak semua desa ada bidan desa.
Dari
pencapaian dan pemerataan UCI Desa tahun 2004 yang berdasarkan indikator DPT3,
Polio 4 dan campak cakupan minimal 80 % ,masih ada beberapa Kabupaten/Kota di
Jawa Tengah yang belum mencapai
target tahun 2004 (83%). Pencapaian dan pemerataan UCI desa di Provinsi Jawa
Tengah tahun 2004 yaitu sebesar 83,57% telah mencapai target (83%), pencapaian
UCI Desa terendah di Kabupaten Rembang sebesar 51,36% dan tertinggi di Kota
Surakarta dan Kota Magelang sebesar 100%. Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah
yang belum mencapai target UCI desa sebanyak 16 Kabupan/Kota ( 45,71%),
diharapkan pada tahun 2010 semua desa di
Provinsi Jawa Tengah mencapai UCI Desa
(100%)
c.
Pelayanan Kesehatan Pra Usila dan Usila
Pelayanan kesehatan pra usia lanjut dan usia lanjut yang dimaksudkan adalah
penduduk usia 45 tahun ke atas yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai
dengan standar oleh tenaga kesehatan, baik di Puskesmas maupun di
Posyandu/Kelompok Usia Lanjut.
Cakupan pelayanan kesehatan pra usia lanjut dan usia lanjut
tingkat Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2004 sebesar 34,06% dengan kisaran
antara yang terrendah 00,00% (2 Kabupaten tidak ada data) dengan yang tertinggi
85,98% (Kota Tegal).
Bila dibandingkan dengan target pelayanan kesehatan pra usia
lanjut dan usia lanjut Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 sebesar 20%, maka
terdapat 17 dari 35 kabupaten/kota atau 48,57% yang berhasil mencapai target,
sedangkan 18 kabupaten/kota lainnya atau 51,13% masih di bawah target.
Gambar
27
Cakupan
Pelayanan Kesehatan Pra Usia Lanjut
Dan
Usia Lanjut Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004
d. Program Keluarga Berencana
1)
Jumlah Pasangan
Usia Subur ( PUS )
Jumlah PUS
pada tahun 2004 sebanyak 6.014.861. Jumlah PUS tersebut meningkat sebanyak
96.950 dibanding tahun 2003,sebanyak 5.918.271.
2)
Peserta KB Baru
Pada tahun 2004 Provinsi Jawa Tengah berhasil
mengajak PUS untuk menjadi peserta KB Baru sebanyak 669.363 atau 11,13 % dari
jumlah PUS sebanyak 6.014.861. Peserta KB Baru tersebut, mempergunakan
kontrasepsi sebagai berikut :
Ø
Suntikan
: 476.243 (
71,15 % )
Ø
Pil
: 108.621
( 16,23 % )
Ø
Implant
: 37.904
( 5,66 % )
Ø
IUD
: 20.574
( 3,07 % )
Ø
MOP/MOW
: 15.698
( 2,35 % )
Ø
Kondom
: 10.165
( 1,52 % )
Ø
Obat Vaginal
:
118 ( 0,02
% )
Dari data tersebut dapat diketahui
bahwa bagian terbesar peserta KB Baru mempergunakan alat kontrasepsi Hormonal
(Suntikan, Pill dan Implant) yaitu sebesar 93,04 %, yang membutuhkan pembinaan
secara rutin dan berkelanjutan untuk menjaga kelangsungan pemakaian kontrasepsi.
Gambar 28
3)
Peserta
KB Aktif
Pada tahun 2004 Provinsi Jawa Tengah berhasil
membina PUS untuk menjadi peserta KB Aktif sebanyak 4.670.378 atau 77,65
% dari jumlah PUS sebanyak 6.014.861. Peserta KB Aktif
tersebut,mempergunakan kontrasepsi sebagai berikut :
* Suntikan
: 2.377.149 ( 50,90 % )
* Pill
: 857.834
( 18,37 % )
* IUD
: 552.233 ( 11,82 %
)
* Implant
: 482.285 ( 10,33 %
)
* MOP/MOW
: 357.644 ( 7,66
% )
* Kondom
:
43.160 ( 0,92
% )
* Obat Vaginal :
73 ( 0,00
% )
Dari data tersebut dapat diketahui bahwa bagian
terbesar Peserta KB Aktif mempergunakan kontrasepsi Hormonal ( Suntikan, Implant
dan Pill ) yaitu sebesar 79,60 %.
Gambar 29
Peserta KB Hormonal tersebut membutuhkan pembinaan
yang berkelanjutan untuk menjaga kelangsungan pemakaian kontrasepsi.
Secara
khusus proporsi pemakai kontrasepsi
Suntikan sangat besar yaitu yaitu 50,90 %,hal tersebut dapat difahami karena
akses untuk memperoleh pelayanan Suntikan relatif lebih mudah,sebagai akibat
tersedianya jaringan pelayanan sampai di tingkat Desa/Kelurahan,sehingga dekat
dengan tempat tinggal peserta KB.
Sementara itu partisipasi pria ( bapak ) untuk
menjadi Peserta KB Aktif dengan mempergunakan kontrasepsi MOP dan Kondom sangat
kecil,karena terbatasnya pilihan kontrasepsi yang disediakan bagi pria,dan
sebagian pria masih beranggapan bahwa KB merupakan urusan ibu ( istri ),
sehingga ibu ( istri ) yang menjadi sasaran.
e.
Kesehatan Kerja dan Kesehatan Institusi
1)
Pelayanan Kesehatan Pekerja
Derajat
kesehatan pekerja salah satunya ditentukan oleh pelayanan kesehatan kerja, baik
sektor formal maupun informal. Untuk sektor formal seperti industri besar/pabrik
atau perusahaan pada umumnya telah mendapatkan pembinaan dan pelayanan kesehatan
dari klinik perusahaan. Untuk kelompok masyarakat pekerja sektor informal yang
merupakan sebagian terbesar atau lebih dari 70% jumlah angkatan kerja, masih
belum mendapat pelayanan kesehatan kerja yang memadai. Selama ini mereka hanya
memperoleh pelayanan kesehatan secara umum, namun belum dikaitkan dengan
pekerjaannya.
Dari Tabel
24, jumlah pekerja pada industri formal yang mendapat pelayanan kesehatan
kerja adalah sebagai berikut : Jumlah pekerja formal yang terdata sebesar
1.021.378 orang dan yang mendapat pelayanan kesehatan kerja sebesar 558.448
orang (54,68%), dimana Kabupaten/Kota yang sudah melaporkan baru 29. Bila
dibandingkan dengan target SPM 2010 yaitu 80 %, berarti masih jauh dari yang
diharapkan. Dari 29 Kabupaten/Kota, yang mencapai target adalah : Kota
Pekalongan 99,21%, Kota Semarang 100%, Kota Surakarta 100%,
Kab.
Purworejo 84,38%, Kab. Kebumen 100%, Kab. Tegal 87,43%, Kab. Kendal 100%, Kab.
Grobogan 98,42%, dan Kab. Jepara 84,73%. Sedangkan pencapaian terendah adalah di
Kabupaten Rembang 13,06%, Pati 16,67% dan Kota Salatiga 8,42%.
Secara rinci dapat dilihat pada tabel dan grafik sebagai
berikut :
Gambar
30
Cakupan Pelayanan Kesehatan Kerja
Pada Pekerja Formal Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004
Demikian
pula jumlah pekerja pada sektor informal yang mendapat pelayanan kesehatan kerja
adalah sebagai berikut : Jumlah pekerja informal yang terdata sebesar 577.368
orang dan yang mendapat pelayanan kesehatan kerja sebesar 210.815 orang
(36,51%), dimana baru 14 Kab/Kota yang melaporkan. Bila dibandingkan dengan
target SPM 2010 yaitu 40 %, berarti masih dibawah target. Kabupaten/Kota yang
mencapai target adalah : Kota Magelang 62,81%, Kota Surakarta 81,67% Kabupaten
Purbalingga mencapai 56%, Kabupaten Purworejo 84,38%, Kabupaten Demak 54,17%,
Sedangkan pencapaian terendah adalah di Kabupaten Wonosobo 24,17 %, Batang 14% dan Kab. Klaten 8,24%.
2)
P3 NAPZA
Kegiatan penyuluhan, pencegahan, penanggulangan dan
penyalahgunaan NAPZA tahun 2004,
sasarannya tidak hanya pada sekolah dan madrasah saja melainkan juga ke
masyarakat umum. Pada Tabel SPM. 22
dapat dilihat bahwa jumlah seluruh kegiatan penyuluhan secara umum yang terdata
adalah 126.930 kali (dari 32 Kab./Kota yang melaporkan). Dari jumlah tersebut,
jumlah penyuluhan P3 Napza sebanyak 3.353 kali atau rata-rata 2,64%. Bila
dibandingkan dengan target SPM 2010 untuk upaya penyuluhan P3 Napza/P3 Narkoba
oleh petugas kesehatan adalah 30%, berarti jumlah kegiatan penyuluhan P3 Napza
di Jawa Tengah pada tahun 2004 masih jauh di bawah target. Sebagai perbandingan,
Kab./Kota yang mencapai target SPM untuk kegiatan ini adalah Kabupaten Kab.
Wonosobo (32,35%) dan Kabupaten Blora 36,67%. Sedangkan
yang masih rendah cakupannya adalah Kabupaten Banjarnegara (0,20%),
Jepara 0,25%, Kab. Magelang 0,12% dan Kab. Kendal 0,03%
3)
Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah dan Usia Sekolah
Pada Tabel SPM 3 tercatat bahwa jumlah anak balita dan prasekolah adalah
2.516.166 anak dan telah dideteksi sebanyak 1.416.907 anak atau 56,31%.
Dibanding dengan target SPM 2010 yaitu 95% belum tercapai. Rendahnya cakupan
dimungkinkan karena kemampuan petugas di
Tingkat Puskesmas maupun di Kabupaten/Kota masih terbatas dalam membina
pelayanan kesehatan anak balita dan pra sekolah baik secara kuantitas maupun
kualitas. Sebagai perbandingan, Kabupaten/Kota yang cakupannya mencapai target
adalah Kabupaten Purworejo 100%.
Sedangkan Kabupaten yang masih rendah cakupannya adalah Kota Pekalongan 4,03%,
Kab. Magelang 3,84%.
Sedangkan untuk siswa SD/MI yang
diperiksa kesehatannya tahun 2004 terlihat pada Tabel SPM 3, tercatat 2.037.407
siswa ( dari 34 Kab/Kota yang melaporkan ), diperiksa kesehatannya sebanyak
1.158.853 siswa atau 56,88% masih jauh dibawah target SPM 2010 (100%). Rendahnya
cakupan disebabkan keterbatasan petugas Puskesmas maupun Kab./Kota
dalam membina pelayanan kesehatan di sekolah juga
anggaran yang terbatas, sehingga belum
semua siswa sekolah dapat tercover untuk diperiksa kesehatannya. Sebagai perbandingan, bahwa Kab./Kota yang cakupannya 100 %
adalah Kota Surakarta, Kabupaten Purworejo, dan Kabupaten Demak. Sedang
Kabupaten/Kota dengan cakupan masih rendah adalah
( < 20% ) adalah Kabupaten Kab. Sragen 17,01%
Untuk siswa TK, SLTP, SLTA yang diperiksa kesehatannya tahun
2004 terlihat pada Tabel SPM 3 tercatat
2.334.592 siswa dan telah diperiksa kesehatannya sebanyak 482.024 siswa atau
rata-rata 20,65% masih jauh dibawah target SPM 2010 (80%)
dan 27 Kabupaten/Kota yang melaporkan.
Rendahnya cakupan disebabkan keterbatasan petugas Puskesmas maupun Kab./Kota dalam membina pelayanan kesehatan di sekolah juga
anggaran yang terbatas, sehingga belum
semua siswa sekolah dapat tercover untuk diperiksa kesehatannya.
Pada pelayanan kesehatan remaja yang
diperiksa kesehatannya tahun 2004 terlihat pada Tabel SPM 3, tercatat 2.288.287
remaja dan jumlah dilayani kesehatan sebanyak 347.808 remaja atau 15,20%,
berarti masih jauh dari target SPM 2010 (80%) . Rendahnya cakupan disebabkan
keterbatasan petugas Puskesmas maupun Kab./Kota dalam membina pelayanan kesehatan di sekolah juga
anggaran yang terbatas, sehingga belum
semua siswa sekolah dapat tercover untuk diperiksa kesehatannya.
B.
Upaya Kesehatan Rujukan
Rumah
Sakit Umum di Provinsi Jawa Tengah berjumlah 146 buah yang terdiri dari 2 RSU
milik Departemen Kesehatan, 3 RSU milik Pemerintah Provinsi dan 35 RSU milik
Kabupaten/Kota sedangkan 94 RSU
Swasta, 10 milik TNI/POLRI dan 2 milik Departemen lain.
Rumah Sakit
B Pendidikan berjumlah 5 RS, RS type B 13 RS dan type C sebanyak 22 buah,
sedangkan Rumah Sakit Swasta setara type B sebanyak 6 , type C sebanyak 23 RS
dan type D sebanyak 57 RS.
Berdasarkan
jumlah tempat tidur yang tersedia dibandingkan dengan jumlah penduduk di
masing-masing kabupaten/kota, kabupaten/kota yang tempat tidur tersedia sudah
memenuhi kebutuhan adalah Kota Magelang, Kota Pekalongan, Kota Tegal, Kota
Salatiga, Kota Semarang, Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Kudus.
Bed
Occupation Rate (BOR) yang ideal untuk suatu Rumah Sakit adalah antara 60% s/d
80 %, prosentase rata-rata pemakaian tempat tidur di RSU Pemerintah di Provinsi
Jawa Tengah tahun 2004 untuk Rumah Sakit Pemerintah sebesar 60,47 % sedangkan
BOR Rumah Sakit swasta 45,78 %. Rumah Sakit Pemerintah yang mempunyai BOR lebih
60 % adalah 23 Rumah Sakit
sedangkan Rumah Sakit Swasta yang mempunyai BOR lebih besar dari 60% adalah
sebanyak 17 Rumah Sakit.
Leng Of Stay (LOS) adalah lamanya pasien rata-rata di RS angka yang
ditetapkan adalah antara 6 – 9
hari. Namun dengan perkembangan teknologi kedokteran dan peningkatan pelayanan
LOS untuk RSU Pemerintah tahun 2004 dibawah angka 6 adalah 38 RSU, antara 6 –
9 hari sebanyak 2 RSU, tidak ada satupun RSU Pemerintah yang mempunyai LOS
diatas angka 9. Untuk RSU swasta LOS antara 6 – 9 hari adalah sebanyak 5 RS
diatas 9 hanya 2 Rumah Sakit sehingga rata-rata dirawat dibandingkan dengan
tahun 2003 terjadi penurunan rata-rata lama dirawat yang menunjukan semakin
meningkatnya mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit.
Turn Of Interval (TOI) adalah rata-rata hari tempat tidur tidak
ditempati dan angka ideal dari TOI adalah 1-3, untuk RS Pemerintah yang
mempunyai TOI antara 1 – 3 adalah 23 Rumah Sakit sedangkan sisanya diatas 3,
sedangkan RSU Swasta yang mempunyai TOI antara 1 – 3 adalah 20 Rumah Sakit
sehingga jumlah terbesar Rumah Sakit Swasta mempunyai TOI diatas 3, hal tersebut
menunjukan pemakaian tempat pada Rumah Sakit di Jawa Tengah belum optimal
Net Death Rate (NDR) adalah angka kematian kurang atau sama 48 jam
dan jumlah yang dapat ditolerir adalah 25 per 1000 penderita keluar. NDR untuk
Rumah Sakit Pemerintah yang mempunyai angka kematian diatas angka maksimal
adalah 16 Rumah Sakit sedangkan RSU Swasta 7 Rumah Sakit. Gross Death Rate (GDR) adalah angka kematian untuk tiap-tiap 1000
penderita keluar maksimum adalah 45, untuk GDR RSU Pemerintah yang diatas angka
maksimum adalah 15 Tumah Sakit dan RSU Swasta 12 RS dari data tersebut terlihat
perlu peningkatan penanganan pasien darurat di Rumah Sakit Umum di Provinsi Jawa
Tengah
C. Upaya Kesehatan Khusus
a.
Sarana Kesehatan dengan Kemampuan
Gawat Darurat
Jumlah sarana kesehatan dengan
kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat sebanyak 685
(51,18%) dari seluruh sarana kesehatan yang ada. Ini berarti mengalami
peningkatan bila dibanding tahun 2003 (41,33%). Bila dibandingkan dengan target
2005 (40%), berarti sudah mencapai target. Akan tetapi bila dibandingkan dengan
target Indonesia Sehat 2010 (90%), masih belum mencapai target.
b.
Pelayanan Kesehatan Jiwa
Target pelayanan Kesehatan Jiwa th 2004
: 3 % dari kunjungan kasus di sarana kesehatan
Rata rata pelayanan kesehatan jiwa th
: 0,4 %
Tertinggi th 2004
: 1,4 %
Terendah th 2004
: 0,25 %
Permasalahan yang ada :
Ø
Belum semua sarana kesehatan melaksanakan pengobatan rasional di
Jawa Tengah
Ø
Diagnosis masih
terbatas diagnosis fisik
Ø
Pencatatan
pelaporan belum berjalan sebagaimana mestinya
Ø
Konseling
disarana kesehatan masih terbatas pada kesehatan fisik
Ø
Pada pasien
dengan penyakit kronis sebagaian besar belum dilakukan pemeriksaan kesehatan
jiwanya, menurut WHO angka gangguan jiwa pada pasien dengan penyakit kronis (DM,
Hipertensi, Asma dll)+/- 20%)
Ø
Kesehatan Jiwa
belum dianggap program yang penting di Kabupaten/kota.
Ø
Terbatasnya dokter sepesialis kesehatan jiwa.
Melihat permasalahan di atas,
diperlukan adanya peningkatan program pengobatan rasional, pelatihan dan
refreshing untuk dokter dan petugas Puskesmas lainnya, perbaikkan sistem
monitoring dan evaluasi maupun pencatatan dan pelaporan program kesehatan jiwa,
serta perlu disediakan klinik kesehatan jiwa di Rumah Sakit Umum baik pemerintah
maupun swasta.
c.
Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut
Target Program kesehatan Gigi th 2004
perbandingan tumpatan dibagi pencabutan
gigi tetap minimal > 1. Rata rata pelayanan tumpatan :
Pencabutan th 2004: < 0,5. Tertinggi
th 2004 : 0,79, terendah th 2004 : 0,25.
Permasalahan yang
dihadapi saat ini adalah
:
Ø
Pembinaan
pelayanan kesehatan gigi sejak era otonomi terjadi kemunduran.
Ø
Belum ada pedoman pembinaan yang baku
Ø
Kesehatan gigi dan mulut belum dijadikan alasan
penting untuk berobat.
Ø
Tahun 2004 belum ada 50 % Kabupaten Kota yang mengirimkan
laporan Pencatan dan pelaporan kesehatan gigi.
Melihat
permasalahan tersebut, upaya yang perlu dilakukan adalah
peningkatan pembinaan program kesehatan gigi di Sarana Kesehatan
pemerintah dan swasta, pelatihan/ refreshing untuk dokter dan petugas Puskesmas
lainya terutama pada promotif dan preventif Yankes gigi dan mulut, serta
perbaikan sistem monitoring dan evaluasi maupun pencatatan pelaporan progaram kesehatan
gigi dan mulut.
d.
Pelayanan Transfusi Darah.
Target Program Upaya Kesehatan di bidang Transfusi Darah
(UKTD) pemenuhan permintaan darah th 2005 adalah 90%, Rata-rata
tahun 2004 adalah 89%, tertinggi th 2004 adalah 94%, terendah th
2004 adalah 85 %.
Permasalahan yang ada :
Ø
Pada Kabupaten/
Kota yang menjadi rujukan antara dan pusat rujukan di Jawa Tengah membutuhkan
persediaan darah yang lebih banyak, tetapi jumlah penduduk/donornya relatif
kurang.
Ø
Rumah Sakit yang
memiliki Bank Darah Rumah Sakit belum ada 30%
Ø
Dinas Kesehatan
Kabupaten/ Kota masih belum melaksanakan Program Upaya Kesehatan di bidang
Transfusi Darah (UKTD).
III.
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
A.
Sarana dan Tenaga Kesehatan
a.
Kebutuhan Tenaga Kesehatan
Sampai
saat ini di Provinsi Jawa Tengah masih kekurangan tenaga kesehatan, hal tersebut
dapat dilihat dari terus adanya permintaan tenaga kesehatan baik di Pusat,
Provinsi maupun Kabupaten/Kota yang tiap tahun mengajukan usulan kebutuhan
tenaga kesehatan.
Kebutuhan
tersebut dapat dipenuhi dengan penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil/CPNS yang
disesuaikan dengan kebutuhan Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota,
meskipun belum sepenuhnya terpenuhi karena pemenuhan kebutuhan tersebut
disesuaikan juga dengan kondisi anggaran yang ada.
Untuk
membantu peningkatan pelayanan kesehatan yang ada di masyarakat serta dalam
upaya mendekatkan pelayanan kesehatan masyarakat, Pemerintah Pusat telah
mengangkat Dokter/Dokter Gigi dan Bidan sebagai Pegawai Tidak Tetap dengan masa
bakti selama 3 (tiga) tahun, baik yang diangkat melalui Pemerintah Pusat (dalam
hal ini Depkes RI), maupun Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota juga diberi
kewenangan dengan mengangkat Dokter/Dokter Gigi Sebagai Pegawai Tidak Tetap
Daerah ( PTTD) yang dibiayai oleh APBD masing-masing.
b.
Jenis Tenaga Kesehatan
Jenis
Tenaga Kesehatan disini dibagi menjadi 7(tujuh) yaitu :
Ø
Tenaga Medis : Dokter,Dokter Gigi,Dr/Drg Spesialis
Ø
Tenaga Perawat
& Bidan, termasuk lulusan DIII & S1
Ø
Tenaga
Kefarmasian : Apoteker,Asisten Apoteker
Ø
Tenaga Gizi : Lulusan D1 dan DIII Gizi (SPAG dan AKZI)
Ø
Tenaga Teknis
Medis : Analis,TEM dan Penata Rontgen,Penata Anestesi,Fisioterapi
Ø
Tenaga Sanitasi
: Lulusan SPPH,APK dan DIII Kesehatan Lingkungan Tenaga
Ø
Kesehatan
Masyarakat : SKM,MPH dll.
Ø
Tenaga
Dokter / Dokter Gigi dan Bidan PTT
c.
Unit Kerja
Penempatan Tenaga Kesehatan
1)
Puskesmas (termasuk PUSTU dan Polindes )
2)
Rumah Sakit ( RSU,RSJ,RS Khusus,RSB)
3)
Institusi Diklat / Diknakes
4)
Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota
5)
Dinas Kesehatan Provinsi
d.
Persebaran
Tenaga Kesehatan Kesehatan di Unit Kerja
Tenaga Kesehatan tersebar diberbagai Unit Kerja antara
lain di Puskesmas, Rumah Sakit, Institusi Diklat/Dikknas, Sarana Kesehatan Lain,
Dinas Kesehatan Kab/Kota dan di Dinas Kesehatan Provinsi.
Jumlah tenaga kesehatan yang bekerja pada Institusi
Diklat/Diknakes di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 401 orang yang meliputi tenaga
medis 91 orang, perawat 109 orang, bidan 53 orang, Farmasi 47 orang, Gizi 14
orang, Teknisi Medis 37 orang, dan
Kesmas 50 orang.
Gambar 32
Grafik
Jenis Tenaga Kesehatan pada Institusi Pendidikan
di
Propinsi Jawa Tengah Tahun 2004
Jumlah tenaga kesehatan yang bekerja pada Dinas Kesehatan
kabupaten/Kota di Provinsi Jawa tengah sebanyak 2.326 orang yang meliputi tenaga
medis 124 orang, perawat 850 orang, bidan 688 orang, Farmasi 98 orang, Gizi 88
orang, Teknisi Medis 64 orang, Sanitasi 163 orang, dan Kesmas 251 orang.
Gambar 33
Grafik
Jenis Tenaga Kesehatan pada Dinkes Kab./Kota
di
Propinsi Jawa Tengah Tahun 2004
Jumlah tenaga kesehatan yang bekerja pada Dinas Kesehatan
Propinsi Jawa Tengah sebanyak 204 orang yang meliputi tenaga medis 28 orang,
perawat 9 orang, bidan 7 orang, Farmasi 13 orang, Gizi 1 orang, Teknisi Medis 5
orang, Sanitasi 26 orang, dan Kesmas 82 orang.
Gambar 34
Grafik
Jenis Tenaga Kesehatan pada Dinas Kesehatan
Propinsi
Jawa Tengah Tahun 2004
e.
Jumlah Tenaga Kesehatan di Sarana Pelayanan Kesehatan
Jumlah
Tenaga Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit sebanyak 33.123 orang. Tenaga
kesehatan di Puskesmas terdiri atas tenaga medis 1.954 orang, perawat 4.471
orang, bidan 6.924 orang, farmasi 285 orang, gizi 566 orang, teknisi medis 349
orang, sanitasi 732 orang, kesmas 174 orang.
Gambar 35
Grafik
Jenis Tenaga Kesehatan pada Puskesmas
di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2004
Sedang
tenaga yang ada di Rumah Sakit untuk tenaga medis
2.223 orang, perawat 11.243 orang, bidan 1.349 orang, farmasi
767 orang, gizi 408 orang, teknisi medis 1.394 orang, sanitasi 159 orang, dan
kesmas 125 orang.
Gambar 36
Grafik
Jenis Tenaga Kesehatan pada Rumah Sakit
di
Propinsi Jawa Tengah Tahun 2004
1)
Jumlah Tenaga Medis di Sarana Kesehatan
Tenaga
medis di rumah sakit berjumlah 2.223 orang terdiri dari Dokter Spesialis 759
orang, Dokter Umum 1.201 orang, Dokter Gigi 263 orang.
Gambar 37
Grafik
Penyebaran Tenaga Medis pada Rumah Sakit
di
Propinsi Jawa Tengah Tahun 2004
Tenaga
medis di Puskesmas berjumlah 1.960 orang terdiri dari Dokter Umum 1.414 orang,
Dokter Gigi 540 orang.
Gambar 38
Grafik
Jenis Tenaga Medis pada Puskesmas
di
Propinsi Jawa Tengah Tahun 2004
2)
Jumlah
Tenaga Kefarmasian dan Gizi di Sarana Kesehatan
Tenaga kefarmasian di Sarana Kesehatan berjumlah
1.443 orang terdiri atas tenaga Apoteker 369 orang, S1 Farmasi 45 orang, D3
Farmasi 103 orang, Ass Apoteker 512 orang, dan Tenaga Gizi yang terdiri atas
D-IV/S1 Gizi 57 orang, D3 Gizi 626 orang, dan D1 Gizi 394 orang.
Gambar 39
Grafik
Jenis Tenaga kefarmasian dan Gizi pada Sarana Kesehatan
di
Propinsi Jawa Tengah Tahun 2004
3)
Jumlah Tenaga Keperawatan dan Bidan di Sarana Kesehatan
Tenaga
keperawatan di Sarana Kesehatan berjumlah
16.797 orang. Tenaga S1-Kep 180 orang, D3 Perawat 9.952 orang, SPK 6.665 orang.
Tenaga Bidan berjumlah 9.067 orang terdiri atas lulusan D3 Bidan 1.957 orang,
Bidan 7.110 orang.
Gambar 40
Grafik
Jenis Tenaga Perawat dan Bidan pada Sarana Kesehatan
di
Propinsi Jawa Tengah Tahun 2004
4)
Jumlah
Tenaga Kesehatan Masyarakat dan Sanitasi
Tenaga Kesehatan Masyarakat di Provinsi Jawa Tengah
sebanyak 685 orang terdiri atas Sarjana
Kesmas 636, D3 Kesmas 49 dan Tenaga Sanitasi sementara berjumlah 1085 terdiri
atas D3 Sanitasi 680, D1 Sanitasi 405.
Gambar 41
Grafik
Jenis Tenaga Sanitasi dan Kesehatan Masyarakat pada Sarana Kesehatan di Propinsi
Jawa Tengah Tahun 2004
5)
Jumlah Tenaga Teknisi Medis di Sarana Kesehatan
Hasil
pencapaian jumlah Tenaga Teknisi Medis di Sarana Kesehatan berjumlah 1.882 orang
tenaga terdiri atas Analis Lab 986, TEM & P.Rontg 411, P.Anestesi 170,
Fisioterapis 315 orang tenaga
Gambar 42
Grafik
Jenis Tenaga Teknisi Medis pada Sarana Kesehatan di Propinsi Jawa Tengah Tahun
2004
6)
Jumlah
Tenaga Dokter / Dokter Gigi dan Bidan PTT aktif
Hasil Pencapaian data Tenaga Dokter / Dokter Gigi
dan Bidan PTT aktif sampai dengan bulan agustus 2004 untuk tenaga dokter 530,
Dokter Gigi 30 dan untuk Bidan 3754 dari angkatan III s/d XIV.
Gambar
43
Kendala
yang dihadapi sampai saat ini adalah data tenaga kesehatan yang ada belum akurat
dikarenakan setiap tenaga kesehatan banyak yang bekerja tidak hanya pada satu
Instansi /Unit Kerja saja melainkan 2(dua) atau lebih, sehingga data yang sudah
dilaporkan di unit kerja sebelumnya dilaporkan kembali oleh unit kerja
selanjutnya sehingga terjadi kelebihan
jumlah tenaga.
Prasarana
penunjang ( komputer ) kurang memadai/sangat minim dan SDM pengelola program
pendataan tersebut kurang menguasai sehingga menghambat proses pendataan dan
terlambatnya pembuatan pelaporan dari Kabupaten /Kota ke Provinsi.
Guna
mengatasi permasalahan yang ada, perlu dibuatkan semacam bentuk format tertentu
agar tidak terjadi dobel pencatatan tenaga kesehatan, sehingga akan didapatkan
jumlah ketenagaan yang benar-benar akurat dan dapat dipertangungjawabkan.
Perlu
pemenuhan kebutuhan prasarana serta perlu diberikannya pelatihan bagi para
pengelola program pendataan tersebut sehingga
proses pelaporan dapat berjalan dengan baik dan lancar.
B. Program Obat dan Perbekalan
Kesehatan Lainnya
a.
Obat
Publik dan Perbekalan Kesehatan Lainnya
Ketersediaan dana pengadaan obat yang sesuai dengan kebutuhan obat untuk
populasi merupakan prasyarat terlaksananya penggunaan obat yang rasional yang
pada gilirannya akan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Dengan indikator ini
akan dapat dilihat komitmen dalam penyediaan dana pengadaan obat sesuai
kebutuhan.
Tabel : Dana obat Provinsi tahun 2001-2004 :
|
No.
|
Tahun
|
Dana Obat Provinsi
|
Fluktuasi
|
% Kenaikan Penurunan
|
|
|
|
|
|
|
|
1
|
2001
|
6,500,000,000
|
-
|
-
|
|
2
|
2002
|
25,703,616,456
|
naik
|
295.44
|
|
3
|
2003
|
15,000,000,000
|
turun
|
(41.64)
|
|
4
|
2004
|
17,770,206,000
|
naik
|
18.47
|
Tabel : Dana obat Kabupaten/Kota di Jawa Tengah tahun
2001-2004 :
|
No.
|
Tahun
|
Dana Obat Kab/Kota
|
Fluktuasi
|
% Kenaikan Penurunan
|
|
|
|
|
|
|
|
1
|
2001
|
57,610,406,671
|
-
|
-
|
|
2
|
2002
|
50,238,925,301
|
turun
|
(12.80)
|
|
3
|
2003
|
51,033,706,677
|
naik
|
1.58
|
|
4
|
2004
|
44,574,228,025
|
turun
|
(12.66)
|
Fluktuasi atau kenaikan
penurunan dana obat Provinsi tersebut sudah sesuai dengan fluktuasi dana obat
yang ada di Tingkat Kabupaten/Kota.
Dana obat Kab/Kota untuk setiap tahunnya sangat
berfluktuasi dan dengan penyebaran yang sangat lebar (selisih antara dana obat
terendah dan tertinggi). Nilai selisih dana obat antar Kab/Kota masih sangat
tinggi, antara 3,3 M sampai 5,9M.
Tabel : Nilai selisih dana obat
antar Kab/Kota
|
|
Th. 2001
|
Th. 2002
|
Th. 2003
|
Th. 2004
|
|
Nilai Terendah
|
171,069,150
|
270,000,000
|
364,211,160
|
-
|
|
Nilai Tertinggi
|
3,443,845,764
|
3,800,000,000
|
6,000,000,000
|
5,995,834,695
|
|
Nilai Selisih
|
3,272,776,614
|
3,530,000,000
|
5,635,788,840
|
5,995,834,695
|
|
Terendah
|
Kudus
|
Sragen
|
Kendal
|
Kudus,Banjarng
|
|
Tertinggi
|
Kendal
|
Demak
|
Demak
|
Demak
|
Pada tahun 2004, ada 3 Kabupaten dengan kondisi :
Ø
Kab. Kudus : tidak ada alokasi dana obat
dari APBD Kabupaten.
Ø
Kab. Demak : alokasi dana obat dari APBD
Kabupaten memadai, sehingga tidak mengusulkan
kebutuhan obat ke Provinsi.
Ø
Kab. Banjarnegara : stock obat di
Kabupaten memadai, sehingga tidak mengusulkan dana obat ke APBD Kabupaten.
Kenaikan dan Penurunan Dana Obat Kabupaten/Kota (Tabel 2),
adalah sebagai berikut :
Dana obat Kab/Kota th. 2002
dibanding th. 2001 TURUN yaitu - 12,80 %.
Nilai kenaikan tertinggi 287,42
% di Kab. Demak dan penurunan tertinggi - 79,04 % di Kab. Boyolali. Secara rinci
:
·
Ada 16 Kab/Kota
atau 45,71 %, yang naik.
·
Ada 16 Kab/Kota
atau 45,71 %, yang turun.
·
Ada 3 Kab/Kota atau
8,58 %, yang tetap yaitu Banyumas, Kebumen dan Kab.Semarang.
Dana obat Kab/Kota th. 2003
dibanding th. 2002 adalah NAIK
yaitu 1,58 %.
Nilai kenaikan tertinggi adalah
284,67 % di Kab. Boyolali. Nilai penurunan tertinggi adalah - 52,54 % di Kota
Semarang. Secara rinci :
·
Hanya 14 Kab/Kota atau 40,00 %, yang
naik.
·
Lebih dari 50 %
turun (18 Kab/Kota atau 51,42 % ).
·
Ada 3 Kab/Kota atau
8,58 %, yang tetap yaitu Kota Pekalongan, Pemalang dan Kab. Semarang.
Dana obat Kab/Kota th. 2004
dibanding th. 2003 adalah TURUN yaitu - 12,66 %.
Nilai kenaikan tertinggi adalah
451,71 % di Kab. Cilacap. Nilai penurunan tertinggi adalah - 100 % di Kab. Kudus
dan Banjarnegara. (Di Kab. Kudus karena tidak ada dana obat APBD Kabupaten dan
Kab. Banjarnegara karena stock obat di kabupaten masih memadai). Secara rinci :
·
Ada 11 Kab/Kota
atau 31,43 %, yang naik.
·
Ada 21 Kab/Kota
atau 60,00 %, yang turun.
·
Ada 3 Kab/Kota atau
8,58 %, yang tetap yaitu Kota Pekalongan, Temanggung dan Wonogiri.
Kunjungan Resep dan Harga Tiap Lembar
Resep.
Tabel
: Kunjungan Resep dan Harga Tiap Lembar Resep.
|
|
Kunjungan Resep
|
Harga Tiap Resep
|
|
|
2003
|
2004
|
2003
|
2004
|
|
N = Jumlah data
|
35
|
35
|
35
|
35
|
|
Jumlah Total
|
20,203,800
|
19,568,558
|
149,589
|
178,699
|
|
Rata-rata
|
577,251
|
559,102
|
4,274
|
5,106
|
|
Terendah
|
131,194
|
114,412
|
1,910.26
|
1,600.42
|
|
Tertinggi
|
1,093,793
|
1,131,660
|
10,313.70
|
13,014.65
|
|
Terendah
|
Salatiga
|
Salatiga
|
Klaten
|
Pati
|
|
Tertinggi
|
Banyumas
|
Brebes
|
Wonogiri
|
Wonogiri
|
Biaya
obat per kunjungan resep adalah besaran dana yang tersedia untuk setiap
kunjungan resep dan besaran dana yang tersedia untuk setiap resep. Rata-rata
biaya obat yang dibutuhkan per kunjungan resep pada tahun 2003 adalah Rp.
4.274,-, terendah adalah sebesar Rp. 1.910.26,- di Kab. Klaten dan tertinggi
adalah Rp. 10.313.70,- di Kab. Wonogiri.
Sedangkan rata-rata biaya obat yang dibutuhkan per
kunjungan resep pada tahun 2004 adalah Rp. 5.106,-, atau naik 19,47 % dibanding
tahun 2003. Nilai terendah adalah sebesar Rp. 1.600.42,- di Kab. Pati dan
tertinggi adalah Rp. 13.014.65,- di Kab. Wonogiri.
Profil pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan
Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut :
Ø
Aspek Struktur
Organisasi.
Dibedakan
menjadi 2 yaitu di 7 Kabupaten/Kota sebagai bagian dari struktural Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota dan di 28 Kabupaten/Kota sebagai Unit Pelaksanan Teknis
(UPT) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Ø
Aspek sumber
daya manusia.
Tahun 2004, Kab. Grobogan, Pemalang dan Brebes sudah ada
tenaga apoteker. Sampai akhir tahun 2004, hanya Kab. Banyumas yang belum ada
tenaga Apoteker sebagai penanggung jawab unit pengelola obat publik di Kab/Kota.
Rata-rata asisten apoteker (AA) di UPO Kab/Kota adalah
2,37 orang :
Sedangkan kondisi sumber daya pengelola obat di Puskesmas, rata-rata
persentase tenaga pengelola obat adalah : 45,17 % adalah tenaga asisten apoteker
dan 54,83 % adalah tenaga non-asisten apoteker. Ada 3
Kota dimana pemenuhan tenaga asisten apoteker lebih dari 100 %, yaitu : Semarang
(105,41%), Kota Magelang (100%) dan Kota Surakarta (206,67%). Ada 23 Kab/Kota
dimana persentase tenaga AA dibanding jumlah Puskesmas yang ada di Kab/Kota
adalah dibawah 50%.
Dari
data 21 Kab/Kota, persentase tenaga farmasi dibanding dengan jumlah tenaga,
rata-rata adalah 40 %, dengan penyebaran antara 10 % sampai 66,67 %, terendah di
Kab. Brebes dan tertinggi di Kab. Purbalingga.
Persentase
tenaga terlatih dibanding dengan jumlah tenaga, rata-rata adalah 22,52 %, dengan
penyebaran antara 0 % sampai 44,44 %, terendah di Kab. Jepara
dan tertinggi di Kab. Karanganyar.
Ø
Aspek
perencanaan dan distribusi.
Tabel
: Tim Perencanaan Obat Terpadu (Tim POT) Kab/Kota.
|
|
Ada
Tim POT
|
SK
Ka. Daerah
|
SK
KaDinkes
|
Tdk
Ada Tim POT
|
Lintas
Program
|
LP/LS
|
|
Jumlah
Data
|
13
|
7
|
6
|
5
|
15
|
15
|
|
Jumlah
|
18
|
13
|
13
|
18
|
5
|
10
|
|
Persentase
%
|
72.22
|
53.85
|
46.15
|
27.78
|
33.33
|
66.67
|
Dari
18 Kab/Kota :
-
13 Kab/Kota
(72,22 %) sudah ada Tim POT ( 7 atau 53,85 % memakai SK Kepala Daerah, 6 atau
46,15 % memakai SK Kepala Dinkes Kab/Kota).
-
5 Kab/Kota
(27,78 %) tidak ada Tim POT.
Dari
data 15 kab/Kota, ada 5 atau 33,33 % yang keanggotaan Tim POT hanya bersifat
lintas program.
Ø
Aspek sistem informasi pengelolaan obat.
Tabel
: Pelaporan LPLPO Kab/Kota.
|
|
Jml
Sarana Lapor LPLPO
|
%
yang melapor
|
%
yang tepat waktu
|
%
isi lengkap & benar
|
|
Jumlah
|
454
|
2100
|
1414.58
|
1878.92
|
|
Jumlah
Data ( N )
|
21
|
21
|
21
|
21
|
|
Rata-rata
|
|
100.00
|
67.36
|
89.47
|
Dari
jumlah sarana yang wajib melaksanakan pelaporan LPLPO, 100 % sarana membuat
laporan dan 67,36 yang tepat waktu. Sedangkan dalam pengisiannya, 89,47 %
lengkap dan benar. Data-data yang sering tidak diisi atau salah al : jumlah
kunjungan, stok optimum, sisa obat dan jumlah permintaan obat.
b.
Pembinaan
Pelayanan Kefarmasian Klinis dan Komunitas, serta pembinaan penggunaan obat
rasional.
1)
Pelayanan Kefarmasian Klinis di RS.
Pada
Tahun 2004 telah ditetapkan Keputusan Menteri RI Nomor : 1197/MENKES/SK/X/2004
tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Pelayanan farmasi rumah
sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah sakit yang menunjang pelayanan
kesehatan yang bermutu. Hal tersebut diperjelas dalam Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit,
yang menyebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak
terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang berorientasi kepada
pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi
klinik, yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.
Jumlah
Tenaga yang ada di Instalasi Farmasi RS, rata-rata adalah 13,93 orang :
-
Jumlah apoteker,
rata-2 adalah 1,45 orang.
-
Jumlah D3 Farmasis , rata-2 adalah 0.93 orang.
-
Jumlah asisten apoteker (AA) , rata-2 adalah
5,93 orang.
-
Jumlah non
teknis, rata-2 adalah 5,65 orang.
Tabel : Indikator
Penggunaan Obat Rasional di RS.
|
No.
|
PARAMETER
|
Jml
Data
|
Rata-rata
|
|
|
|
|
|
|
1
|
Jumlah sediaan farmasi
|
32
|
854.84
|
|
2
|
Rata2 jumlah lembar resep per
bulan
|
33
|
3,668.21
|
|
3
|
Rata2 jumlah R/per bulan
|
33
|
13,679.88
|
|
4
|
Rata2 jumlah R/ tiap
lembar resep.
|
33
|
3.73
|
|
5
|
Rata2 % resep yang mengandung
antibiotik.
|
31
|
41.22
|
|
6
|
Rata2 % resep yang mengandung
obat generik.
|
32
|
32.05
|
|
7
|
Rata2 % resep yang mengandung
injeksi.
|
31
|
34.20
|
|
8
|
Rata2 waktu pelayanan resep
(menit,detik)
|
33
|
10.42
|
|
9
|
Rata2 waktu pelayanan
konseling (menit,detik)
|
32
|
2.26
|
|
10
|
Obat Kadaluwarsa
|
33
|
0.52
|
|
11
|
Obat rusak
|
33
|
0.15
|
|
12
|
Obat hilang (pencurian)
|
33
|
0.15
|
2)
Pelayanan Kefarmasian Komunitas di Apotik.
Pada Tahun 2004 telah ditetapkan Keputusan Menteri RI Nomor
: 1027/MENKES/SK /IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotik. Semua
tenaga kefarmasian dalam melaksanakan tugas profesinya di Apotek agar mengacu
pada standar sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan ini. Pelayanan kefarmasian
pada saat ini telah bergeser orientasinya dari obat ke pasien yang mengacu
kepada pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care). Kegiatan pelayanan
kefarmasian yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi
menjadi pelayanan yang komprehensif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas
hidup dari pasien.
Hasil Fasilitasi Teknis dari sampel : 50 Apotik, tersebar di
18 Kab/Kota di Jawa Tengah, tdk termasuk Kota Semarang, 14 (28 %) milik APA, 36
(72 %) Kerjasama; 10 (20 %) berbentuk Badan Hukum. Tenaga yang ada diapotik :
34,09 % adalah asisten apoteker (AA); 17,86 % adalah reseptir; 34,74 % adalh
administrasi, dan 13,31 % adalah tenaga lain-lain, al : Cleaning Service,
Satpam, Pengiriman obat, dll. Sedangkan secara rinci, jumlah tenaga AA di apotik
adalah antara 0 orang (apotik tidak ada tenaga AA) sampai 6 orang, terdiri dari
: 8,33 % = tidak ada tenaga AA; 29,2 % = tenaga AA adalah 1 orang; 29,2 % =
tenaga AA adalah 2 orang; 12,5 % = tenaga AA adalah 3 orang; 14,6 % = tenaga AA
adalah 4 orang; 2,08 % = tenaga AA adalah 5 orang; 4,17 % = tenaga AA adalah 6
orang.
Tabel
: Indikator Penggunaan Obat Rasional di Apotik.
|
No.
|
PARAMETER
/ NOMOR SAMPEL APOTIK
|
Jml
Data
|
Rata-rata
|
|
1
|
Jumlah sediaan farmasi
|
27
|
1,538.07
|
|
2
|
Rata2 persentase penjualan obat tanpa resep
|
27
|
85.67
|
|
3
|
Rata2 jumlah lembar resep per
bulan
|
27
|
881.15
|
|
4
|
Rata2 jumlah R/per bulan
|
27
|
2,538.70
|
|
5
|
Rata2 jumlah R/ tiap
lembar resep.
|
27
|
4.59
|
|
6
|
Rata2 % resep yang mengandung
antibiotik.
|
27
|
80.63
|
|
7
|
Rata2 % resep yang mengandung
obat generik.
|
27
|
62.07
|
|
8
|
Rata2 % resep yang mengandung
injeksi.
|
27
|
6.02
|
|
9
|
Rata2 waktu pelayanan resep
(menit,detik)
|
27
|
16.70
|
|
10
|
Rata2 waktu pelayanan
konseling (menit,detik)
|
27
|
5.20
|
|
11
|
Obat Kadaluwarsa
|
27
|
0.70
|
|
12
|
Obat rusak
|
27
|
0.56
|
|
13
|
Obat hilang (pencurian)
|
27
|
0.11
|
c. Pembinaan dan Pengawasan Produksi
dan Distribusi Sediaan Farmasi dan Perbekalan Kesehatan lainnya.
Tabel
: Jumlah sarana farmasi di Jawa Tengah Tahun 2004.
|
No
|
|
2000
|
2001
|
2002
|
2003
|
2004
|
|
A.
|
OBAT
|
|
|
|
|
|
|
|
1. Industri Farmasi
|
25
|
25
|
25
|
25
|
25
|
|
|
2. PBF
|
170
|
202
|
207
|
220
|
258
|
|
|
3. PBF Bahan Baku
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
|
B.
|
KOSMETIKA DAN ALAT
KESEHATAN ( ALKES ).
|
|
|
|
|
|
|
|
1. Produsen Kosmetika
|
33
|
33
|
33
|
33
|
33
|
|
|
2. Produsen Alat Kesehatan
|
13
|
13
|
33
|
33
|
33
|
|
|
3. Produsen PKRT
|
35
|
35
|
35
|
35
|
35
|
|
|
4. Penyalur Alat Kesehatan
|
144
|
167
|
196
|
203
|
238
|
|
C.
|
OBAT
ASLI INDONESIA (OAI )
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
Industri OAI
|
10
|
11
|
11
|
12
|
12
|
|
|
2.
Industri Kecil OAI
|
184
|
185
|
194
|
202
|
235
|
Hambatan dan
masalah dalam pembinaan dan pengawasan sarana dan mutu sediaan farmasi sampai
saat ini, antara lain adalah :
Ø
Pembinaan dan pengawasan farmasi dan makanan yang belum optimal,
yang disebabkan : adanya variasi struktur organisasi dan tata laksana Dinas
Kesehatan Kab/Kota; petugas yang terlatih dimutasi atau promosi; koordinasi
dengan Balai Besar POM Semarang belum optimal; sinkronisasi antara Pusat,
Provinsi dan Kab/Kota belum optimal;
Ø
Cakupan pembinaan dan pengawasan pada sarana dan mutu sediaan
farmasi masih belum proporsional dan masih sangat rendah. Tahun 2004 pembinaan
hanya dilakukan pada PBF dengan cakupan hanya 20 PBF atau 9 % saja.
Ø
Fungsi
pengawasan dari Dinas Kesehatan Provinsi belum optimal. Berdasarkan UU otonomi
daerah, Gubernur melimpahkan semua kewenangan di bidang kesehatan kepada Dinas
Kesehatan, akan tetapi fungsi pengawasan ini belum berjalan optimal antara lain
karena kurangnya tenaga PPNS di Dinas Kesehatan Provinsi dan sarana prasarana
pengawasan.
Ø
Peredaran
sediaan farmasi dan alat kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan atau
keamanan dan atau kemanfaatan, masih tinggi atau belum mencapai sesuai target
yang diharapkan. Tahun 2004, obat yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan
keamanan mencapai 2,43 %, kosmetika dan alat kesehatan 9,5 %, obat asli
Indonesia 41,84 %, dari total sampel yang disampling. Kondisi tersebut masih
sangat jauh dari target yang diharapkan, yaitu 1 %.
Ø
Penerapan
cara-cara produksi, distribusi dan pelayanan farmasi yang baik (Good
Manufacturing/Good Distribution/Good Dispensing Practices) juga
belum optimal.
Ø
Peran serta
masyarakat dan pihak swasta (produsen/distributor) dalam pengawasan farmakes dan
makanan belum optimal.
d. Peningkatan mutu dan
pemanfaatan obat tradisional, utamanya Obat Asli Indonesia.
Untuk
peningkatan mutu dan pemanfaatan obat tradisional, utamanya OAI , di Jawa Tengah
telah dilakukan suatu upaya yang komprehensif mulai dari
hulu (bahan baku) sampai ke hilir (pemanfaatan), melibatkan semua lintas sektor
tekait sesuai kewenangan, tugas dan kemampuan masing–masing, yaitu pembentukan
Institut Pengembangan Obat Asli Indonesia di Jawa Tengah, yang merupakan suatu
wadah pengembangan Obat Asli Indonesia di Jawa Tengah yang terdiri dari :
Ø
Pusat Kajian Budidaya Tanaman Obat, dengan leading sektor
: Dinas Perkebunan.
Ø
Pusat Kajian Simplisia dan ekstrak, dengan leading sektor
: Dinas Kesehatan.
Ø
Pusat Kajian Pengembangan obat dari bahan alam, dengan
leading sektor : LEMLIT UNDIP Semarang.
Pada
tanggal 26 Maret 2004, telah
dilakukan penandatanganan MOU antara Gubernur Jawa Tengah dengan
Rektor UNDIP Semarang, Nomor : 6 Tahun 2004 dan Nomor : 06/J07/KS/2004
tentang Pengembangan Obat Asli Indonesia di Jawa Tengah.
MOU yang telah ditandatangani akan ditindak lanjuti dengan Perjanjian
Kerjasama yang bersifat teknis mengacu pasal 87 UU 22 tahun 1989.
Untuk
kegiatan Pusat Kajian Simplisia dan Ekstrak,
sesuai rencana kegiatan untuk tahun 2004, telah dilaksanakan kegiatan :
Pembentukan struktur organisasi, Tupoksi, Tata laksana dan Personalia ;
Penyusunan Rencana Kerja dan Koordinasi lintas sektor / antar pusat kajian
Pengembangan mutu obat tradisional,
khususnya OAI kearah Fitofarmaka pada tahun 2004 meliputi kegiatan :
Ø
Penyediaan Bibit unggul tanaman obat.
Kerjasama dengan APTO dan BPTO Tawangmangu
Tabel
: Penyediaan bibit unggul tanaman obat yang meliputi tanaman :
|
NO.
|
NAMA
TANAMAN
|
JUMLAH
|
KET.
|
|
|
INDONESIA
|
LATIN
|
|
Kg
|
|
1
|
Jahe
Emprit
|
Zingiber
Officinale Roxb
|
12.000
|
,,
|
|
2
|
Temu
Lawak
|
Curcuma
Xhantorriza Roxb
|
12.000
|
,,
|
|
3
|
Kunyit
|
Curcuma
Domestica Val
|
10.000
|
,,
|
|
4
|
Kencur
|
Kaemferia
galanga L.
|
10.000
|
,,
|
|
5
|
Lempuyang
|
ZingiberAromaticum
Val.
|
200
|
,,
|
|
6
|
Kunci
|
Roesenbergia
Pandarata Roxb.
|
200
|
,,
|
|
7
|
Temu
Ireng
|
Curcuma
Aeroginosa Roxb.
|
200
|
,,
|
|
8
|
Daun
Dewa
|
Gynura
Pracnmbens Back.
|
200
|
,,
|
|
9
|
Tempuyung
|
Sonchus
Arvensis L.
|
100
|
Bibit
|
|
10
|
Remujung
|
Orthosipon
Spicatus BBS
|
100
|
,,
|
|
11
|
Keji
beling
|
Strobylanthus
Crispus BI.
|
100
|
,,
|
|
12
|
Cabe
Jawa
|
Piper
Retrofractum Vahl.
|
100
|
,,
|
|
13
|
Adas
|
Foeniculum
Vulgare MIII
|
200
|
,,
|
|
14
|
Jinten
|
Cateus
Amboinicus Leur
|
200
|
,,
|
|
15
|
Sirih
|
Piper
Betle
|
100
|
,,
|
|
16
|
Makuto
Dewa
|
Phateria
Macrocarpha Schleff
|
10
|
,,
|
Ø
Pelaksanaan Uji Klinis. Kerjasama dengan Lembaga Penelitian
UNDIP Semarang. Uji klinis dilakukan terhadap :
·
Sediaan Ekstrak
Herbal Penurun Kadar Asam Urat Darah
·
Formula
Androgenik Bu Ceng
·
Meniran sebagai
Fitofarmaka untuk Hepatitis A Akut
Ø
Fasilitasi
Teknis Cara Pembuatan OAI yang Baik.
1)
Pemenuhan standart secara umum meliputi semua aspek / komponen yang
dinilai diperoleh hasil sebagai berikut :
·
Sarana Produksi katagori Baik : 3
sarana ( 7 % )
·
Sarana Produksi dengan katagori Cukup : 12 sarana ( 29 % )
·
Sarana Produksi dengan katagori Kurang :
20 sarana ( 64 % )
2)
Dari 8 aspek / komponen yang dinilai, masing – masing :
|
No
|
ASPEK
YG DINILAI
|
PERSENTASE
PENCAPAIAN DARI 41 SARANA ( %
)
|
|
BAIK
|
CUKUP
|
KURANG
|
|
1
|
SDM
UMUM
|
12
|
31
|
57
|
|
2
|
Penanggungjawab
Teknis
|
7
|
29
|
46
|
|
3
|
Bangunan
/ ruang Produksi
|
34
|
48
|
18
|
|
4
|
Peralatan
|
7
|
47
|
46
|
|
5
|
Hygiene
dan sanitasi
|
|
|
|
|
|
-
Karyawan/ personalia
|
5
|
45
|
50
|
|
|
-
Bangunan
|
19
|
41
|
40
|
|
|
-
Peralatan
|
5
|
41
|
54
|
|
|
-
Bahan baku
|
35
|
50
|
15
|
|
6
|
Pengolahan
& Pengemasan
|
|
|
|
|
|
-
Pengolahan
|
5
|
42
|
51
|
|
|
-
Pengemasan
|
2
|
48
|
50
|
|
7
|
Pengawasan
Mutu
|
0
|
5
|
95
|
|
8
|
Evaluasi
|
|
|
100
|
|
9
|
Dokumentasi
|
|
|
100
|
|
10
|
Penanganan
Produk dipasaran
|
|
|
100
|
Untuk
meningkatkan pemanfaatan Obat Asli Indonesia dalam pelayanan formal, maka di
Jawa Tengah sejak tahun 2002 s/d tahun 2004 dilakukan penyediaan Obat Asli
Indonesia, yaitu Tensigard Kapsul. Hasil evaluasi pemanfaatan Obat Asli
Indonesia adalah sebagai berikut :
Tabel
: Pemanfaatan OAI di Pelayanan Formal.
|
No
|
|
Total
Diterima
|
Sisa
stock
|
Jumlah
Digunakan
|
Persentase
Penggunaan
|
|
1.
|
Jumlah Total
|
481.961
|
351.370
|
130.591
|
706
|
|
2.
|
Rata-rata
|
15.547
|
11.334
|
4.212
|
22,77
|
|
3.
|
Angka terendah
|
283
|
204
|
1
|
0,07
|
|
4.
|
Angka tertinggi
|
90.600
|
90.000
|
33.000
|
88,52
|
|
5.
|
Kab/Kota terendah
|
Karanganyar
|
Kota
Tegal
|
Cilacap
|
Cilacap
|
|
6.
|
Kab/Kota tertinggi
|
Kab.
Tegal
|
Kab.
Tegal
|
Sukoharjo
|
Pemalang
|
Rata-rata persentase
penggunaan Tensigard Kapsul adalah sebesar 22,77 % dari total yang diterima.
C. Keuangan
Anggaran
untuk Pembiayaan Kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2004 berasal dari
berbagai sember sebagai berikut :
a.
APBD Kabupaten/Kota
Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota tahun 2004, jumlah anggaran
belanja yang dialokasikan untuk pembiayaan kesehatan sebesar Rp.
585.943.994.674,00 dari anggaran belanja keseluruhan Kabupaten/Kota sebesar RP.
10.573.157.941.690,00. Apabila dipersentasekan maka baru 5,55 % besaran
pembiayaan kesehatan dari seluruh pembiayaan Kabupaten/Kota. Data tersebut belum
termasuk Kota Tegal, Kota Salatiga, Kabupaten Banyumas, dan Kabupaten
Purbalingga.
b.
APBD Provinsi
Anggaran belanja Provinsi Jawa Tengah tahun 2004 sebesar Rp.
2.739.110.252.000,00 yang digunakan untuk membiayai seluruh bidang pemerintahan
dan unit organisasi perangkat daerah
termasuk Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah yang didalamnya terdapat UPTD,
yaitu BP4 Semarang, BP4 Klaten, BP4 Magelang, BKIM, Balai Laboratorium
Kesehatan, Akper Pemerinta Provinsi Jawa Tengah di Wonosobo, dan BPTPK Gombong.
Alokasi anggaran belanja SKPD Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun
2004 sebesar Rp. 85.918.298.000,00 terdiri atas belanja aparatur sebesar Rp.
33.048.958.000,00 dan belanja publik sebesar Rp. 52.869.340.000,00. Anggaran
APBD tahun 2004 untuk bantuan kesehatan ada yang melalui Biro Keuangan Setda
Provinsi Jawa tengah yaitu untuk pengembangan PKD sebesar Rp. 10.000.000.000,00
dan mendapatkan bantuan untuk pengembangan PKD dari INGUB sebesar RP.
630.000.000,00 sehingga untuk pengembangan PKD di kabupaten/Kota seluruhnya
berjumlah Rp. 10.630.000.000,00 yang keseluruhannya langsung diberikan kepada
Kabupaten/Kota.
Dengan demikian alokasi anggaran belanja dari APBD provinsi tahun 2004
yang digunakan untuk pembiayaan kesehatan sebesar Rp. 96.548.298.000,00. Bila
dibandingkan dengan seluruh anggaran Belanja Provinsi maka ini berarti baru 3,52
% dari anggaran belanja Provinsi Jawa tengah yang dialokasikan untuk membiayai
pelayanan kesehatan.
Adapun realisasi atau penyerapan anggaran belanja SKPD Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Tengah tahun 2004 dari Rp. 85.918.298.000,00 tersebut di atas
terserap sebesar Rp. 81.498.987.739,00 ( 94,86 % ) dengan rincian realisasi
belanja aparatur sebesar Rp. 30.138.101.404,00 ( 91,20 % ) dan realisasi belanja
publik sebesar Rp. 51.360.886.335,00 ( 97,15 % ).
Tidak terserapnya anggaran belanja SKPD Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
tengah sebesar Rp. 4.419.310.261,00 ( 5,14 % ) dikarenakan :
-
Adanya mutasi
pegawai Dinas Kesehatan sejumlah 59 orang ( 31 orang pindah, 11 orang pindah
masuk Jateng, 14 orang pension, dan 3 orang meninggal ).
-
Adanya sisa mati
anggaran pengadaan barang/jasa.
-
Adanya perbedaan
index harga pada pengalokasian/perhitungan di lembar kerja.
-
Adanya
penghematan pada beberapa jenis kegiatan antara lain : listrik, telepon, air,
pemeliharaan gedung tempat kerja, makanan dan minuman harian, rapar serta tamu.
-
Adanya beberapa
kegiatan yang tidak terlaksana dikarenakan diundur dan pelaksanaannya di akhir
bulan Desember sehingga peserta tidak jadi dikirim seperti seminar, konferensi,
dan kursus-kursus.
c.
Anggaran
Proyek APBN.
Pembiayaan kesehatan Jawa Tengah yang bersal dari Proyek APBN tahun 2004
sebesar Rp. 159.122.824.000,00 terdiri atas 4 Proyek dan 51 Bagian Proyek.
Realisasi penyerapan sebesar Rp. 145.720.159.358,00 ( 91,58 % ). Anggaran Proyek
APBN berasal dari :
-
Rupiah murni
sebesar Rp. 158.056.857.000,00 dari 4 Proyek dan 51 Bagian Proyek terserap
sebesar Rp. 144.800.247.228,00 ( 91,61 % ).
-
Pinjamam luar
negeri ( 2 Bagpro ) sebesar Rp. 1.065.967.000,00 dan realisasi penyerapan
sebesar Rp. 919.912.130,00 ( 86,30 % ).
Realisasi
penyerapan anggaran APBN yang belum maksimal dikarenakan :
-
DIP dan PO
terlambat cair.
-
Masih adanya
kegiatan-kegiatan yang diberi bintang.
Dari alokasi anggaran proyek APBN tahun 2004 sebesar Rp.
159.122.824.000,00 yang dikelola oleh Dinas Kesehatan Provinsi (4 Proyek dan 4
Bagpro) sebesar Rp. 42.947.824.000,00 terserap sebesar Rp. 35.379.560.405,00 (
82,38 % ), dengan rincian :
-
Rupiah murni ( 4
Proyek dan 4 Bagpro ) sebesar Rp. 41.881.857.000,00 terserap Rp.
34.459.648.275,00 ( 82,28 % ).
-
Pinjamam Luar
Negeri ( 2 bagpro ) sebesar Rp. 1.065.967.000,00 terserap Rp. 919.912.130,00 (
86,30 % ).
PLN
(Pinjamam Luar Negeri )
Droping APBN bersumber dana KFW pada Rumah sakit Dr. Kariadi Semarang
sebesar Rp. 12.756.326.680,00 terserap sebesar Rp. 5.657.451.500,00 ( 44,35 % ).
d.
Sumber lain
1)
Masyarakat/swasta
Pembiayaan kesehatan yang berasal dari masyarakat/swasta cukup besar,
namun sampai sekarang belum diketahui dengan pasti berapa besaran rupiahnya. Hal
ini memang sulit karena belum ada penelitian secara menyeluruh untuk mendapatkan
data tersebut.
2)
Droping Pusat
Droping anggaran dari Depkes RI bersumber dari KNCV untuk membiayai
kegiatan TB Paru di Provinsi jawa tengah tahun 2004 sebesar Rp.
8.534.910.040,00, terserap sebesar Rp. 6.942.719.887,00 ( 81,35 % ).
3)
JPS-BK / PKPS BBM
Alokasi dana JPS-BK / PKPS BBM pada Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah
tahun 2004 berasal dari saldo dana penunjang tahun 2003 sebesar Rp.
297.590.000,00 dan dana penunjang PKPS
BBM tahun 2004 yang diterima pada tanggal 5 Oktober 2004, sebesar Rp.
334.798.000,00, sehingga jumlah dana penunjang PKPS BBM tahun 2004 sebesar Rp.
632.388.000,00. Realisasi penyerapan sebesar Rp. 89.644.000,00 ( 14,18 % ).
Dana penunjang PKPS BBM tersebut digunakan untuk kegiatan promosi lewat
media masa/media cetak, pertemuan sosialisasi PKPS BBM, pemantauan dan
koordinasi serta untuk penyelesaian pengaduan masyarakat. Adapun kendala yang
dihadapi dalam pelaksanaan adalah :
-
Anggaran
terlambat, diterima bulan Oktober 2004.
-
Manlak tahun
2004 baru dapat disosialisasikan setelah bulan Oktober 2004.
-
Anggaran
berlanjut sampai tahun-tahun berikutnya ( tidak ada batas waktu ), sehingga
merupakan hambatan untuk merealisasikan kegiatan karena sudah
dipertanggungjawabkan final.
Dengan demikian seluruh anggaran yang diperuntukkan bagi pembiayaan
kesehatan di Provinsi Jawa tengah ( termasuk Kabupaten/Kota ) pada tahun 2004
sebesar Rp. 747.363.741.394,00 dengan rincian :
1)
APBD Kab/Kota
: RP. 585.943.994.674,00
2)
APBD Prov. Jateng
: Rp. 95.918.298.000,00
3)
Dana INGUB
: Rp.
630.000.000,00
4)
Proyek APBN dikelola
: Rp. 42.947.824.000,00
5)
PLN di RSDK Semarang
: Rp. 12.756.326.680,00
6)
Sumber lain
- KNCV
: Rp. 8.534.910.040,00
-
PKPS BBM