BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 71 Tahun 2004 terdiri dari 9 Kewenangan Wajib, 26 jenis pelayanan wajib dan 63 indikator kinerja. Disamping itu terdapat 8 indikator kinerja yang wajib untuk Kabupaten/Kota tertentu.

Tabel 3.1

Pencapaian Kewenangan Wajib

Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan

Provinsi Jawa Tengah Tahun 2006

 

No

Kewenangan wajib

Jumlah Jenis pelayanan

Capaian jenis pelayanan terhadap target 2005

Persentase

1

Pelayanan kesehatan dasar

6

3

50

2

Perbaikan Gizi Masyarakat

2

1

50

3

Pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang

2

2

100

4

Pemberantasan penyakit menular

7

3

42,86

5

Kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar

3

2

66,67

6

Promosi kesehatan

1

0

0

7

Pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif

1

1

100

8

Pelayanan kefarmasian

2

1

50

9

Penyediaan pembiayaan dan jaminan kesehatan

2

1

50

 

Jumlah

26

14

53,84

 

Kewenangan wajib standar pelayanan minimal bidang kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2006 yang mencapai 100% (semua jenis pelayanan mencapai target) terdapat pada kewenangan wajib pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang dan pada kewenangan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif sedangkan 7 kewenangan wajib lainnya tidak semua jenis pelayanan mencapai target bahkan terdapat 1 kewenangan wajib yang di bawah target (semua jenis pelayanan tidak mencapai target) yaitu pada kewenangan wajib promosi kesehatan.

Jenis pelayanan standar pelayanan minimal bidang kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2006 yang mencapai 100% (semua indikator mencapai target) sebesar   53,84 % (14 Jenis pelayanan). Disamping itu masih ditemukan pencapaian di bawah target yaitu pelayanan imunisasi, pelayanan kesehatan jiwa, pemberantasan dan pencegahan penyakit TB paru, pemberantasan dan pencegahan penyakit ISPA , pengendalian vektor dan pelayanan penggunaan obat generik.

Pencapaian indikator kinerja standar pelayanan minimal bidang kesehatan yang  wajib untuk Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah tahun 2006 terhadap target tahun 2005 adalah 68,25 % atau 42 indikator dari 63 indikator telah mencapai target. Pencapaian tersebut dibandingkan tahun 2004 dan 2005 mengalami peningkatan. Tahun 2005 sebesar  58,73 % atau 37 indikator dari 63 indikator telah mencapai target; dan tahun 2004 sebesar 55,55 % atau 35 dari 63 indikator telah mencapai target.

Kabupaten/Kota dengan pencapaian indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal lebih dari 80 % indikator dicapai oleh Kota Magelang (82 %), Kota Pekalongan (82 %) dan Kota Surakarta (81 %).

Pencapaian  indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal tahun 2006 ini dibandingkan dengan target 2005 karena tahun 2005 sebagai data dasar pencapaian Indonesia Sehat 2010. Pencapaian indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kabupaten /Kota di Jawa Tengah tahun 2006 terhadap target 2005 secara rinci sebagai berikut :

1.      Pencapaian ≥ 70 %

Kabupaten/ Kota yang telah mencapai target  ≥ 70 % sebanyak 16 Kab/Kota   (45,71 %) yaitu Kabupaten Banyumas , Purbalingga, Purworejo, Kab. Magelang, Boyolali, Klaten, Karanganyar, Sragen, Rembang, Pati, Kudus, Jepara, Kota Magelang, Kota Surakarta, Kota Semarang dan Kota Pekalongan. 

2.      Pencapaian 60 – 70%

Kabupaten/Kota yang mencapai target antara 60 - 70 %  sebanyak  15 Kab/Kota ( 42,9 % ) yaitu Kabupaten Cilacap, Banjarnegara, Wonosobo, Sukoharjo, Wonogiri, Demak, Kab. Semarang, Temanggung, Kendal, Batang, Kab. Pekalongan, Pemalang, Kab. Tegal, Brebes dan Kota Salatiga.

 

3.      Pencapaian 50 – 60%

Kabupaten/Kota yang mencapai target antara 50 - 60 %  sebanyak 4  Kab/Kota ( 11,4 %) yaitu Kabupaten Kebumen, Grobogan, Blora dan Kota Tegal.

 

3.1.            KEWENANGAN WAJIB PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN DASAR

Kewenangan Wajib Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Dasar terdiri dari 6 jenis pelayanan yaitu Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi, Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah dan Usia Sekolah, Pelayanan KB, Pelayanan Imunisasi, Pelayanan Pengobatan/Perawatan dan Pelayanan Kesehatan Jiwa.

Pada tahun 2006 pencapaian rata-rata Jawa Tengah untuk KW Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Dasar belum mencapai target karena baru 50% atau 3 dari 6 jenis pelayanan dalam KW ini telah mencapai target 2005, yaitu Jenis Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi, Pelayanan KB dan Pelayanan Pengobatan/Perawatan. Untuk Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah dan Usia Sekolah, Pelayanan Imunisasi dan Pelayanan Kesehatan Jiwa belum memenuhi target 2005.

Dalam 6 jenis pelayanan pada KW Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Dasar terdapat 15 indikator kinerja SPM, dimana pada tahun 2006 pencapaian rata-rata Jawa Tengah sebesar 66,7 % atau 10 indikator dari 15 indikator telah mencapai target 2005, yaitu 6 indikator kinerja pada jenis pelayanan Kesehatan ibu dan bayi (Cakupan kunjungan  Ibu hamil K4, Cakupan pertolongan persalinan oleh Bidan atau tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan, Ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk, Cakupan kunjungan neonatus, Cakupan kunjungan bayi dan Cakupan bayi berat badan lahir rendah / BBLR yang ditangani ); 1 indikator kinerja pada jenis Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah &  Usia Sekolah (Cakupan pelayanan kesehatan remaja), 1 indikator pada Pelayanan Keluarga Berencana (Cakupan peserta aktif KB); 2 indikator kinerja pada jenis pelayanan Pengobatan /Perawatan (Cakupan rawat jalan dan Cakupan rawat inap).

Sementara itu 5 indikator (33,3 %) yang belum mencapai target adalah Cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan prasekolah, Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih / guru UKS / Dokter Kecil, Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa TK, SLTP, SLTA  dan setingkat oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih /guru UKS / Dokter Kecil (jenis Pelayanan Kes. Anak Pra Sekolah &  Usia Sekolah), Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) (jenis pelayanan imunisasi) dan Pelayanan gangguan jiwa di sarana pelayanan kesehatan umum (jenis pelayanan kesehatan jiwa).  Penjelasan dari masing-masing jenis pelayanan sebagai berikut : 

 

3.1.1.      Jenis Pelayanan Kesehatan Ibu Dan Bayi   

Jenis pelayanan Kesehatan Ibu Dan Bayi terdiri dari 6 indikator kinerja yaitu Cakupan kunjungan Ibu hamil K4, Cakupan pertolongan persalinan oleh Bidan atau tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan, Cakupan Ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk, Cakupan kunjungan neonatus, Cakupan kunjungan bayi dan Cakupan bayi berat badan lahir rendah /BBLR yang ditangani.

Pada tahun 2006 secara rata-rata Jawa Tengah jenis pelayanan Kesehatan Ibu Dan Bayi telah mencapai target 2005, karena semua indikator pada jenis pelayanan ini telah mencapai target.  Apabila dilihat pencapaian per Kabupaten/Kota untuk jenis pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi  pada tahun 2006 sebanyak 21 Kabupaten/Kota ( 60 %) telah mencapai target, yaitu Kab. Banyumas, Kab. Banjarnegara,  Kab. Magelang,  Kab. Boyolali, Klaten, Wonogiri, Kab. Sragen, Kab. Grobogan, Pati, Kudus, Jepara, Demak, Kab. Semarang, Temanggung, Kab. Pemalang, Kab. Tegal, Brebes, Kota Surakarta, Kota Salatiga, Kota Semarang dan Kota Pekalongan.  Sedangkan 14 Kabupaten/Kota lainnya ( 40 %) masih belum masih belum semua indikator kinerja pada jenis pelayanan ini mencapai target.

Penjelasan dari masing-masing indikator kinerja pada jenis pelayanan ini sebagai berikut : 

1)      Cakupan kunjungan Ibu hamil K4

Cakupan Kunjungan ibu hamil K-4 adalah cakupan Ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal 4 kali sesuai dengan stαndar di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu ( paling sedikit empat kali, dengan distribusi pemberian pelayanan minimal satu kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur kehamilan ). Pelayanan yang dimaksud adalah pelayanan/pemeriksaan kesehatan bagi ibu hamil oleh tenaga kesehatan terampil (Dokter, Bidan, dan Perawat ), meliputi antara lain penimbangan berat badan, pemeriksaan kehamilan, pemberian tablet besi, pemberian imunisasi TT dan tensi.

Cakupan kunjungan ibu hamil K4 Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 adalah 88,78% dengan rentang antara yang terrendah 72,43% (Kabupaten Kebumen) dan yang tertinggi 99,61% (Kabupaten Pekalongan). Sebanyak 32 Kabupaten/Kota ( 91,43 % ) telah mencapai target 2005   (78 %).  Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purbalingga dan Blora tidak mencapai target 2005.

Secara rata-rata di Provinsi Jawa Tengah cakupan kunjungan ibu hamil K4 mengalami peningkatan dari tahun 2004 sebesar  82,74 % menjadi 84,65% pada tahun 2005 dan 88,78 % di tahun 2006.

 Grafik 1.  Cakupan Pelayanan Antenatal (K4)

Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 -  2006

 

2)      Cakupan  Pertolongan  Persalinan  oleh  Bidan  atau  Tenaga  Kesehatan  yang  Memiliki Kompetensi  Kebidanan

Cakupan Ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan ( Dokter dan Bidan, tidak termasuk oleh dukun bayi meskipun terlatih dan didampingi oleh bidan) tingkat Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 sebesar 86,09 % dengan kisaran rentang antara yang terrendah 69,32 % (Kabupaten Purbalingga) dengan yang tertinggi 97,29% (Kota Semarang).

Bila dibandingkan dengan target pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 (77 %),  maka terdapat 31 Kabupaten/Kota (88,57 %) telah berhasil mencapai target. Empat kabupaten/kota lainnya atau 11,4 % masih di bawah target, yaitu Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Blora.

Secara rata-rata di Provinsi Jawa Tengah cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan meningkat dari 80,40% pada tahun 2004 menjadi   81,36 % pada tahun 2005 dan 86,09 % pada tahun 2006.

Grafik 2. Cakupan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan

Di Provinsi Jawa Tengah tahun 2004 – 2006

 

3)            Ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk

Risiko tinggi pada ibu hamil adalah keadaan penyimpangan dari normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi, misalnya (Hb < 8 g%, Tekanan darah tinggi (sistole > 140 mmHg, Diastole > 90 mmHg, Oedema nyata, eklamsia, perdarahan pervaginam, ketuban pecah dini, Letak lintang pada usia kehamilan > 32 minggu,  letak sungsang pada primigravida, infeksi berat/sepsis, persalinan prematur.

Prosentase ibu hamil resiko tinggi adalah 20% dari jumlah ibu hamil yang ada di masyarakat. Ibu hamil  risiko tinggi dan komplikasi yang dirujuk tingkat Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 sebesar 55,48 %. Bila dibandingkan dengan target Ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 sebesar 25%, maka terdapat 24 kabupaten/kota (75 %) berhasil mencapai target.  Sedangkan 8 kabupaten/kota lainnya atau 25 % masih di bawah target yaitu Kabupaten Purbalingga, Wonosobo, Karanganyar, Blora, Kendal, Batang, Pemalang dan Kota Tegal. Sementara 3 kabupaten tidak tersedia data               ( Cilacap, Kebumen dan Purworejo).

Secara rata-rata di Provinsi Jawa Tengah cakupan ibu hamil resiko tinggi mengalami fluktuasi dari tahun 2004 sebesar  25,21 % menjadi 16,51 % pada tahun 2005 dan 55,48 % di tahun 2006.

 

 

 

 

 

Grafik 3. Cakupan Ibu Hamil Risiko Tinggi Yang Dirujuk

Di Provinsi Jawa Tengah tahun 2004 – 2006

 

4)            Cakupan kunjungan neonatus (0-28 hari)

Cakupan Kunjungan Neonatus (KN) adalah pelayanan kesehatan kepada bayi umur 0-28 hari di sarana pelayanan kesehatan maupun pelayanan melalui kunjungan rumah, sesuai dengan standar oleh Dokter, Bidan, Perawat yang memilki kompetensi klinis kesehatan neonatal, paling sedikit 2 kali, di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan ekslusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, kulit, dan pemberian imunisasi); pemberian vitamin K; Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM); dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan Buku KIA. 

Cakupan kunjungan neonatus tingkat Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 sebesar 95,71 %,  dengan rentang antara yang terrendah 66,35 % (Kabupaten Wonosobo) dengan yang tertinggi 100% (Kabupaten Magelang dan Kota Magelang).

Dari 34 Kabupaten/Kota yang tersedia data semua telah mencapai target 2005 ( 65 % ). Satu Kabupaten yang tidak tersedia data yaitu Kabupaten Purworejo. 

Secara rata-rata di tingkat Provinsi Jawa Tengah cakupan kunjungan neonatus mengalami peningkatan mulai tahun 2004 sebesar  89,65 % , tahun 2005 sebesar 93,49 % dan tahun 2006 sebesar 95,71 %.

 

 

 

 Grafik 4.  Cakupan Kunjungan Neonatus

Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 – 2006

 

5)      Cakupan kunjungan bayi (1-12 bulan )

Yang dimaksud adalah cakupan bayi yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh Dokter, Bidan, Perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan bayi, paling sedikit 4 kali.

Cakupan kunjungan bayi tingkat Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 sebesar 88,78 % dengan kisaran antara yang terrendah 60,41 % (Kabupaten Cilacap) dan yang tertinggi 100 % (Kabupaten Klaten, Batang dan Kota Surakarta). Sebanyak 93,75 % atau 30 Kabupaten/Kota telah berhasil mencapai target 2005 ( 65 %) . Sementara 3 kabupaten/kota tidak tersedia data yaitu  Kabupaten Purworejo, Kabupaten Rembang, Kota Magelang. 

Secara rata-rata di tingkat Provinsi Jawa Tengah cakupan kunjungan bayi mengalami fluktuasi dari tahun 2004 sampai dengan 2006, yaitu 88,62% pada tahun 2004, 93,65 % pada tahun 2005 dan  88,78 % pada tahun 2006.

Grafik 5. Cakupan Kunjungan Bayi

Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 – 2006

 

6)      Cakupan Bayi Berat Badan Lahir Rendah /BBLR yang ditangani

Yang dimaksud dengan bayi berat badan lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram yang ditimbang pada saat lahir sampai dengan 24 jam pertama setelah lahir. Penyebab terjadinya BBLR bisa karena ibu hamil anemia, kurang supply gizi waktu dalam kandungan, ataupun lahir kurang bulan.  Bayi yang lahir dengan berat badan rendah perlu penanganan yang serius, karena pada kondisi tersebut bayi mudah sekali mengalami hipotermi yang biasanya akan menjadi penyebab kematian.

Penanganan BBLR meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan ekslusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, talipusat, kulit, dan pemberian imunisasi); pemberian vitamin K; manajemen terpadu bayi muda (MTBM); penanganan penyulit/komplikasi/masalah pada BBLR dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan Buku KIA oleh Dokter, Bidan dan Perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan neonatal dan penanganan BBLR.

Prosentase bayi dengan berat badan lahir rendah di Provinsi Jawa Tengah tahun 2006 sebesar 1,78 % naik dibanding tahun 2005 (1,74 %) dan tahun 2004 (1,54 %).  Bayi dengan berat badan lahir rendah yang berhasil ditangani di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 sebesar 99,54 % dengan kisaran rentang antara yang terrendah 95,92 % dengan yang tertinggi 100%. Sebanyak 35 Kabupaten/kota ( 100 %)  telah berhasil mencapai target 2005 (25 %).  Secara rata-rata di Provinsi Jawa Tengah cakupan penanganan berat badan lahir rendah (BBLR)  mengalami peningkatan dari 74,32 % pada tahun 2004 menjadi 90,86% pada tahun 2005 dan 99,54 % pada tahun 2006.

Grafik 6.  Cakupan Penanganan  Beran Badan Lahir Rendah (BBLR)

Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 – 2006

3.1.2.      Jenis Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah Dan Usia Sekolah

Jenis pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah dan Usia Sekolah terdiri dari 4 indikator kinerja yaitu Cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan prasekolah, Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih / guru UKS / Dokter Kecil, Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa TK, SLTP, SLTA  dan setingkat oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih /guru UKS / Dokter Kecil, dan Cakupan pelayanan kesehatan remaja.

Pada tahun 2006 secara rata-rata Jawa Tengah jenis pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah dan Usia Sekolah belum mencapai target 2005, karena dari 4 indikator kinerja pada jenis pelayanan ini, hanya 1 indikator yakni Cakupan pelayanan kesehatan remaja yang sudah mencapai target 2005. Sementara 3 indikator lainnya yakni Cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan prasekolah, Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih / guru UKS / Dokter Kecil, Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa TK, SLTP, SLTA  dan setingkat oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih /guru UKS / Dokter Kecil; masih di bawah target.  

Apabila dilihat pencapaian per Kabupaten/Kota untuk jenis pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah dan Usia Sekolah pada tahun 2006,  baru 1 Kabupaten ( 2,86 %) yang telah mencapai target 2005, yaitu Kab.Wonosobo. Sedangkan 34 Kabupaten/Kota lainnya (97,14 %) masih belum semua indikator kinerja pada jenis pelayanan ini mencapai target.

Penjelasan dari masing-masing indikator kinerja pada jenis pelayanan ini sebagai berikut : 

1)            Cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan prasekolah

              ( 1 – 6 tahun )

Cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah yang dimaksudkan adalah cakupan anak umur 1 – 6 tahun yang dideteksi kesehatan dan tumbuh kembangnya  sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan (Dokter, Bidan dan Perawat), paling sedikit 2 kali per tahun.

Cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah tingkat Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 sebesar 53,44 % dengan kisaran antara yang terrendah 9,34 % (Kabupaten Blora) dan yang tertinggi 99,6 % (Kabupaten Wonosobo).

Bila dibandingkan dengan target deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 sebesar 65%, maka pada tahun 2006 terdapat 14 kabupaten/kota atau 41,17 % yang berhasil mencapai target, sedangkan 20 kabupaten/kota lainnya atau 57,14 % masih di bawah target, 1 Kabupaten tidak tersedia data (Jepara).

Secara rata-rata di Provinsi Jawa Tengah cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah mengalami peningkatan dari 52,10% pada tahun 2004 menjadi  53,44 % pada tahun 2005 dan 65 % pada tahun 2006.

Grafik 7. Cakupan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita dan Pra Sekolah

Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 – 2006

 

2)            Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih / guru UKS / Dokter Kecil

Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD dan setingkat adalah cakupan siswa kelas 1 SD dan setingkat yang diperiksa kesehatannya oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS/Kader Kesehatan Sekolah) melalui penjaringan kesehatan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih / guru UKS / Dokter Kecil di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 adalah  38,29 % , bila dibandingkan dengan target 2005 ( 75%) maka secara rata-rata belum mencapai target dengan rentang antara yang terbesar 100 % yaitu Kabupaten Wonosobo,  Kabupaten Pati, Kota Semarang dan Kota Pekalongan.

Kabupaten yang telah mencapai target tahun 2005 (75 %) sebanyak 10 Kabupaten/Kota atau  28,57 % yaitu selain 4 Kabupaten di atas antara lain Kabupaten Purbalingga (95,39%), Kab. Rembang (82,51 %), Kudus (94,09%), Kabupaten Temanggung (95,64%), Kabupaten Batang (83,76%), Kota Magelang (97,37 %).

Secara rata-rata di Provinsi Jawa Tengah Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih / guru UKS / Dokter Kecil mengalami penurunan dari tahun 2004 sebesar  57,05 %, menjadi 41,62 % pada tahun 2005 dan 38,29 % pada tahun 2006.

Grafik 8.  Cakupan Pemeriksaan Kesehatan Siswa SD Dan Setingkat

Oleh Tenaga Kesehatan atau Tenaga Terlatih

Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 – 2006

3)            Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa TK, SLTP, SLTA  dan setingkat oleh Tenaga kesehatan atau tenaga terlatih / guru UKS / Dokter Kecil        ( Kader Kesehatan Sekolah )

Persentase siswa TK, SLTP, SLTA, dan Setingkat yang diperiksa kesehatannya oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS/ kader kesehatan sekolah) paling sedikit 2 x setahun di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 sebesar 30,68 % dengan pencapaian maksimum (100%) diperoleh Kabupaten Wonosobo dan Kota Pekalongan; sedangkan pencapaian minimum diperoleh oleh Kabupaten Batang (2,32 %). Sementara Kab. Demak tidak tersedia data.

Kabupaten yang belum mencapai target antara lain disebabkan belum terbentuk TP UKS ditingkat Kabupaten / Kota sebagai wadah koordinasi kegiatan UKS serta belum adanya koordinasi lintas sektor seperti Diknas, Depag dan Depdagri.

Kabupaten yang telah mencapai target tahun 2005/2010 (80 %) sebanyak 3 Kabupaten/Kota atau  8,82 % yaitu  Kab. Cilacap (96,67 %), Kab. Wonosobo ( 100 %) dan Kota Pekalongan ( 100 %).

Secara rata-rata di Provinsi Jawa Tengah Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa TK, SLTP, SLTA  dan setingkat oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih / guru UKS / Dokter Kecil ( Kader Kesehatan Sekolah ) mengalami fluktuasi dari tahun 2004 sebesar 26,87 %, menjadi 36,42 % pada tahun 2005 dan 30,68 % pada tahun 2006.

Grafik 9.  Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa TK, SLTP, SLTA  dan setingkat

oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih/ guru UKS /Dokter Kecil

( Kader Kesehatan Sekolah ) Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 – 2006

4)            Cakupan pelayanan kesehatan remaja.

Cakupan pelayanan kesehatan remaja adalah cakupan siswa kelas 1 SLTP dan setingkat, SMU/SMK dan setingkat yang diperiksa kesehatannya oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS/kader kesehatan sekolah) melalui penjaringan kesehatan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Pencapaian rata-rata cakupan pelayanan kesehatan remaja di Provinsi Jawa Tengah tahun 2006 adalah 15,27 %, telah mencapai target 2005 ( 15 %). Pencapaian maksimum diperoleh di Kabupaten Purbalingga  (68,93 %), sedangkan pencapaian minimum diperoleh oleh Kabupaten Batang (1,38 %).

Kabupaten yang telah mencapai target tahun 2005 (15 %) sebanyak 18 Kabupaten/Kota atau  54,55 %.

Lima belas Kabupaten/Kota  yang belum mencapai target 2005 (15%) yaitu Kabupaten Magelang, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Demak, Temanggung, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, Kota Surakarta dan Kota Salatiga. Sedangkan 2 Kabupaten / Kota yang tidak tersedia data adalah Kabupaten Pati dan Jepara.

Secara rata-rata di Provinsi Jawa Tengah Cakupan pemeriksaan kesehatan remaja mengalami fluktuasi dari tahun 2004 sebesar 23,27 %, menjadi      23,94 % pada tahun 2005 dan 15,27 % pada tahun 2006.

Grafik 10.  Cakupan Pemeriksaan Kesehatan Remaja

Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 – 2006

 

3.1.3.  Jenis Pelayanan Keluarga Berencana

Jenis pelayanan Keluarga Berencana terdiri dari 1 indikator kinerja yaitu Cakupan peserta aktif KB. Pada tahun 2006 secara rata-rata Jawa Tengah jenis pelayanan ini telah mencapai target, karena indikator kinerjanya telah mencapai target 2005.

Apabila dilihat pencapaian per Kabupaten/Kota untuk jenis pelayanan KB pada tahun 2006 semua Kabupaten/Kota (100 %) telah mencapai target 2005.  Penjelasan dari indikator kinerja pada jenis pelayanan ini sebagai berikut : 

Cakupan peserta aktif KB

Cakupan peserta KB aktif  adalah cakupan peserta KB aktif dibandingkan dengan jumlah Pasangan Usia Subur di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Peserta KB Aktif (CU) yang dimaksud adalah akseptor yang pada saat ini memakai kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan atau yang mengakhiri kesuburan.

Pada tahun 2006 jumlah Pasangan Usia Subur ( PUS ) di Jawa Tengah sebanyak 6.173.063 meningkat dibanding tahun 2005 sebanyak  6.4960. Partisipasi masyarakat sebagai Peserta KB Aktif  tahun 2006 sebesar 4.752.993 (77 %) dari jumlah PUS sebanyak 6.173.063.

Sesuai Keputusan Gubernur Jawa Tengah No 71 Tahun 2004, direncanakan atau ditargetkan Cakupan Peserta KB Aktif pada tahun 2005 sebesar 60 %. Dan pada tahun 2010 meningkat menjadi sebesar 80 %.    

Apabila diamati pencapaian pada tahun 2006 dibandingkan dengan target tersebut secara rata-rata Jawa Tengah telah berhasil melampaui target tahun 2005 ( 60 % ), tetapi untuk mencapai target tahun 2010 (sebesar 80 %) masih harus meningkatkan Cakupan sebesar  3 % selama 4 tahun kedepan.

Pada tahun 2006 semua Kab/Kota telah melampaui target yang ditetapkan.

Secara rata-rata di Provinsi Jawa Tengah Cakupan peserta KB aktif mengalami fluktuasi dari tahun 2004 sebesar 77,65 %, menjadi 78,24 % pada tahun 2005 dan 77 % pada tahun 2006.

Grafik 11.  Cakupan Peserta Aktif KB

Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 – 2006

 

3.1.4.      Jenis Pelayanan Imunisasi

        Jenis pelayanan Imunisasi terdiri dari 1 indikator kinerja yaitu Desa / Kelurahan Universal Child Immunization (UCI). Pada tahun 2006 secara rata-rata Jawa Tengah jenis pelayanan ini belum mencapai target 2005, karena indikatornya masih di bawah target 2005. 

        Apabila dilihat pencapaian per Kabupaten/Kota untuk jenis pelayanan Imunisasi, sebanyak 17 Kabupaten/Kota ( 48,57 %) telah mencapai target 2005, yaitu Kab. Purworejo, Kab. Magelang, Kab. Boyolali, Klaten, Sukoharjo,  Karanganyar, Sragen, Pati, Kudus, Jepara, Demak, Temanggung, Batang, Kab. Pekalongan, Kota Magelang, Kota Surakarta dan Kota Pekalongan. Sedangkan 18 Kabupaten/Kota lainnya (51,43 %) masih belum semua indikator kinerja pada jenis pelayanan ini mencapai target.                    

        Penjelasan dari indikator kinerja pada jenis pelayanan ini sebagai berikut : 

Desa / Kelurahan Universal Child Immunization (UCI)

Desa atau Kelurahan UCI adalah desa/kelurahan dimana minimal 80% dari jumlah bayi yang ada di desa tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap. Imunisasi dasar lengkap pada bayi (0-11 bulan) meliputi : 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Polio, 3 dosis Hepatitis B, 1 dosis Campak.

Tujuan Program Imunisasi adalah menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan bayi, anak dan balita akibat penyakit  PD3I ( seperti penyakit TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, Polio, Hepatitis B dan Campak).

Cakupan imunisasi dasar lengkap bayi di Jawa Tengah dari semua antigen sudah mencapai target minimal nasional (85%), pencapaian dari tahun ke tahun mengalami peningkatan  bayi yang mendapat imunisasi dasar lengkap dengan jumlah sasaran pada tahun 2006 adalah 589.478 bayi, persentase imunisasi BCG (100,75%), DPT-1 (99,44%), DPT-3 (95,54%), Polio-4 (92,86%) dan  Campak (94,37%).

Grafik 12. Cakupan Imunisasi Bayi

Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 - 2006

Pencapaian UCI Desa di Jawa Tengah dari tahun 2004 sampai dengan 2006 mengalami fluktuasi yaitu pada tahun 2004 sebesar 82,08%, tahun 2005 sebesar 77,06% dan tahun 2006 mencapai 84,42%. Bila dibandingkan target tahun 2005 sebesar 86 %, pencapaian Desa / Kel. UCI tahun 2006 sebesar 84,42 %, belum mencapai target. Terdapat 17 Kabupaten/Kota ( 48,57 % ) Kabupaten/Kota yang telah mencapai target 2005. Cakupan desa/kelurahan UCI terendah di Kabupaten Rembang (50,68%) dan tertinggi Kota Surakarta dan Kota Magelang (100%). Pencapaian dan Pemerataan UCI Desa pada tahun 2005 Provinsi Jawa Tengah menurun di bandingkan tahun 2004 disebabkan karena pada tahun 2005 ketersediaan droping vaksin dari pusat tidak mencukupi dengan kebutuhan sasaran  setiap bulan.

Grafik 13. Cakupan Desa/Kelurahan UCI

Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 - 2006

 

3.1. 5.  Jenis Pelayanan Pengobatan / Perawatan

Jenis pelayanan Pengobatan / Perawatan terdiri dari 2 indikator kinerja yaitu Cakupan rawat jalan dan Cakupan rawat Inap. Pada tahun 2006 secara rata-rata Jawa Tengah jenis pelayanan Pengobatan/ Perawatan telah mencapai target, karena ke 2 indikator pada jenis pelayanan ini telah mencapai target 2005. 

Apabila dilihat pencapaian per Kabupaten/Kota untuk jenis pelayanan Pengobatan/Perawatan pada tahun 2006 sebanyak 34 Kabupaten/Kota (100 %) telah mencapai target 2005. Kabupaten Magelang tidak ada data.

Penjelasan dari masing-masing indikator kinerja pada jenis pelayanan ini sebagai berikut : 

 

 

   1)   Cakupan rawat jalan

Cakupan Rawat Jalan adalah cakupan kunjungan pasien rawat jalan baru di sarana pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Cakupan rawat jalan di sarana kesehatan di 34 kabupaten/kota yang melapor, yang tertinggi adalah di Kota Surakarta (237,21%), terendah di Kabupaten Batang (11,36%) dan rata-rata pencapaian Provinsi Jawa Tengah tahun 2006 adalah 68,24%. Sehinga bila dibandingkan dengan target tahun 2005 (10%) semua Kabupaten/Kota ( 100% ) telah memenuhi target. Kabupaten Magelang tidak tersedia data.

Pada 6 kabupaten/kota yaitu Kab Purbalingga, Wonogiri, Kab. Demak, Kota Magelang, Kota Surakarta dan Kota Salatiga, jumlah kunjungan rawat jalan pasien baru melebihi jumlah penduduk pada daerah tersebut, hal tersebut dimungkinkan dapat terjadi antara lain oleh karena kunjungan yang tercatat bukan hanya pasien baru, namun kunjungan kasus atau kesadaran pasien terhadap kesehatan makin meningkat, atau banyak pasien dari kabupaten/kota lain karena pada kabupaten/kota tersebut mempunyai jenis pelayanan yang tidak dimiliki oleh kabupaten/kota asal.

Grafik 14. Cakupan Rawat Jalan

Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 – 2006

    2)  Cakupan rawat inap

Cakupan Rawat Inap adalah cakupan kunjungan rawat inap baru di sarana pelayanan kesehatan swasta dan pemerintah di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Cakupan rawat inap di sarana kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2006 sebesar 4,18%, telah melampaui target 2005 sebesar 1 %. Cakupan yang terendah terjadi di Kabupaten Kebumen ( 1,01 %)  sedangkan yang tertinggi terjadi di Kota Salatiga ( 22,88 %). Bila dibandingkan dengan target 2005 semua kabupaten/kota sudah mencapai target.  Kabupaten Magelang tidak tersedia data.

Secara rata-rata di Provinsi Jawa Tengah cakupan rawat inap mengalami peningkatan dari tahun 2004 sebesar  3,55 % menjadi 3,98 % pada tahun 2005 dan 4,18 % di tahun 2006.

 Grafik 15.  Cakupan Rawat Inap

Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 -  2006

 

3.1.6.      Jenis Pelayanan Kesehatan Jiwa

        Jenis pelayanan Kesehatan Jiwa terdiri dari 1 indikator kinerja yaitu  Pelayanan gangguan jiwa di sarana pelayanan kesehatan umum. Pada tahun 2006 secara rata-rata Jawa Tengah jenis pelayanan ini belum mencapai target, karena indikator kinerjanya   belum mencapai target 2005.

         Apabila dilihat pencapaian per Kabupaten/Kota untuk jenis pelayanan Kesehatan Jiwa,  baru 2 Kabupaten/Kota ( 8,33 %) yang pencapaiannya telah memenuhi target 2005, yaitu Kab. Sragen dan  Demak. Sebanyak 22 Kabupaten/Kota ( 91,66 %) masih  di bawah target 2005, sementara 11 Kabupaten/Kota lainnya tidak tersedia data.   

 Penjelasan dari indikator kinerja pada jenis pelayanan ini sebagai berikut : 

       Pelayanan Gangguan Jiwa di Sarana Pelayanan Kesehatan Umum

Pelayanan Gangguan Jiwa di sarana Pelayanan Kesehatan Umum adalah kasus gangguan jiwa yang dilayani di sarana pelayanan kesehatan umum di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Pencapaian rata-rata pelayanan kesehatan jiwa di sarana pelayanan kesehatan umum  tahun 2006 sebesar 0,87 %. Bila dibanding target pelayanan Kesehatan Jiwa untuk kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 adalah 3% dari kunjungan kasus di sarana kesehatan, pada tahun 2006 Jawa Tengah belum mencapai target. Cakupan tertinggi tahun 2006 dicapai oleh Kabupaten Demak (5,96%), terendah di Kabupaten Temanggung (0,02%), sedang 11 kabupaten/kota tidak ada data. Dibandingkan dengan target 2005 (3%), hanya 2 Kabupaten/Kota     ( 8,33 % ) yang mencapai target yaitu Kabupaten Demak dan Kabupaten Sragen.

Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah masyarakat merasa kesehatan jiwa belum menjadi alasan penting untuk datang  berobat ke sarana kesehatan. Dari permasalahan tersebut, upaya yang perlu dilakukan adalah peningkatan pembinaan program kesehatan jiwa di sarana kesehatan pemerintah dan swasta, pelatihan/refreshing bagi dokter dan paramedis puskesmas terutama upaya promotif dan preventif, serta meningkatkan pelaksanaan sistem monitoring dan evaluasi maupun pencatatan pelaporan program kesehatan jiwa.

Pencapaian cakupan pelayanan kesehatan jiwa di sarana pelayanan kesehatan umum mengalami fluktuasi dari tahun 2004 sebesar 0,59 %, menjadi 0,45 % pada tahun 2005 dan 0,87 % pada tahun 2006.   

Grafik 16.  Cakupan  Pelayanan Kesehatan Jiwa Di Sarana Pelayanan

          Kesehatan Umum Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 – 2006

 

3.2.  KEWENANGAN WAJIB PENYELENGGARAAN PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT

Kewenangan Wajib Penyelenggaraan Perbaikan Gizi Masyarakat terdiri dari 2 jenis pelayanan yaitu jenis pelayanan Pemantauan pertumbuhan balita dan jenis pelayanan Gizi.

Pada tahun 2006 pencapaian rata-rata Jawa Tengah untuk KW Penyelenggaraan Perbaikan Gizi Masyarakat belum mencapai target, karena baru 50 % ( 1 dari 2 ) jenis pelayanan pada KW ini mencapai target 2005. Jenis Pelayanan Pemantauan Pertumbuhan Balita sudah mencapai target 2005, namun jenis pelayanan Gizi belum mencapai target.

Dalam 2 jenis pelayanan pada KW Penyelenggaraan Perbaikan Gizi Masyarakat terdapat 9 indikator kinerja SPM dimana pada tahun 2006  pencapaian rata-rata Jawa Tengah sebesar 55,6 % atau 5 indikator dari 9 indikator telah mencapai target 2005, yaitu  semua (3) indikator kinerja pada jenis pelayanan Pemantauan pertumbuhan balita (Balita yang datang dan ditimbang (D/S),  Balita yang naik berat badannya (N/D) , Balita Bawah Garis Merah ( BGM ), 2 indikator kinerja pada jenis pelayanan Gizi (Cakupan ibu nifas mendapat kapsul Vitamin A, Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe ).

Sementara 4 indikator (44,44 %) yang belum mencapai target pada KW ini termasuk dalan jenis pelayanan Gizi, yaitu Cakupan bayi (6-11 bulan) mendapat kapsul vitamin A 1 kali per tahun, Cakupan balita (12-59 bulan) mendapat kapsul vitamin A 2 kali per tahun, Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada bayi Bawah Garis Merah dari keluarga miskin dan Balita gizi buruk mendapat perawatan .

Penjelasan dari masing-masing jenis pelayanan sebagai berikut : 

 

     3.2.1. Jenis Pelayanan Pemantauan Pertumbuhan Balita

Jenis pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi terdiri dari 3 indikator kinerja yaitu Balita yang datang dan ditimbang (D/S),  Balita yang naik berat badannya (N/D) dan Balita Bawah Garis Merah ( BGM ).

Pada tahun 2006 secara rata-rata Jawa Tengah jenis pelayanan ini  telah mencapai target, karena semua indikator pada jenis pelayanan ini telah mencapai target 2005. 

Apabila dilihat pencapaian per Kabupaten/Kota untuk jenis pelayanan Pemantauan Pertumbuhan Balita pada tahun 2006 sebanyak 18 Kabupaten/Kota ( 51,43 %) telah mencapai target, yaitu Kab. Kebumen, Purworejo, Kab. Magelang, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Blora, Rembang, Jepara, Demak, Temanggung, Kab. Batang, Kab. Pekalongan, Kab. Brebes, Kota Salatiga dan Kota Semarang. Sedangkan 17 Kabupaten/Kota lainnya ( 48,57 %) masih belum semua indikator kinerja pada jenis pelayanan ini mencapai target.

Penjelasan dari masing-masing indikator kinerja pada jenis pelayanan ini sebagai berikut : 

1)      Balita yang datang dan ditimbang ( D/S )    

Cakupan balita yang datang dan ditimbang (D/S) adalah semua balita yang datang dan ditimbang berat badannya (D) di posyandu maupun di luar posyandu dibagi jumlah balita yang ada di wilayah Posyandu  (S) di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Cakupan Balita yang datang dan ditimbang ( D/S ) di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 adalah 75,66 % dengan rentang antara yang terrendah 52,85 % (Kota Tegal) dan yang tertinggi 92,75% (Kabupaten Sukoharjo). Sebanyak 31 Kabupaten/Kota (88,57 %) telah mencapai target 2005 (68 %).  Empat Kabupaten/Kota tidak tersedia data, yaitu Kabupaten Tegal, Grobogan, Pemalang, dan Kota Tegal.

Secara rata-rata Cakupan Balita yang datang dan ditimbang ( D/S ) di Provinsi Jawa Tengah  mengalami fluktuasi dari tahun 2004 sebesar  74,52 % menjadi 73,62 % pada tahun 2005 dan 75,66 % di tahun 2006.

 Grafik 17.  Cakupan  Balita Yang Datang Dan Ditimbang ( D/S )

Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 -  2006

 

2)    Balita yang naik berat badannya (N/D)          

Balita yang naik berat badannya (N/D) adalah Balita yang ditimbang (D) di Posyandu maupun di luar Posyandu yang berat badannya naik dan mengikuti garis pertumbuhan pada KMS di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Cakupan balita yang naik berat badannya di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 adalah 77,05 % dengan rentang antara yang tertinggi 87,53 % (Kabupaten Sukoharjo) dan yang terrendah 62,31% (Kota Tegal). Sebanyak 34 Kabupaten/Kota ( 97,14 % ) telah mencapai target 2005 (64 %). Kota Tegal belum mencapai target 2005.

Secara rata-rata di Provinsi Jawa Tengah cakupan Balita yang naik berat badannya (N/D) mengalami peningkatan dari tahun 2004 sebesar  75,03 % menjadi 76,84 % pada tahun 2005 dan 77,05 % di tahun 2006.

Grafik 18.  Cakupan Balita yang naik berat badannya (N/D)

 Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 -  2006

 

3)      Balita Bawah Garis Merah ( BGM )

Yang dimaksud Balita Bawah Garis Merah (BGM) adalah balita yang ditimbang berat badannya berada pada garis merah atau di bawah garis merah pada KMS.

Cakupan Balita Garis Merah (BGM) di  Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 sebesar 1,97 % dengan rentang antara 0,1 % (Kabupaten Jepara) dan 6,28 % (Kabupaten Wonosobo). Sebanyak 20 Kabupaten/Kota ( 57,14 % ) telah mencapai target 2005 (< 2 %). Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Karanganyar, Pati, Kudus, Kab. Semarang, Kendal, Pemalang, Kota Magelang, Surakarta, Kota Pekalongan dan Kota Tegal belum mencapai target 2005.

Secara rata-rata di Provinsi Jawa Tengah Cakupan Balita Garis Merah (BGM) mengalami fluktuasi  dari tahun 2004 sebesar  1,95 % menjadi 1,68 % pada tahun 2005 dan 1,97 % di tahun 2006.

 

 

 Grafik 19.  Cakupan Balita Garis Merah (BGM)

Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 -  2006

 

3.2.2.   Jenis Pelayanan Gizi

Jenis pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi terdiri dari 6 indikator kinerja yaitu Cakupan kunjungan Ibu hamil K4, Cakupan pertolongan persalinan oleh Bidan atau tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan, Cakupan Ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk, Cakupan kunjungan neonatus, Cakupan kunjungan bayi dan Cakupan bayi berat badan lahir rendah /BBLR yang ditangani.

Pada tahun 2006 secara rata-rata Jawa Tengah jenis pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi telah mencapai target, karena semua indikator kinerja pada jenis pelayanan ini  telah mencapai target 2005.

Apabila dilihat pencapaian per Kabupaten/Kota untuk jenis pelayanan Gizi, baru 2 Kabupaten/Kota (5,71 %) yang telah mencapai target 2005, yaitu Kabupaten Karanganyar dan Kudus. Penjelasan dari masing-masing indikator kinerja pada jenis pelayanan ini sebagai berikut : 

 

1)      Cakupan bayi (6-11 bulan) mendapat kapsul vitamin A 1 kali per tahun

Cakupan bayi (6-11 bulan) mendapat kapsul vitamin A 1 kali per tahun di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 sebesar 91,36 % dengan rentang antara yang terrendah 60,35 % (Kabupaten Cilacap) dan yang tertinggi 100 % (Kabupaten Sragen, Pati, Kudus, Kendal dan Kota Magelang). Sebanyak 27 Kabupaten/Kota   ( 81,82 % ) telah mencapai target 2005   (95 %).  Dua Kabupaten tidak tersedia data  ( Kab. Magelang dan Kab. Rembang ). 

Secara rata-rata Cakupan bayi (6-11 bulan) mendapat kapsul vitamin A 1 kali per tahun di Provinsi Jawa Tengah mengalami penurunan dari tahun 2004 sebesar  94,41 % menjadi  94,22 % pada tahun 2005 dan 91,36 % di tahun 2006.

 Grafik 20.  Cakupan Bayi (6-11 Bulan) Mendapat Kapsul Vitamin A

1 Kali per Tahun Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 -  2006

2)      Cakupan balita (12-59 bulan) mendapat kapsul vitamin A 2 kali per tahun. 

Cakupan balita (12-59 bulan) mendapat kapsul vitamin A 2 kali per tahun Di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 adalah 79,43 % dengan rentang antara yang terrendah 8,39 % (Kabupaten Banjarnegara) dan yang tertinggi 100 % (Kabupaten Kudus). Sebanyak 3 Kabupaten/Kota ( 8,82 % ) telah mencapai target 2005   (95 %), yaitu Kab.  Karanganyar, Kudus dan Kota Salatiga. 

Secara rata-rata Cakupan balita (12-59 bulan) mendapat kapsul vitamin A 2 kali per tahun di Provinsi Jawa Tengah mengalami penurunan dari tahun 2004 sebesar  81,93 % menjadi 80,43 % pada tahun 2005 dan 79,43 % di tahun 2006.

 Grafik 21.  Cakupan Balita (12-59 Bulan) Mendapat Kapsul Vitamin A

 2 Kali Pertahun Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 -  2006

 

 

3)     Cakupan ibu nifas mendapat kapsul Vitamin A.    

Cakupan ibu nifas mendapat kapsul Vitamin A di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 adalah    87,40 % dengan rentang antara yang terrendah 58,78 % (Kabupaten Kebumen) dan yang tertinggi 100 % (Kabupaten Jepara). Sebanyak 28 Kabupaten/Kota ( 82,35 % ) telah mencapai target 2005   (80 %). Kabupaten Kebumen, Blora, Kab. Semarang, Kendal, Batang, dan Kota Tegal belum mencapai target 2005. Sementara Kab. Magelang tidak tersedia data.

Secara rata-rata di Provinsi Jawa Tengah Cakupan ibu nifas mendapat kapsul Vitamin A  mengalami fluktuasi dari tahun 2004 sebesar  85,49 % menjadi  78,67 % pada tahun 2005 dan 87,40 % di tahun 2006.

 Grafik 22.  Cakupan Ibu Nifas Mendapat Kapsul Vitamin A

 Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 -  2006

 

4)         Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe.

Cakupan Ibu Hamil mendapat tablet Fe adalah cakupan Ibu hamil yang mendapat 90 tablet Fe selama periode kehamilannya di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Tablet Fe merupakan tablet tambah darah untuk menanggulangi Anemia Gizi Besi yang diberikan kepada ibu hamil.

Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 sebesar 82,98 % dengan rentang antara yang terrendah 34,65 % (Kabupaten Jepara) dan yang tertinggi 99,76 % (Kabupaten Pekalongan). Sebanyak 31 Kabupaten/Kota ( 88,57 % ) telah mencapai target 2005 (70 %).  Kabupaten Blora, Jepara, Kota Salatiga dan Kota Tegal belum mencapai target 2005.

Secara rata-rata Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe di Provinsi Jawa Tengah mengalami peningkatan dari tahun 2004 sebesar  74,46 % menjadi  77,32 % pada tahun 2005 dan 82,98 % di tahun 2006.

 Grafik 23.  Cakupan Ibu Hamil mendapat tablet Fe

 Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 -  2006

 

5)            Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada Bayi Bawah Garis Merah

             dari keluarga miskin.

Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada Bayi Bawah Garis Merah dari keluarga miskin di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 adalah 48,76 % dengan rentang antara yang terrendah 6,73 % (Kabupaten Wonosobo) dan yang tertinggi 100 % diperoleh sebanyak 24 Kabupaten/ Kota sebagaimana tabel terlampir. Sebanyak 27 Kabupaten/Kota ( 87,10 % ) telah mencapai target 2005 (90 %).  Kabupaten Banyumas, Wonosobo, Grobogan dan Pemalang belum mencapai target 2005. Sementara 4 Kabupaten yaitu Kab. Magelng, Wonogiri, Blora dan Rembang  tidak ada data.

Secara rata-rata Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada Bayi Bawah Garis Merah dari keluarga miskin di  Provinsi Jawa Tengah mengalami penurunan dari tahun 2004 sebesar  63,53 % menjadi 52,56 % pada tahun 2005 dan 48,76 % di tahun 2006.

 

 

 

 

 

 

Grafik 24. Cakupan Pemberian Makanan Pendamping Asi Pada Bayi BGM

Dari Keluarga Miskin Di Prov.  Jateng Tahun 2004 -  2006

 

6)          Balita gizi buruk mendapat perawatan .

Balita gizi buruk mendapat perawatan adalah balita gizi buruk (0 tahun sampai dengan 4 tahun 11 bulan), yang ditangani di sarana pelayanan kesehatan dan atau di rumah oleh tenaga kesehatan sesuai tatalaksana gizi buruk di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Balita gizi buruk mendapat perawatan di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 adalah 49,73 % dengan rentang antara yang terrendah 0,96 % (Kabupaten Boyolali) dan yang tertinggi 100 % (17 Kabupaten/Kota). Sebanyak 17 Kabupaten/Kota        (48,57 % ) telah mencapai target 2005 (100 %). Data secara rinci dapat dilihat pada tabel terlampir.

Secara rata-rata Balita gizi buruk mendapat perawatan di Provinsi Jawa Tengah mengalami penurunan dari tahun 2004 sebesar  52,31 % menjadi  51,52 % pada tahun 2005 dan 49,73 % di tahun 2006.

 Grafik 25.  Cakupan  Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan

Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 -  2006