sesli sohbet duvar kağıdı seslichat
HARI TEMBAKAU SEDUNIA
image image image image image image image image image image image image image image image image image image image image image image image image
  • KOMDAT 2017
    KOMDAT 2017  
  • LKJIP 2015-2016
    LKJIP DINAS KESEHATAN TAHUN...
  • IMUNISASI MR
      IMUNISASI MR  

Top New :

  SAYA BERANI SEHAT, Tes HIV - Obati - Pertahankan Pengobatan, LINDUNGI ORANG TERSAYANG DAR HIV.

HARI TEMBAKAU SEDUNIA

ROKOK ANCAM KITA DAN PEMBANGUNAN

(Hari tanpa tembakau sedunia 31 Mei)

Oleh : Rini Kusumasari,SKM Seksi P2 PTM Dinkes Jateng

Sampai saat ini rokok masih menjadi persoalan yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari Indonesia. Data dari Kementrian Kesehatan pada tahun 2017 menunjukkan bahwa prevalensi perokok di Indonesia pada usia >15 tahun meningkat sebesar 36,3% dibandingkan tahun 2005 yaitu 27%. Tidak heran jika Indonesia menjadi negara nomor 3 terbanyak jumlah perokoknya didunia setelah China dan India dengan konsumsi 220 milyar batang pertahun. China menduduki peringkat pertama negara dengan perokok terbesar di dunia sebanyak 30%, diikuti dengan India 11,2%, Indonesia berada di peringkat ketiga sebanyak 4,8%. Penduduk yang merokok 1- 10 batang per hari di Jawa Tengah sebanyak 62,7%.

Hari Tanpa Tembakau Sedunia diperingati di seluruh dunia setiap tanggal 31 Mei setiap tahunnya. Gerakan ini menyerukan para perokok agar berpuasa tidak merokok ( menghisap tembakau ) selama 24 jam serentak di seluruh dunia. Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian dunia mengenai penyebarluasan kebiasaan merokok dan dampak buruknya terhadap kesehatan. Diperkirakan kebiasaan merokok setiap tahunnya menyebabkan kematian sebanyak 5,4 juta jiwa. Negara-negara anggota WHO mencetuskan Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini pada tahun 1987. Dalam satu dasawarsa terakhir gerakan ini menuai reaksi baik berupa dukungan dari pemerintah, aktivis kesehatan dan organisasi kesehatan masyarakat. Di Indonesia pada tahun 2017 ini acara tersebut diperingati di Kawasan Wisata Kota Tua Jakarta, dengan tema besar yang diangkat tahun ini adalah “ Rokok Ancam Kita dan Pembangunan” 

Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kekawatiran akan peningkatan jumlah perokok di Indonesia yang terus meningkat terutama pada usia anak-anak dan remaja usia 15-19 tahun. Di antara remaja usia 13-15 tahun terdapat 20% perokok, dimana 41% diantaranya adalah remaja laki-laki dan 3,5% remaja perempuan. Jumlah tersebut bahkan meningkat dua kali lipat di tahun 2016 sebesar 23,1% dari sebelumnya 12,7% pada tahun 1995.

Data epidemi didunia menunjukkan tembakau membunuh lebih lima juta orang setiap tahunnya. Jika hal ini terus berlanjut diproyeksikan pada tahun 2020 terjadi 10 juta kematian, dengan 70% kematian di negara berkembang. Global Youth Tobacco Survey (GYTS) Indonesia tahun 2006 melaporkan 64,2% anak sekolah yang disurvey terpapar asap rokok selama mereka di rumah. Sebanyak 37,3% pelajar merokok, dan 3 diantara 10 pelajar pertama kali merokok sebelum berumur 10 tahun ( 30,9%).

Hari Tanpa Tembakau ini identik dengan Hari Tanpa Rokok atau Hari Tanpa Asap Rokok Sedunia. Hal ini banyak bukti negatif terutama masalah kesehatan kepada produk olahan tembakau yang biasa dikenal dengan “ Rokok “. Rokok merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya penyakit tidak menular seperti kardiovaskuler, stroke, penyakit paru obstruksi kronis, kanker paru, kanker mulut, dan kelainan kehamilan. Penyakit-penyakit tersebut merupakan penyebab kematian utama di dunia, termasuk di Indonesia. Menurut WHO rokok adalah pembunuh yang akrab ditengah tengah masyarakat, Setiap detik satu orang meninggal karena merokok. Rokok juga membunuh separuh dari masa hidup perokok dan separuh perokok mati pada usia 35 sampai dengan 69 tahun.

Rokok merupakan salah satu faktor risiko terjadinya Penyakit Tidak Menular (PTM) selain dari pola makan yang tidak seimbang, kurangnya aktifitas fisik, pengaruh alkohol dan stres. Asap rokok/ tembakau mengandung lebih dari 4.000 senyawa kimia, 43 dintaranya bersifat karsinogen. Tidak ada kadar paparan minimal dalam asap rokok/tembakau yang “aman”. Separoh lebih (57%) rumah tangga di Indonesia mempunyai sedikitnya satu perokok, dan hampir semua perokok (91,8%) merokok di rumah. Seseorang yang bukan perokok yang menikah dengan perokok mempunyai resiko kanker paru sebesar 20-30% dan mempunyai resiko penyakit jantung.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut Kementrian Kesehatan melakukan upaya advokasi dan sosialisasi penerapan Kawasan Tanpa Rokok di tujuh tatanan termasuk didalam lingkungan keluarga. Pengawasan dari lingkup terdekat merupakan cara yang efektif untuk menurunkan angka kecanduan rokok pada anak-anak dan remaja yang dapat mengancam kualitas generasi penerus.

Selain fokus pada program Kawasan Tanpa Rokok, inovasi terbaru yang diberikan oleh Kementrian Kesehatan adalah Layanan Konseling bebas pulsa do nomor 0800-177-6565. Layanan tersebut dapat digunakan oleh siapa saja yang ingin berkonsultasi terkait upaya berhenti merokok atau terkait kesehatan dari dampak rokok. Para penelepon dapat berkonsultasi pada hari senin s/d sabtu pokul 08.00-16.00 WIB. Diharapkan program ini dapat membantu mereka yang ingin berhenti merokok dengan keterbatasan akses dan waktu. Layanan ini telah diresmikan oleh Kementrian Kesehatan sejak tahun 2016 dan sudah mendapat respon positif dari masyarakat.

Kementrian Kesehatan tidak bisa berjalan sendiri, perlu adanya dukungan dari semua pihak dan lintas program maupun lintas sektor,lembaga swadaya masyarakat,stakeholder dan seluruh lapisan masyarakat. Dengan hadirnya program tersebut diharapkan pengendalian terhadap dampak buruk merokok dapat berjalan signifikan sehingga penurunan persentase perokok di Indonesia dapat menurun.

English French German Italian Portuguese Russian Spanish

Visit

Visitors
4
Articles
283
Web Links
4
Articles View Hits
2111086
driving theory test antalya rent a car